Inilah Asal Usul dan Sejarah Solok Selatan Sumbar yang Belum Banyak Diketahui

  • Whatsapp
Solok Selatan
Rumah Gadang di Solok Selatan (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Muhammad Fauzan 

Secara administrasi pemerintahan, Kabupaten Solok Selatan baru berdiri pada tanggal 7 Januari 2004 dan dianggap sebagai hari lahirnya Kabupaten Solok Selatan. Namun bukan berarti sejarah daerahnya sependek umur Kabupaten Solok Selatan. Daerah Solok Selatan memiliki sejarah yang cukup panjang, baik itu pada masa Kerajaan Minangkabau maupun pada masa kedatangan Bangsa Eropa di pantai barat Pulau Sumatera.

Read More

Daerah Solok Selatan telah eksis ketika pemerintahan Kerajaan Pagaruyung dan bias lebih awal lagi pada masa berdirinya Kerajaan Dharmasraya.Damste, seorang Controleur Belanda yang berkedudukan di Sijunjung pernah mengunjungi Nagari Abai dan menemukan bukti-bukti peninggalan seperti tumbak majopaik yang diperkirakan merupakan sisa-sisa Ekspedisi Pamalayu.

Pada masa Kerajaan Pagaruyung atau dalam konteks Minangkabau, di wilayah Solok Selatan tumbuh dua komunitas adat yakni Alam Surambi Sungai Pagu dan Rantau XII Koto. Alam Surambi Sungai Pagu merupakan satelitnya Kerajaan Pagaruyung.Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu bersama Inderapura dapat dikatakan sebagai sebagai kerajaan otonom khusus yang jauh dari intervensi Kerajaan Pagaruyung. Letaknya yang jauh dari pusat
Kerajaan Pagaruyunglah yang membuat kedua kerajaan ini dapat eksis dengan sedikit pengaruh Kerajaan Pagaruyung.

Rantau XII Koto dalam konteks Minangkabau masuk dalam rantau tradisional Minangkabau. Rantau ini merupakan satu dari kumpulan rantau tradisional Minangkabau yang sering disebut Rantau Nan VII Jurai. Rantau XII Koto masuk dalam rantaunya Luhak Tanah Datar. Dari dua wilayah adat tersebut, persinggungan masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu dengan dunia luar lebih intens jika dibandingkan dengan Rantau XII Koto. Intensnya hubungan Alam Surambi Sungai Pagu dengan dunia luar karena wilayahnya sampai ke pantai barat
Sumatera.

Wilayah Sungai Pagu yang paling intens bersinggungan dengan Bangsa Asing adalah wilayah pantai yang berada sepanjang Salido dan Air Haji yang merupakan rantau masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu yang saat ini masuk dalam administrasi Kabupaten Pesisir Selatan. Perkembangan penduduk di lembah Muara Labuh membuat masyarakat Sungai Pagu meluaskan wilayahnya ke daerah Pesisir Barat Sumatera dengan melintasi gugusan Bukit
Barisan. Daerah rantau Sungai Pagu ini kemudian dikenal dengan nama Pasisia Banda Sapuluh, menjadi daerah penting dalam perdagangan internasional. Bangsa lain, mulai dari bangsa Aceh hingga Belanda turut meramaikan perdagangan dan seringkali membawa pengaruh besar pada sektor ekonomi, politik, sosial dan budaya. Bangsa Aceh semasa jayanya Kerajaan Aceh Darussalam pernah memiliki pengaruh yang kuat di wilayah ini dan meninggalkan Agama Islam bagi masyarakatnya. Interaksi dengan Belanda dapat dilihat dari perjanjian yang dilakukan Raja
Sungai Pagu dengan Belanda tahun 1663 yang dikenal dengan Perjanjian Batang Kapeh.

Sementara Rantau XII Koto yang wilayahnya berada di pedalaman membuatnya kurang bersentuhan dengan dunia luar. Karena letaknya ini membuat banyak daerah di Rantau XII Koto masih menjadi daerah merdeka pada awal awab ke-20. Nagari seperti Sungai Kunyit dan Lubuk Ulang Aling baru masuk ke dalam pengaruh Belanda di atas tahun 1905. Kondisi ini pula yang membuat banyak budaya yang masih tetap eksis di daerah ini seperti kesenian batombe di Nagari Abai. Letaknya yang berada di pedalaman dan sulit dijangkau inilah yang menjadi faktor utama membuat lambatnya daerah inni dikuasai Belanda. Bahkan kondisi sulitnya menjangkau daerah ini, membuat Mr. Syafruddin Prawiranegara sewaktu menjabat Ketua PDRI tahun 1949 memutuskan mengungsi ke daerah ini tepatnya di Bidar alam agar terhindar dari penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Belanda.

Kekuasaan Belanda sampai di Solok Selatan pada tahun 1876 dan dimasukkan dalam Afdeling Solok. Pada tahun 1876 dibentuk Onderafdeling Muara Labuh yang berkedudukan di Muara Labuh dengan wilayah Kabupaten Solok Selatan plus Kecamatan Pantai Cermin di Kabupaten Solok. Onderafdeling Muara Labuh dikepalai oleh Belanda dengan jabatan Controleur dan berkedudukan di Muara Labuh. Sebelum kekuasaan Belanda sampai di
Muaralabuh, terlebih dahulu dibentuk Onderafdeling Lolo.

Pada tahun 1935 ketika terjadi perampingan jumlah Afdeling, Afdeling Solok dan Sawahlunto digabung dan secara otomatis Onderafdeling Muara Labuh dimasukkan ke Afdeling Sawahlunto dengan pusat di Sawahlunto.

Solok Selatan termasuk daerah jajahan potensial bagi Belanda dengan sektor andalan perkebunan. Ketika Belanda baru saja menancapkan kekuasaannya di Solok Selatan dengan membentuk Onderafdeling Muara Labuh, banyak perusahaan Belanda yang membuka perkebunan di daerah ini. Hasil perkebunan yang memuaskan, membuat daerah ini mengalami perubahan yang cukup drastis mulai dari pembangunan jalan raya yang menghubungkan daerah Solok Selatan dengan kota Padang guna memudahkan pengangkutan hasil perkebunan. Simbol kemajuan, walaupun itu ditujukan untuk Bangsa Belanda yang tinggal di Solok Selatan merambah masuk ke daerah ini yang ditandai dengan kehadiran telepon, pom bensin, listrik dan air ledeng. Hingga terbentuknya Kabupaten Solok Selatan, sektor pertanian dan perkebunan masih memegang peran utama dalam pembentuk struktur ekonomi daerah.

Kebijakan Belanda yang memasukkan Onderafdeling Muara Labuh dalam Afdeling Solok berlanjut pada masa kemerdekaan Indonesia. Eks Onderafdeling Muara Labuh yang terbagi dalam 3 kecamatan (Kecamatan Pantai Cermin, Sungai Pagu dan Sangir) dimasukkan dalam Kabupaten Solok.

Pada tahun 1950-an muncul aspirasi masyarakat Solok Selatan untuk membentuk kabupaten sendiri. Tuntutan ini disebabkan karena jauhnya jarak dan tidak aksesibelnya masyarakat menjangkau ibukota kabupaten yang waktu itu berkedudukan di Kota Solok. Hasrat masyarakat Solok Selatan untuk menjadi kabupaten itu sendiri dilahirkan tahun 1955 melalui rapat yang waktu itu dinamakan “Konprensi Timbulun” yang disponsori oleh Kamarudin Dt. Nan Peta yang waktu itu menjabat Camat Sangir. Kabupaten Sahiliran Batang Hari adalah nama kabupaten
yang diajukan waktu itu, tetapi tidak pernah dikabulkan oleh pemerintah, apalagi pada tahun itu juga terjadi pergolakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

Pada tahun 1978 wilayah Eks Onderafdeling Muara Labuh ditambah Kecamatan Lembah Gumanti dikukuhkan menjadi Wilayah Pembantu Bupati Solok Selatan berdasarkan Keputusan Mendagri Nomor 132/78 tanggal 11 Agustus 1978 yang terdiri atas 4 kecamatan yakni Lembah Gumanti, Pantai Cermin, Sungai Pagu dan Sangir. Tahun 1999 pada masa era reformasi dan otonomi daerah, Wilayah Pembantu Bupati ini dilikuidasi dan dimasukkan kembali ke Kabupaten Solok.

Angin reformasi dan euforia otonomi daerah juga memunculkan keinginan masyarakat Solok Selatan untuk memisahkan diri dari Kabupaten Solok. Akhirnya pada tahun 2004, terbentuklah Kabupaten Solok Selatan yang hanya terdiri dari lima kecamatan. Wilayah yang menjadi Kabupaten Solok Selatan sebagian besar wilayah Onderafdeling Muara Labuh namun tidak memasukkan Kecamatan Pantai Cermin. Tanggal 7 Januari 2004 bertempat di Jakarta, Kabupaten Solok Selatan diresmikan keberadaannya oleh Mendagri Hari Sabarno.

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas

Related posts