Guncang di Riau! Buya Gusrizal Gazahar Sindir Ulama Zaman Now: Berani ke Neraka demi Jabatan?

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, RIAU – Suasana pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau periode 2025–2030 yang berlangsung khidmat di sebuah hotel berbintang di Pekanbaru, Jumat siang, tiba-tiba berubah menjadi lautan perenungan mendalam. Bukan karena debat atau protes, melainkan karena rentetan kalimat tajam yang dilontarkan Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, yang hadir membawa “angin panas” dari pusat.

Acara yang sedianya berjalan formal dengan pembacaan baiat dan pengukuhan oleh Plt. Gubernur Riau Ir. H. SF Haryanto, justru menemukan puncaknya saat Buya Gusrizal naik ke mimbar. Dengan logat Minang yang kental dan gaya bertutur yang mengalir seperti ceramah khas beliau, Buya yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik dari Sumatera Barat itu tidak sekadar memberi sambutan. Ia seperti membedah “daging” persoalan keumatan yang selama ini mengganjal.

Semua mata tertuju. Para pengurus yang baru saja dilantik, para tokoh Forkopimda, hingga rektor-rektor perguruan tinggi yang hadir, semuanya terdiam. Mereka seperti sedang mengikuti kuliah dadakan tentang “Hakikat Keulamaan”.

“Kita Ini Sering Menghibur Diri…”

Buya Gusrizal membuka pidatonya dengan nada merendah, mengingatkan bahwa menyandang titel ‘ulama’ adalah beban luar biasa, bukan kebanggaan. “Masyarakat umum menggelari kita dengan ulama, walaupun kalau kita mau merenung, mungkin kita jauh dari persyaratan keilmuan dan kepribadian seorang ulama sejati. Kita ini hanya ulama badalul faqid – pengganti karena tidak ada yang lebih patut,” ujarnya membuka tabir realita.

Namun, justru di situlah letak bahayanya, menurut beliau. “Kita lupa diri. Kita lupa bahwa kita ini hanya tayamum. Kalau air sudah ketemu, tayamum itu batal. Tapi kadang setelah nyandang beban, baiat diucapkan, eh kita malah lupa daratan.”

Peringatan Keras untuk Pencari Jabatan

Tak sampai di situ, Buya Gusrizal melontarkan kritik yang menggelitik sekaligus menohok. Ia heran melihat fenomena di berbagai daerah, termasuk mungkin yang terjadi di Riau, di mana Musyawarah Daerah (Musda) MUI justru menjadi ajang rebutan kursi.

“Apa yang mau diperebutkan? Ini tanggung jawab! Saya heran kalau MUSDA MUI jadi ajang perebutan posisi. Ini bukan jabatan prestisius, ini jabatan mas’uliyah (tanggung jawab),” tegasnya dengan nada suara mulai tinggi.

Ia lalu mengutip hadis Nabi yang terkenal. Ketika Abu Dzar meminta jabatan, Rasulullah menjawab, “Innaha amanah, wa innaha khaziah wa nadamah yaumal qiyamah.” (Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan ia akan menjadi penyesalan dan kehinaan di hari kiamat).

Lalu, dengan nada sinis yang membuat hadirin tersenyum getir, ia melontarkan kalimat pamungkasnya.

“Orang sekarang berani menjawab soal agama tanpa ilmu, berani ngomong apa aja di mimbar. Padahal, siapa yang paling berani berfatwa, dia yang paling berani masuk neraka. Itu sudah jadi asar yang kita sebarkan, tapi ketakutan itu sekarang tidak muncul. Malah berebut fatwa, berebut bicara.”

Dari LGBT, Narkoba, hingga Dividen Bank yang Anjlok

Namun, sindiran Buya Gusrizal tidak melulu soal akhirat. Ia juga menyentil realitas duniawi yang harus dihadapi MUI Riau ke depan, persis seperti yang dipaparkan Ketua Umum MUI Riau terpilih, Dr. H. Saidul Amin, MA.

Pak Saidul Amin dalam sambutannya sempat membeberkan data mengejutkan. Di balik prestasi Riau sebagai provinsi dengan ekosistem syariah yang maju (Baznas terbaik se-Indonesia, BWI unggul), ada pekerjaan rumah besar: Riau adalah provinsi ke-4 terbanyak kasus narkoba di Indonesia, dan diskursus soal LGBT juga tak kunjung reda.

Bahkan, Plt. Gubernur Riau, SF Haryanto, yang harus meninggalkan acara lebih awal karena tugas ke Jakarta, sempat melontarkan “gunjingan” manis. “Dividen Bank Riau Kepri turun hampir 50 persen! Ini masalah tata kelola. Saya minta MUI yang usulkan komisaris dan direksi bank syariah ke depan. Kita selamatkan bersama,” ujar Gubernur sebelum pamit, meninggalkan pesan yang seolah-olah menjadi PR besar bagi pengurus yang baru dikukuhkan.

Jangan Cuma Mengangguk, Harus Bisa Menggeleng!

Menanggapi hal itu, Buya Gusrizal justru memberikan spirit. Ia mengingatkan bahwa MUI adalah mitra pemerintah yang sejati, bukan sekadar “tukang stempel” kebijakan.

“Ulama itu harus punya wibawa, punya izzah. Keris kita tuh di depan, bukan di belakang. Kalau keris di depan, kita tidak pandai membungkuk. Yang pandai cuma mengangguk, ya. Tapi kita harus bisa juga menggeleng kalau kebijakan itu mudarat bagi umat,” tegasnya, disambut anggukan setuju para hadirin.

Ia menganalogikan MUI sebagai “pengendali mobil” pemerintah. “Kita ini jadi pendorong gas, iya. Tapi kita juga remnya. Kalau jalanannya mencelakakan umat, injak rem, tahan dulu. Cari jalan yang selamat.”

Di akhir pidatonya, Buya Gusrizal Gazahar yang dikenal piawai merangkai kata itu menutup dengan pantun dan petuah Minang yang dalam: “Kalau picak telah boleh dilayangkan, bulat sudah patut digolongkan, langkah surut menjadikan pantangan… Walau rintangan datang menghadang, bersilang langkah hendak mematah. Kerikil penarung di tengah jalan, tak kayu jenjang dikapiang, tak ambua bungka diasah.”

Ia mengingatkan bahwa dalam sebuah organisasi, perbedaan itu pasti. “Bersilang kayu di tungku, makanya nasi jadi masak. Tapi jangan sampai dapurnya yang kebakar. Kembalikan semua pada niat: berkhidmat untuk umat.”

Acara pengukuhan yang dipandu oleh pembawa acara dengan tertib itu akhirnya usai. Tapi, pesan-pesan Buya Gusrizal sepertinya akan terus membekas di benak 69 pengurus MUI Riau yang baru. Mereka kini tidak hanya memikul amanah organisasi, tetapi juga “api” kritik yang dinyalakan dari pusat. Selamat bekerja, para ulama Riau. Jangan sampai tayamum Anda kering sebelum air datang.

Related posts