Ini Kata Ketua PWM Sumbar Soal Launching Buku Biography Tokoh Muhammadiyah Buya Samik Ibrahim

  • Whatsapp
Launching Buku Samik Ibrahim melalui Aplikasi Zoom, Sabtu, (21/8/2021).

MINANGKABAUNEWS.COM, PESISIR SELATAN — Ketua PW Muhammadiyah Sumbar Buya Dr Shofwan Karim Elhussein mengucap syukur telah dilaunchingnya Buku Biography Buya Samik Ibrahim.

Menurut Buya, Buya Samik Ibrahim tidak hanya tokoh Muhammadiyah semata tetapi juga pelopor Muhammadiyah di Kabupaten Pesisir Selatan. Peluncuran buku biography ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar meninjau tanah waqaf dari keluarga besar Buya Samik Ibrahim di Nagari Ampiang Parak, kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Ahad, (4/7/2021) lalu.

Read More

Dalam testimoninya, Buya Shofwan menjelaskan dalam surat QS. Muhammad ayat 7 menyatakan Wahai orang-orang yang beriman. Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Lanjutnya, Literasi sejarah lokal Muhammadiyah merupakan satu kesatuan dengan sejarah nasional Indonesia.

Buya Samik Ibrahim adalah tokoh Perintis Muhammadiyah di Pesisir Sumatera Barat. Beliau lahir tanggal 8 Agustus 1908 dan wafat 24 November 1978. Buya Samik Ibrahim berasal dari Nyiur Gading, Koto Baru Kambang, Kecamatan Lengajang, Kabupaten Pesisir Selatan.
Ketokohan Samik Ibrahim, dirinya menganggap Tahayul dan Syirik banyak tradisi Pesisir Selatan Ini juga membuat para Ninik Mamak dan alim-ulama konservatif tidak menyukai dirinya.

Adapun sejumlah tulisan baik ekspose media, web dan blog serta penerbitan buku sudah mulai marak di Muhammadiyah Sumbar. Buku biography Tokoh Muhammadiyah dari Padangpanjang, Pariaman dan sekarang Buya Samik Ibrahim dari Pessel dan menjadi penggerak Muhammadiyah berpusat di Kota Padang.

Buya Shofwan juga mengatakan penulis sejarah tokoh Fikrul Hanif, salah seorang di antaranya Penulis yang produktif, terutama yang bernuansa sejarah. Jauh sebelum Fikrul ada juga penulis Muhammadiyah seperti RBK Pahlawan Kayo, Adli Etek, Marjohan, Meiliarni Rusli, Nurman Agus, Bakhtiar, Adi Bermasa, Zaili Asril, Abdul Salam, Musriadi Musanif, Efriyoni Baikoeni dan lain-lainnya terus menggoreskan penanya menggali sejarah Muhammadiyah. Di samping Tokoh, mereka beberapa juga menulis sejarah gerakan dan amal usaha. RBK Pahlawan Kayo menulis buku 60 tahun UMSB dan Sejarah Masjid Taqwa Muhammadiyah Pasar Raya. Wakil Ketua PWM Sumbar Bakhtiar juga menulis Muhammadiyah dan Politik berkaitan PRRI dan dinamika tokoh dan gerakan Muhammadiyah awal 60-an. Selain itu Ketua Majelis Tabligh Abdul Salam juga menulis buku biography Buya Udin di Kota Pariaman.

Sekarang Efriyoni sedang menggarap buku Biografi Buya ZAS. Fikrul Hanif juga sedang merancang Buku Biografi H. Abdul Muin Saidi Ketua PDM Padang Panjang tahun 1963-1966. Dua tahun lalu Prof Zaim menulis biografi Ayah beliau yang juga Ketua PDM Padang Panjang awal 70-an.

“Sebetulnya banyak tokoh, AUM dan dinamika gerakan Muhammadiyah yang harus ditulis sebagai bagian literasi Muhammadiyah. Masa kelahiran, pertumbuhan, perkembangan dan kontemporer Muhammadiyah Minangkabau sejak tahun 1926 resmi berdiri di Padang Panjang,” kata Buya Shofwan Karim, Sabtu, (21/8/2021).

Buya menambahkan banyak tokoh Muhammadiyah lainnya tidak kalah pentingnya awal Sendi Aman Tiang Selamat tahun 1925 menyambut ide Muhammadiyah yang dibawa Dr Abdul Karim Amrullah, Ayah Buya Hamka. Ada juga tokoh Saalah Yusuf St Mangkuto dari Pitalah dan tokoh yang seide mendirikan Muhammadiyah di Padang Panjang awal tahun 1926.

Katanya, bila kita melompat ke pertengahan dan peralihan 60-an, ke-70-an dan 80-an ada tokoh papan atas masa tersebut, H. Harun El Maany di Kauman. Buya Haji Darwas Idris Imam Besar Masjid Taqwa Kota Padang. Belakangan Buya Malik Ahmad menetap di kampungnya mendirikan Yayasan Al-Hidayah di Kandang Ampek-Bukit di atas Lembah Anai. Ada adiknya Hasan Ahmad. Ada Buya Duski Samad. Sebelumnya ada Buya AR Sutan Mansur Selama di Minangkabau. Beberapa setelah itu ada Buya HAK Dt. Gunung Hijau. Buya Zul. Prof Nur Anas Jamil, Prof Azmi, Prof Rusydi AM. Prof Edi Safri,  Prof Dasman Lanin, dan banyak lagi yang lain.

“Begitu juga Tokoh Aisyiyah. Umi Hj. Syarifah Dinar. Umi Hj Rusfa, Ibu Mainar Hanif, Ibu Meiliyarni Rusli, dll. Di masing-masing kabupaten dan Kota di Sumbar, masih banyak lagi tokoh dan jasawan Muhammadiyah yang harus ditulis,” ujarnya

Pada Rakorpim di Lakitan, Oktober 2017 PWM sudah meneruskan pemberian penghargaan ke Tokoh Muhammadiyah dalam bentuk Muhammadiyah Award. Sebelumnya pada kisaran tahun 2005 hingga 2013 dan diteruskan beberapa tahun belakangan oleh UMSB memberikan penghargaan kepada Tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Mereka para tokoh itu merupakan mata rantai satu kesatuan lingkaran sambung menyambung dinamika gerakan Muhammadiyah Sumbar sejak tahun 1925 hingga sekarang, hendaknya semuanya itu menjadi ibrah, cemeti, elan vital bagi kita sekarang dan generasi mendatang.

“Di sinilah hakiki dari Launching Buku Buya Samik Ibrahim ini. Sebagai rajutan tak pernah putus persyarikatan dalam semua dedikasi kpd ummat dan bangsa untuk meninggikan kemuliaan Islam wal muslimin dalam siraman Rahmat dan ridha-Nya,” tutup Buya.

Related posts