MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Fenomena seseorang yang menolak kebenaran meskipun bukti dan peringatan telah berulang kali dihadirkan kerap menjadi pertanyaan besar. Mengapa hidayah terasa begitu berat menghampiri, atau bahkan mudah pergi? Dalam tausiah Ramadhan yang penuh hikmah, Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengungkap faktor utama yang menjadi penghambat terbesar datangnya petunjuk Ilahi: kezaliman.
“Yang sering menghambat hidayah itu datang apa? Az-zul. Kezaliman,” tegas Buya mengawali ceramahnya.
Menurut Buya, gambaran orang yang terhalang hidayah adalah mereka yang hatinya telah sedemikian keras, enggan menerima nasihat kendati kebenaran sudah diantar hingga ke depan mata. “Padahal lah diantar nurang (cahaya). Hidayah itu kawal, lah dijalihkan alas senda (sudah diberikan dalil-dalilnya), lah diperingatkan akibatnya. Tapi bagaimana kalau hati Anda condong saja ke situ? Paham-paham saja masih menolak. Pakai ‘tapi’ saja. Itu disebabkan apa? Az-zul,” paparnya.
Buya Gusrizal lantas mengupas makna zalim secara mendalam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Wallahu la yahdil qawmas zalimin” (Allah tidak akan memberi hidayah kepada kaum yang zalim). Lalu, siapakah yang disebut zalim? Kezaliman terbagi menjadi dua jenis.
Pertama, zulm ala an-nafs (zalim terhadap diri sendiri). Ini mencakup perbuatan maksiat, kekufuran, dan kesyirikan. Buya mencontohkan Bani Israel yang durhaka kepada Nabi Musa, bahkan menyembah patung anak sapi. “Wama zalamuna walakin kanu anfusahum (mereka tidak menzalimi kami, tapi diri mereka sendiri yang mereka zalimi),” kutip Buya.
Namun, Buya memperingatkan bahwa ada jenis kezaliman yang jauh lebih berat risikonya. Yakni yang kedua, zulm ala an-nas (zalim terhadap orang lain). Bentuknya bisa berupa mengambil hak orang lain dengan cara batil, memakan harta secara tidak sah, hingga keputusan tidak adil yang merugikan pihak yang berhak.
Buya menekankan perbedaan krusial antara kedua jenis kezaliman ini. Kezaliman terhadap diri sendiri, seperti meninggalkan kewajiban atau berbuat maksiat, masih terbuka lebar pintu ampunan Allah. Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Buya bahkan mengutip doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah RA saat malam Lailatul Qadar: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai kemaafan, maka maafkanlah aku).
“Allah SWT, apabila hamba berbuat zalim atas dirinya, Allah menerima hamba itu kalau dia mengaku bersalah, bertaubat. Bahkan Allah bisa memberikan ampunan tanpa hamba itu bertaubat sekalipun, kecuali syirik,” jelas Buya.
Lain halnya dengan kezaliman terhadap sesama. Dosa ini tidak akan selesai hanya dengan istigfar atau linangan air mata. “Tidak bisa tuntas dengan model itu. Tidak selesai dengan cucuran air mata, walaupun bercucuran darah sekalipun. Kenapa? Karena Allah mengaitkan ampunan itu dengan ridha al-mazlumin (keridaan orang yang teraniaya),” tegas Buya.
Puncak peringatan Buya Gusrizal adalah tentang konsep kebangkrutan hakiki di akhirat, sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”
Orang bangkrut yang sesungguhnya bukanlah mereka yang kehabisan harta di dunia, melainkan umat yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, karena di dunia ia pernah mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain, maka pahala-pahalanya akan diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi. Jika pahalanya habis sebelum lunas, maka dosa-dosa orang yang dizalimi itu akan ditimpakan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke neraka.
“Makanya kalau kezaliman kepada orang lain, apalagi orang banyak, tidak bisa selesai dengan cara biasa,” tutup Buya mengingatkan, seraya mengajak jamaah untuk merenung dan membersihkan diri dari segala bentuk kezaliman, terutama terhadap sesama, di bulan suci yang penuh ampunan ini.






