MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Buya Gusrizal, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI pusat, melontarkan pernyataan yang menghentak saat acara Monitoring dan Evaluasi (Monev) MUI Pusat di Sumatera Barat, Rabu (2/9). Ia membandingkan hubungan Majelis Ulama Indonesia dengan pemerintah bagaikan “genggam bara, teman setia yang mengingatkan.”
Dalam sambutannya, Sekjen MUI Pusat Buya Amirsyah Tambunan yang didampingi Wasekjen Ikhsann Tanjung dan Ir. H. Andi YH Djuwaeli, MRE, CWC, memimpin langsung Monev di Sumbar. Mereka bertandang untuk menilai langsung seberapa harmonis aplikasi hubungan ulama dan umaro di Ranah Minang. “Kedatangan kami ke Sumbar untuk melihat apakah hubungan itu harmonis. Itu masuk jadi penilaian Monev,” ujar Buya Amirsyah.
Hadir juga Ketum MUI Sumbar Buya Zulkarnaini, Sekum Ki Jal Atri Tanjung, Boyziardi dan sejumlah pengurus inti lainnya.
Sambutan Hangat Pemerintah: Keberkahan bagi Sumbar
Kehadiran tim Monev disambut antusias oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Jasman, Staf Ahli Pemprov Sumbar, secara blak-blakan mengakui bahwa pemerintah sangat membutuhkan banyak masukan dari para ulama. “Kedatangan para Buya adalah keberkahan bagi Sumbar,” ungkapnya dengan penuh hormat.
Pernyataan ini mencerminkan hubungan simbiosis mutualisme yang telah lama terjalin antara ulama dan umara di Sumatera Barat, sebuah daerah yang menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Ulama Bukan Bawahan, Tapi Mitra Sejajar
Buya Amirsyah Tambunan dalam berbagai kesempatan telah menegaskan bahwa MUI bukanlah lembaga “peminta-minta” atau sekadar bawahan pemerintah. Ia menekankan posisi MUI sebagai mitra sejajar (shadiqul hukumah) yang memiliki hak dan kewajiban setara dalam mendukung kebijakan publik demi kemaslahatan umat. MUI bahkan disebut memiliki hak anggaran karena tugasnya melayani umat, yang merupakan uang rakyat yang dikembalikan untuk kepentingan rakyat.
Pernyataan Buya Gusrizal tentang “teman setia yang mengingatkan” menggambarkan peran MUI yang kritis namun tetap bersahabat. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua Dewan Pertimbangan MUI, KH Ma’ruf Amin, bahwa MUI akan mendukung pemerintah ketika berada di jalur yang benar dan meluruskan ketika ada kekeliruan—bukan melalui kecaman, melainkan melalui tausiyah atau nasihat yang lahir dari rasa sayang terhadap pemerintah dan bangsa.
Makna “Genggam Bara”
Metafora “genggam bara” menggambarkan bagaimana ulama harus tetap dekat dan berdampingan dengan pemerintah meskipun kadang terasa “panas”. Mereka harus berani menegur dan mengingatkan, namun tetap dalam koridor persahabatan dan kebersamaan. Inilah yang disebut sebagai “teman setia yang mengingatkan”—tidak diam saat melihat kesalahan, tetapi juga tidak memusuhi atau menjauh.
Hubungan ini dinilai sangat krusial, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto bahwa persatuan ulama dan umaro adalah “kunci hidup makmur dan tenang” bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, masa depan bangsa ada pada eratnya genggaman tangan antara tokoh agama dan pemimpin pemerintah.
Monitoring dan Evaluasi: Menjaga Kemasan Hubungan
Monev yang dipimpin langsung Sekjen MUI ini bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hubungan antara MUI pusat dan daerah, serta memastikan sinergi antara ulama dan umaro tetap harmonis. Rombongan menilai sejauh mana kolaborasi telah berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kunjungan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, mulai dari ancaman radikalisme, LGBT, hingga korupsi yang dinilai telah menggerogoti kedaulatan bangsa.







