Hubungan Adat dan Agama dalam Tradisi Kadarek di Nagari Tanjung Barulak

  • Whatsapp
Nagari Tanjung Barulak
Nagari Tanjung Barulak (Foto: IG @ariputraprtm)

Oleh: Dicky Vahrul Apsta

 Tradisi berasal dari bahasa latin traditio yang artinya kebiasaan atau diteruskan. Dalam artian luas tradisi adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dalam suatu kehidupan masyarakat. Tradisi merupakan gambaran sikap dan prilaku manusia yang telah berproses dalam waktu yang lama berdasarkan kepada kepercayaan terhadap nenek moyang dan leluhur yang telah mendahului. Kadarek artinya keluar, yaitu keluar dari rumah pada shubuh hari sebelum matahari terbit untuk berziarah ke kubur bagi kaum pria besok harinya setelah mayat dikuburkan.

Read More

Tradisi kadarek adalah tradisi upacara kematian atau ziarah kubur bagi kaum pria saja yang dilakukan di pagi hari sebelum sang fajar (matahari) muncul. Tradisi ini merupakan suatu kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan dalam tatanan adat di kenagarian Tajung Barulak yang telah ditradisikan dari dulunya sejak nenek moyang dan leluhur yang telah mendahului. Uniknya, tradisi ini hanya dilaksanakan bagi kaum laki-laki saja, sedangkan bagi kaum perempuan yang hanya pihak tuan rumah, cuma menunggu di atas rumah gadang dengan bekerja di dapur untuk memasak makanan supaya nanti pihak laki-laki setelah selesai berkegiatan di pusaro (kuburan) bisa untuk makan bersama nantinya di atas rumah sekalian untuk berdoa bersama. Tradisi ini merupakan kebiasaan yang hukumnya sunat dilakukan bagi kaum pria yang mampu.

Kegiatan yang dilakukan pada waktu kadarek itu bergotong royong bersama serta malatakan batu nisan dan juga di sekeliling kuburan dikasih papan sehingga berbentuk persegi panjang dan diatasnya baru ditaburkan bunga setelah selesai papan dan batu nisan di letakkan. Setelah selesai merapikan kuburan, maka di panjatkanlah doa bersama, yang mana sambah-manyambah pituah adat dimulai dengan awalnya dari pihak kemalangan (tuan rumah) dengan menyampaikan maav kalau almarhum ada salah dan hutang selama ini kepada seluruh yang datang berziarah dan juga pihak kemalangan meminta membacakan doa dari pihak tamu maka setelah itu pituahnya disambung kembali oleh pihak tamu (pendatang) yang menyampaikan maav juga jika ada salah dan hutang selama ini kepada almarhum dan pihak tamu(peziarah) mencari yang bisa membacakan doa bagi almarhum dan pihak yang ditinggalkan. Setelah selesai pihak tuan rumah mengajak seluruh pendatang (tamu) menaiki rumah dulu untuk makan bersama dan membacakan doa kembali untuk almarhum.

Tradisi kadarek adalah tradisi upacara kematian (ziarah kubur) di Minangkabau khususnya di kenagarian Tanjung Barulak yang dilakukan oleh kaum pria saja pada pagi hari setelah waktu shubuh. Dalam tradisi kadarek tersebut yang dilakukan disana adalah mendoakan mayat dan membersihkan dan merapikan kuburan tersebut sehingga indah dan sudah berbentuk kuburan yang sudah dihias oleh bunga-bunga dan sudah dikasih batu nisan. Kegiatan yang dilakukan utama disana adalah batagak batu nisan setelah itu baru dilaksanakan acara batagak gala jika almarhum tersebut memiliki gelar pusaka yang ditinggalkannya.

Maksudnya disini, kepada siapa gelar yang ditinggalkannya tersebut akan dikasihnya, dan siapa gelar tersebut yang akan membawakannya lagi. Jika mayat mempunyai gelar atau harta yang akan diwariskan maka itupun harus dilaksanakan pada saat itu juga ditempat tersebut agar semua kaum di kenagarian tersebut tahu dan mengenal secara pasti apa yang seharusnya tersebut. Dalam tradisi tersebut tuan rumah (pihak yang berduka) menyediakan beberapa carano atau pring yang berisikan srih didalamnya dan itu dilektakan di sekelilimng makam tersebut. Bertujuan untuk menampung sedekah yang diberi oleh para peziarah yang dating pda saat itu.

Tradisi kadarek di kenagarian Tanjung Barulak sudah menjadi kebiasaan yang telah mendarah daging bagi kaum pria disana. Anehnya, tradisi ini cuma adanya di kenagarian Tanjung Barulak saja, sedangkan di kenagarian-kenagarian sebelah ataupun selain kenagarian Tanjung Barulak tidak menganut tradisi tersebut. Tradisi kadarek ini merupakan ajaran Islam yang dihayati dalam pedoman hidup di wilayah Minangkabau, yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi yang telah melahirkan pola tingkah laku yang menghasilkan khasanah budaya Minangkabau adalah “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”.

