Indikator Orang yang Menang Selepas Ramadan

  • Whatsapp
Rezi Rahmat, M.Pd.
Rezi Rahmat, M.Pd.

Oleh: Rezi Rahmat, M.Pd.

Ramadan merupakan bulan tarbiyah. Pada bulan ini orang-orang yang beriman tidak hanya di didik dan dilatih untuk bisa menahan rasa haus dan lapar saja. Namun, mendidik manusia untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat Islam, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Walaupun dalam kondisi pandemi, tidak mengurangi dan menyurutkan niat untuk beribadah umat Islam. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya, “Puasa adalah perisai.” (H.R Bukhari)

Saat ini ramadan telah usai. Setiap umat muslim telah mencukupkan bilangan ibadah puasanya dan saatnya mereka mendapatkan kemenangan. Sebab telah sebulan penuh berjuang melawan godaan setan untuk tidak berpuasa dan berjuang untuk istiqamah melaksanakan ibadah. Mereka kembali kepada fitrah (suci), layaknya bayi yang baru dilahirkan, suci dan belum ada noda serta dosa sedikit pun. Seperti yang terdapat dalam sabda Rasulullah saw. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci.” (H.R Muslim).

Berlalunya ramadan menyisakan beberapa pertanyaan yang mesti menjadi renungan bagi setiap muslim. Apakah semua orang yang berpuasa memperoleh kemenangan dan kembali suci? Belum tentu, sebab ada yang berpuasa hanya sekadar ikut-ikutan. Maksudnya berpuasa karena terpaksa atau tidak. Ada juga yang berpuasa, namun ibadah shalat tidak ia laksanakan. Bahkan ada yang tidak berpuasa sama sekali, namun ia juga ikut merayakan lebaran. Maka yang mendapatkan kemenangan sebenarnya adalah orang-orang yang melaksanakan puasa dan mendirikan qiyamul lail pada bulan ramadan dengan penuh keikhlasan serta keimanan kepada Allah swt.. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw. “Barangsiapa yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan perhitungan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Menurut hemat penulis, lebaran dan merayakan hari kemenangan atau Idul Fitri memiliki makna yang berbeda. Merayakan lebaran boleh dilakukan oleh siapa saja, baik ia berpuasa atau tidak, tarawih atau tidak, dan lain sebagainya. Namun, merayakan kemenangan dan kembali fitrah hakikatnya adalah bagi mereka yang telah lulus pendidikan dan pelatihan selama ramadan. Mereka betul-betul berjuang dan diuji kesabarannya untuk melawan hawa nafsu dan sabar dalam menaati serta menjalankan ibadah selama bulan suci ramadan.

Setelah menamatkan pendidikan selama satu bulan penuh, maka tidak serta-merta menganggap diri kita sudah sepenuhnya menjadi pemenang dan kembali fitrah. Untuk mengetahui apakah benar-benar kita sudah menjadi pemenang setidaknya mest memiliki tiga indikator utama, yaitu:

Pertama, mendapatkan furqan. Orang yang beriman yang mendapatkan kemenangan selepas ramadan ditandai dengan adanya furqan (pembeda antara hak dan yang batil) yang Allah berikan kepadanya. Sebagaimana yang terdapat dalam al-quran surat al-Anfal ayat 29: “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.”(Q.S Al-Anfal: 29).

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Jalalayn mengatakan bahwa furqan merupakan petunjuk yang diberikan Allah kepada orang-orang yang bertaqwa, sehingga mereka dapat membedakan hal-hal yang membawa keselamatan dan hal-hal yang berbahaya untuk diri mereka.

Mereka yang kembali suci memiliki insting yang tajam untuk membedakan mana yang hak dan yang batil. Selama ramadan mereka telah dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi segala susuatu yang mendatangkan maksiat kepada Allah. Ibarat mata pisau yang diasah setiap hari, maka tidak akan ada karat sedikitpun dan menjadikan pisau sangat tajam. Seperti itulah rasa dan insting yang dimiliki oleh pemenang untuk membedakan antara benar dan salah.

Kedua, istiqamah dalam beribadah. Istiqamah artinya konsisten atau teguh dalam pendirian. Orang yang kembali fitrah adalah mereka yang konsisten dalam ibadahnya, meskipun ramadan telah usai. Selama ramadan mereka rajin beribadah, maka diluar ramadan mereka lanjutkan itu semua. Selama ramadan rajin berinfak dan sedekah, maka diluar ramadan mereka tetap menjalankannya.

Umat Islam diperintahkan untuk selalu istiqamah dalam beribadah oleh Allah Swt., sebab dengan istiqamah Allah akan menurunkan malaikat kepada mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam surga. (Q.S Fussilat: 30). Lebih dari itu, sikap istiqamah dalam beramal merupakan amalan yang paling dicintai Allah Swt. Sesuai dengan hadis Rasulullah saw. “Amalan yang palinh dicintai Allah Swt adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (H.R Ahmad dan Muslim).

Ketiga, terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Tidak hanya konsisten dalam beribadah, orang-orang yang mendapatkan kemenangan yang hakiki akan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah Swt.. Apalagi di bulan Syawal ini. Bulan peningkatan seluruh amal ibadah. Meningkat jumlah ibadah yang dilakukan baik ibadah fardu maupun yang sunnah. Tidak hanya dari segi jumlah, namun juga dari segi kualitas ibadah.

Inilah beberapa indikator yang perlu kita ketahui sebagai bahan renungan, apakah sudah mendapatkan kemenangan dan kembali fitrah? atau malah sebaliknya. Mudah-mudahan semua amal ibadah kita selama bulan ramadan tahun ini diterima oleh Allah Swt dan kita mendapatkan kemenangan yang hakiki. Aamiin. (*)

/* Penulis adalah penulis Buku Antologi Sepuluh Ribu Pantun Nasihat. 2) Permainan Tradisional Pembentuk Generasi Emas Indonesia. 3) Menjadi Generasi Milenial Rabani. 4) Pada Senja Aku Bersajak. 5) Keluarga dalam Pusaran Pandemi. E-mail: Rezi.rahmat37@gmail.com.

Related posts