MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Hujan deras mengguyur Kota Padang, namun tak menyurutkan semangat ratusan jemaah yang memadati Masjid Al Hakim, Senin pagi, (29/6). Sebelum pukul 10.00 WIB, mereka rela basah kuyup demi mendengarkan tausiyah dari salah satu ulama kharismatik Ranah Minang, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., Datuak Palimo Basa.
Dalam kajian yang berlangsung khidmat tersebut, Buya Gusrizal yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025-2030 ini, menyampaikan pesan mendalam tentang pergeseran peran ulama dan pentingnya membangun pendidikan di atas fondasi tauhid .
Menggugat Pola Pendidikan: Kembali ke Konsep Tauhid
Mengawali tausiyahnya, Buya Gusrizal mengutip penggalan hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
“Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”
(Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya).
Beliau menegaskan bahwa hadis ini bukan sekadar status sosial, melainkan konsekuensi besar, terutama dalam pernikahan dan kepemimpinan keluarga . Tanggung jawab ini menuntut kesadaran bahwa setiap jiwa adalah pemimpin bagi dirinya dan keluarganya.
Buya menyoroti bahwa pendidikan yang dijalani Rasulullah SAW adalah pendidikan alami yang berbasis keteladanan, bukan formalitas belaka . “Ulama seharusnya hadir di tengah umat,” tegasnya. Namun, beliau menyayangkan adanya pergeseran peran. Tugas tarbiyah (pendidikan) ulama saat ini berbeda dengan pola kepemimpinan ulama terdahulu yang lebih dekat dan membimbing langsung masyarakat.
“Inilah yang harus diubah,” ujar Buya. Di mana pun dan kapan pun kita berbicara tentang Islam, orientasi dakwah dan pendidikan harus kembali pada hakikatnya.
Wasiat Rasulullah: “Jagalah Allah, Niscaya Dia Menjagamu”
Mengisahkan momen bersejarah, Buya mengingatkan jemaah tentang peristiwa ketika Rasulullah SAW membonceng Abdullah bin Abbas yang masih belia. Di atas kendaraan dalam perjalanan itu, Nabi menyampaikan wasiat agung yang sarat tauhid:
“Wahai anak muda, aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu…”
Ibnu Abbas yang saat itu masih kecil sudah diajarkan konsep “memelihara Allah” (ihfadhillaah) yang maknanya adalah melatih diri untuk senantiasa berzikir dan taat . Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan tauhid harus dimulai sejak dini.
Beliau juga mengupas makna Ifadhilah (menjalankan perintah Allah) yang berarti menghadirkan keagungan Allah dalam kalbu, serta kewajiban patuh (taat). “Pendidikan hari ini harus berdiri di atas konsep tauhid. Orientasi yang dibangun jangan materialistik,” pesannya.
Mengambil contoh tradisi merantau orang Minang, Buya mengingatkan pesan para leluhur: “Sepahit-pahit hidup, jangan pernah tinggalkan sholat.” Ini adalah bukti komitmen nilai-nilai tauhid yang diajarkan secara turun-temurun.
“Kita bukan kekurangan orang pintar, tapi kita kekurangan orang-orang yang berkomitmen pada nilai-nilai keislaman dan tauhid,” tandas Buya. Prinsip hidup harus tegak di atas iman, sebagaimana 25 nabi wajib diimani karena disebutkan dalam Al-Qur’an.
Pelajaran dari Lukman: Hakikat Syukur dan Hikmah
Mengutip Surat Luqman ayat 12, Buya menjelaskan tentang anugerah hikmah yang diberikan Allah kepada Lukman :
“Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri…'”
Makna syukur, menurut Buya, memiliki dua dimensi. Pertama, mengakui nikmat tanpa pengingkaran. Kedua, memuji Allah dengan mempergunakan pemberian-Nya sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaan. Lisan diciptakan untuk memuji Allah, mata diciptakan untuk melihat dan menambah keimanan.
Lebih lanjut, Buya menekankan konsep Anisykurlillah (bersyukur kepada Allah). Jika bersyukur kepada manusia, maka balaslah kebaikannya dengan doa dan perbuatan baik, namun hakikat syukur tertinggi hanya tertuju kepada Sang Pencipta.
Tausiyah yang menggugah ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya para pemimpin dan pendidik, untuk kembali mengokohkan fondasi tauhid dalam setiap aspek kehidupan. Di tengah badai hujan yang mengguyur, semangat jemaah justru membuktikan dahaga mereka akan ilmu dan bimbingan ulama yang istiqamah.






