Ini 12 Pesan Buya Syafii Maarif Untuk Muhammadiyah dan NU

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA – Kabar duka datang dari keluarga besar PP Muhammadiyah. Buya Syafii Maarif meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Yogyakarta. Wafat pada usia 87 tahun, Jumat, (27/5/2022).
Namun jelang meninggal dunia, ada 12 Pesan Almarhum Buya Syafii Maarif untuk mempererat persatuan Lembaga Dakwah Persyarikatan Muhammadiyah dan Ormas Nahdatul Ulama dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia

1. Muhammadiyah-NU mesti bergandengan tangan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari segala macam tangan perusak, termasuk dari mereka yang memakai bendera agama.

Read More

2. Muhammadiyah-NU yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudera Nusantara sedalam-dalamnya.

3. Energi jangan lagi dikuras untuk memburu kepentingan pragmatisme jangka pendek. Islam terlalu besar dan mulia untuk hanya dijadikan kendaraan duniawi yang bernilai rendah.
Muhammadiyah-NU seharusnya tampil sebagai tenda besar bangsa dan negara.

4. Kedua kubu santri ini dalam kaitannya dengan masalah kenegaraan mesti mengubah paradigma berpikirnya untuk tidak lagi terjebak “berebut lahan” dalam kementrian tertentu yang dapat mempersempit langkah besar ke depan.

5. Sekiranya riak-riak kecil yang “agak aneh” yang menyusup ke dalam kedua Jemaah santri ini harus cepat disadarkan agar tubuhnya menjadi aman dan kebal terhadap serbuan ideologi impor yang sedang terkapar di tanah asalnya.

6. Apabila benteng Muhammadiyah-NU jebol ditembus infiltrasi ideologi impor dengan teologi kebenaran tunggal, maka integrasi nasional Indonesia, akan goyah dan oleng. Oleh sebab itu, kedua arus besar komunitas santri ini harus tetap awas dan siaga dalam menghadapi segala kemungkinan buruk itu.

7. Pertanyaannya kemudian adalah apakah generasi baru Muhammadiyah-NU yang lebih terbuka dan relatif punya radius pergaulan yang lebih luas bersedia keluar dari kotak-kotak sempit selama ini? Semestinya tidak ada alasan lagi untuk terus terkurung dalam lingkaran terbatas yang bisa menyesakkan napas dan sia-sia.

8. Muhammadiyah dan Nandlatul Ulama (NU) harus berpikir besar, saling membantu, dan saling berbagi.

9. Muhammadiyah-NU adalah benteng utama untuk membendung infiltrasi ideologi yang telah kehilangan perspektif masa depan untuk Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan.

10. Generasi Baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.

11. Untuk melangkah kepada tujuan besar dan mulia itu, Muhammadiyah dan NU mesti mengembangkan sikap-sikap yang lebih dewasa dan terukur dalam menghadapi isu-isu semasa yang kadang-kadang dapat mengundang salah paham yang tidak perlu.

Related posts