Indonesia Seteru Ring Tinju Perang Dagang Amerika-China

  • Whatsapp
Ramon Hidayat (Foto. Dok. Istimewa)

Oleh: Ramon Hidayat

Perang dagang AS-China terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam perdagangan internasional kedua negara. Penaikan tarif bea masuk yang dilakukan oleh AS merupakan salah satu upaya membendung derasnya arus produk manufaktur China memasuki pasar dalam negeri AS. Meskipun langkah protektif AS telah merusak nilai-nilai kerja sama internasional yang bersifat multilateral, namun tidak banyak negara yang ingin terlibat di dalamnya. ASEAN merupakan salah satu pihak yang menghindari keberpihakan dalam perang dagang ini dengan mengedepankan semangat dialog untuk mengakhiri ketidakjelasan sistem perdagangan internasional. Perang dagang ini berlangsung secara berhadap-hadapan (head to head) sehingga sulit diharapkan dapat diselesaikan secara bilateral dalam waktu dekat, namun dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat dunia.

Read More

Sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan karena Posisi Indonesia bisa dianggap sebagai epicentrum global. Indonesia merupakan salah satunya negara yang dilalui garis khatulistiwa yang memiliki kelengkapan sumber daya alam sumber energi berlimpah, kekayaan social-budaya, keragaman etnis, bahasa, agama, budaya. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki inilah maka Indonesia bisa di istilahkan sebagai “raw material” khususnya bagi sektor industri-industri dunia. Dominan Indonesia pada perairan (laut) mencapai 40 persen jalur perdagangan melintasi bentangan laut Indonesia, Ini artinya Indonesia masuk dalam rute “Sealane of Communications (SLOCs).

Dengan menguasai Indonesia, maka negara-negara yang berkepentingan dipastikan bisa mengendalikan geopolitic checkpoints di tingkat global. Siapa yang menguasai jalur perlintasan di Indonesia, maka dia akan menguasai pasar, Seolah Indonesia sebagai Ring Tinju antara Amerika-China. Perlunya penetrasi Negara dengan melakukan (1) kebijakan kontrasiklus, Dalam kondisi eksternal yang sulit, perekonomian domestik harus didorong. Kita tahu ruang fiskal terbatas karena menurunnya penerimaan negara. Karena itu, fokus stimulus fiskal kepada masyarakat yang memiliki kecenderungan mengonsumsi (marginal propensity to consume (MPC) yang tinggi dan kecenderungan mengimpornya (marginal propensity to import) rendah (2) Peningkatan konsumsi, akan mendorong produksi dalam jangka pendek. Akibatnya, investasi juga meningkat.

Menjadi titik tekan bahwa pemerintah Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil langkah serta memikirkan solusi dan mempercepat agenda-agenda yang telah ada agar siap menghadapi perang dagang. Pemerintah juga harus tetap memonitor perkembangan perang dagang sehingga kepentingan negara tetap bisa diwujudkan meskipun dengan adanya perang dagang, jangan Indonesia Menjadi Ring Tinju Seteru Amerika-China.

*// Penulis adalah Wasekjen PB HMI

Related posts