Ini Rahasia Besar di Surah Yasin Ayat 70! Ternyata “Hidup” yang Dimaksud Bukan Sekadar Bernapas

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Sebuah pertanyaan menggelitik dilontarkan dalam sebuah tausiah Ramadhan: jika Al-Quran diturunkan untuk semua manusia yang bernyawa, mengapa Allah SWT secara khusus dalam Surah Yasin ayat 70 menyebutnya sebagai peringatan hanya untuk “orang yang hidup”? Pertanyaan ini membuka tabir makna kehidupan yang jauh lebih dalam dari sekadar bernapas.

Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, membongkar rahasia besar di balik Surah Yasin ayat 70. Dalam ceramahnya, ia mengungkapkan bahwa para ulama tafsir klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi sepakat menolak makna harfiah “hidup” dalam ayat tersebut. Lantas, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “orang yang hidup” itu?

Mari kita buka bersama Al-Quranul Karim, surat yang ke-36, yaitu surat Yasin. Tepat pada ayat yang ke-70. Ada sebuah pertanyaan besar yang sering luput dari perhatian kita saat membaca ayat ini. Pertanyaan itu datang langsung dari renungan mendalam para ulama tentang makna kehidupan yang sesungguhnya.

Dalam ayat sebelumnya, Allah SWT dengan tegas menyatakan, “Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya.” Lalu, apa yang beliau sampaikan? Allah menjawab, “In huwa illa dhikrun wa quranum mubin” — tidak lain hanyalah Al-Quran, sebuah peringatan dan kitab yang membuktikan kebenaran mutlak dari Allah SWT.

Nah, di ayat ke-70 ini, Allah menjelaskan tujuan Al-Quran diturunkan: “Liyunzira man kana hayya” — supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada siapa? “Man kana hayyan”, yaitu orang yang hidup.

Sekilas, ini tampak biasa saja. Tentu saja Rasulullah SAW diutus kepada manusia yang hidup, yang masih bernapas di muka bumi, bukan kepada kuburan atau orang mati. Faktanya, penduduk Mekkah yang pertama kali menerima dakwah semuanya adalah orang-orang yang hidup secara jasmani.

Lalu, di mana letak keistimewaan ayat ini? Mengapa Allah secara khusus menyebutkan “orang yang hidup” jika semua pendengar risalah itu memang hidup?

Di sinilah letak rahasia besar yang diungkap oleh para ulama. Ketika kita menelusuri lautan tafsir — mulai dari Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, Al-Baghawi, Ath-Thabari, hingga As-Sa’di — tak seorang pun ahli tafsir yang saya baca memahami kata “hidup” di sini sebagai sekadar kehidupan jasadiyah atau sekadar punya nafas. Mereka sepakat, ini bukan soal hidupnya jasad, karena itu sudah hal yang lumrah.

Lalu, kehidupan macam apa yang dimaksud?

Para ulama, termasuk yang disampaikan oleh Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “orang yang hidup” di sini adalah mereka yang hidup hatinya. Mereka adalah orang-orang yang hatinya bersih, akalnya sehat, dan jiwanya menerima kebenaran. Mereka tidak buta mata hatinya. Al-Quran turun sebagai peringatan, tetapi hanya akan meresap dan memberi manfaat kepada jiwa-jiwa yang masih “hidup” — yang masih punya daya tangkap terhadap iman.

Jadi, berapa banyak orang yang kita lihat berjalan, bernapas, dan tertawa di sekitar kita, tetapi di mata Allah mereka “mati”? Mereka mati hati karena kebenaran tak lagi mampu menyentuh relung jiwanya. Sebaliknya, berapa banyak orang yang mungkin secara fisik lemah, tetapi hatinya hidup benderang karena cahaya Al-Quran?

Maka, pesan dari ayat ini sangat dalam: Al-Quran adalah peringatan. Tapi peringatan ini hanya akan berarti bagi mereka yang masih memiliki “kehidupan” di dalam hatinya. Mari kita jaga hati kita agar tetap hidup, agar selalu haus akan peringatan dari Al-Quranul Karim.

Related posts