Pada kenagarian Tanjung Barulak, ada sebuah tradisi unik yang sudah menjadi kebiasaan bagi setiap masyarakat kaumnya yaitu tradisi kadarek. Tradisi ini telah ada dari dahulu-dahulunya, dimana sudah sejak saat nenek moyang kita dahulunya. Sejak saat tatanan pemerintahan daerah sudah berubah ke nagari-nagari maka saat itu jugalah niniak-niniak mamak dan pemuka-pemuka adat dalam kaum kenagarian Tanjung Barulak tersebut, bermusyawarah untuk membicarakan akan hal tradisi itu yang mereka adakan di Kantor KAN Tanjung Barulak.

Tradisi kadarek di kenagarian Tanjung Barulak merupakan sudah kebiasaan yang telah mendarah daging bagi kaumnya di nagari tersebut. Dimana tradisi kadarek itu dilaksanakan pada shubuh hari (setelah sholat shubuh) menjelang matahari terbit bagi kaum pria di nagari itu. Tradisi kadarek itu adalah suatu tradisi kebudayaan yang memiliki nilai dan hubungan adat serta agama yang terkandung di dalamnya. Tradisi ini juga termasuk salah satu bagian kajian folklore yang memiliki hubungan kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun secara lisan.

Masyarakat Minangkabau selalu dikenal sebagai masyarakat yang senantiasa mempertahankan budayanya, namun selalu mencari peluang untuk mengembangkan diri dalam rangka perkembangan zaman tetapi tidak bertentangan dengan landasan syarak/agamanya. Sebagai masyarakat Minangkabau yang senantiasa peduli akan kebudayaan, banyak tradisi yang dijalankan mengarah kepada unsur agama islam yang khas orang Minangkabau. Sejak zaman dahulu sampai sekarang, di Minangkabau itu terus memiliki tradisi yang berkaitan dengan adat dan agama mereka, apalagi jika melihatnya lebih kepada setiap daerah-daerah di Minangkabau itu.

Falsafah ‘adat  basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ (adat bersandar syarak, syarak bersandar kitabullah/Al-Quran) selalu menjadi pegangan jika berbicara mengenai adat dan agama pada masyarakat Minangkabau. Adat dan agama seakan tidak dapat terpisahkan bagi sebagian besar masyarakat Minangkabau, karena keseharian perilaku yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau pada umumnya sangat berkaitan dengan agama Islam pula. Minangkabau itu sangat beraneka ragam akan metode adatnya, yaitu; adat nan taradat, adat istiadat, adat nan diadatkan, adat nan sabana adat dan adat salingka nagari. Tapi semua itu tidak bertentanggan dengan landasan atau pedomannya yaitu syarak/agama.

Jika kita mengkaji dari segi adat salingka nagari, yaitu adat yang berlaku hanya untuk disekitar kaum atau nagari itu saja. Adat ini dibuat dan disahkan oleh petinggi-petinggi kaum (pangulu salingka kaum, dan hal-hal yang bersamaan dengan itu), adat itu bisa berubah kapan saja tapi harus dimusyawarahkan terlebih dahulu dan itu dimusyawarahkan pada tempatnya yaitu kantor KAN (Kerapatan Adat Nagari). Pada kenagarian Tanjung Barulak, ada sebuah tradisi unik yang sudah menjadi kebiasaan bagi setiap masyarakat kaumnya yaitu tradisi kadarek. Tradisi ini telah ada dari dahulu-dahulunya, dimana sudah sejak saat nenek moyang kita dahulunya.

Sejak saat tatanan pemerintahan daerah sudah berubah ke nagari-nagari maka saat itu jugalah niniak-niniak mamak dan pemuka-pemuka adat dalam kaum kenagarian Tanjung Barulak tersebut, bermusyawarah untuk membicarakan akan hal tradisi itu yang mereka adakan di Kantor KAN Tanjung Barulak.

Dalam tradisi ini unsur agama ada didalamnya seperti upacara kematian yang mewajibkan untuk berziarah kubur dan juga untuk mendoakan mayat (almarhum) yang telah dikubur. Sedangkan unsur adatnya seperti adanya pituah-pituah adat dalam kegiatan itu dan juga hidup bersilahturahmi serta bermasyarakat. Hubungan adat dan agama dalam tradisi itu yaitu kaitan upacara kematian yang bernuansa islami yang didalamnya ada nilai-nilai adat yang dikemukakan dan dijadikan suatu tatanan adat dalam prospek adat salingka nagari khususnya di kenagrian Tanjung Barulak. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts