Ibu, Ratu yang Tidak Bermahkota Namun Bertelapak Kaki Syurga

  • Whatsapp

“Assalamu’alaikum, Bu… Aku pulang.” Ucap Alfian bersemangat. Ia masuk ke dalam rumah mencari sosok ibu yang teramat dirindukan selama sepekan ini. Ya, dia hanya bisa bertemu ibunya sepekan sekali dihari Sabtu dan Ahad saat kuliahnya libur. Jarak tempuh antara rumah dan kampus yang cukup jauh membuat Alfian harus ngekos.

“Walaikum salam, Mas. Ibu di dapur,” Jawab ibu yang sangat hafal betul kebiasaan anaknya. Ia masih berjibaku menyajikan makanan kesukaan Alfian.

“Ibu, bagaimana kabarnya, hmm…? Aku sangat merindukan Ibu,” Tanya Alfian sambil memeluk ibunya dari belakang, ia pun menghujani wajah lelahnya dengan ciuman dan bergelayut manja.

“Alhamdulillah, Ibu sehat. Kamu masih seperti ini saja sih, Mas. Gak berubah. Kamu udah bujangan, lho. Sebentar lagi akan menikah masih seperti anak kecil saja.” Protes Sang ibu. Namun, di dalam hatinya ia merasakan kebahagiaan yang teramat besar. Karna Sang anak masih seperti bocah kecilnya.

“Ibu, Aku seperti ini karena sangat menyayangi Ibu. Ibu udah ga sayang sama Aku, kah? ”
“Lho, kasih sayang Ibu buat kamu itu ga pernah berkurang, Mas. Ya sudah, yuk kita makan. Kamu belum makan, kan?” Ibu tersenyum. Tangannya pun masih sibuk menyajikan makanan ke dalam piring-piring. Ia pun hendak membawanya ke meja makan.

“Ibu, biar Aku aja yang bawa makanan ini ke meja makan. Sekarang, Aku mau gendong Ibu dulu ke meja makan, ya!” Alfin pun dengan sigap menggendong ibunya ke dalam pelukannya dengan princess carry style, ia pun mengajak ibunya berkeliling rumah terlebih dahulu sebelum menuju ke meja makan

“Nak, Ibu masih bisa berjalan. Kenapa kamu selalu memperlakukan ibu seperti ini?”
“Supaya seperti Uwais Al Qorni, Bu. Dia sangat berbakti kepada ibunya. Hingga ia rela menggendong Sang ibu dari Yaman hingga ke Makkah untuk menunaikan haji. Dan Uwais Al Qorni menjadi seorang hamba yang doanya senantiasa dikabulkan oleh Allah. Aku ingin seperti itu.”

“Tapi Mas, apakah nanti kamu masih mau menggendong Ibu? Kalau suatu saat nanti Ibu tak mampu lagi berjalan sendiri dan saat kamu telah memiliki keluarga kecil? Hmm….”
“Iya, Insya Allah aku akan melakukannya buat Ibu. Aku kuat kok gendong Ibu. Mudah-mudahan istri dan anakku nanti ga cemburu ya, Bu?”

“Oalah… Gak apa-apa nanti Ibu pakai kursi roda saja, Mas. Ibu takut punggung kamu patah.” Ibu menanggapinya dengan guyonan untuk menutupi bahwa hatinya terenyuh mendengar ucapan Sang anak. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dalam relung jiwanya. Ia pun menitikkan air matanya.

“Semoga, Nak. Kelak kamu tak melupakan janjimu kepada Ibu. Semoga kelak kamu mendapatkan istri shalihah yang akan membantumu untuk tetap berbakti pada Ibu,” Batinnya.

Related posts