Inilah Curahan Hati para Perempuan yang Suaminya Meninggal Dunia Korban Covid-19

  • Whatsapp
Curahan hati istri yang ditinggal mati suami karena covid-19.

MINANGKABAUNEWS.COM, NGANJUK — Curhatan para Perempuan yang Suaminya Wafat karena Covid-19. Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur bekerja sama dengan Yayasan Seribu Senyum Surabaya, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Nganjuk, dan Lazismu memberikan layanan konseling dan bantuan paket sembako pada para perempuan yang ditinggal wafat suaminya karena Covid-19.

Wakil Ketua PWM Jatim Dra Nur Haidah menerangkan, layanan konseling dan bantuan paket sembako ini sebagai bentuk kepedulian PWA dan PDA Nganjuk untuk perempuan single parent yang suaminya meninggal karena Covid-19. Menurut dia, kegiatan ini bagian dari program Aisyiyah peduli mereka yang terdampak Covid-19.

Read More

“Sebelumnya sudah dilakukan Aisyiyah berupa kegiatan ‘cantelan’, penyediaan kebutuhan sehari-hari warga yang isoman, pemberiaan paket sembako pada lanjut usia, serta beasiswa dan layanan trauma healing pada anak-anak yang ditinggal orangtuanya wafat akibat Covid-19,” terangnya, Jumat, (15/10/2021).

Dia menjelaskan, pandemi Covid-19 ini memberi dampak besar pada perempuan, utamanya yang ditinggal suami meninggal karena Covid-19. Untuk Nganjuk, dari 364 orang dari data yang sudah masuk ke PWA Jatim, baru 60 perempuan yang terbantu.

Seorang perempuan dengan anaknya saat berkonsultasi pada tim. Curhatan para Perempuan yang Suaminya Wafat karena Covid-19 (Fitria Leliana/PWMU.CO)
Curhat Perempuan Terdampak Covid-19
Nur Haidah mengatakan, dari hasil konseling awal ini mereka rata-rata mengalami stress, sakit kepala, cemas, sedih, gelisah, gangguan pencernakan, sulit tidur, dan sering menangis. “Bahkan ada yang mengalami putus asa harus menanggung atau menghidupi anak dan mertuanya,” ungkapnya

Bunga Indah sebut saja begitu, salah satu ibu rumah tangga berusia 47 tahun peserta konseling, mengungkapkan, dia harus menghidupi dua anak sendirian yang berumur 14 dan 8 tahun. “Saya kesulitan untuk biaya sekolah dan ngasih makan sehari-hari. Dan saya tidak ada kerjaan,” curhatnya.

Ketua PDA Nganjuk Umi Nisa’i mengatakan, kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan oleh perempuan terdampak Covid 19.

Sebab, kata dia, selain pemberian sembako juga ada konseling dan asesmen lanjutan yang hasilnya untuk merencanakan program jangka panjang PDA Nganjuk khususnya untuk penanganan perempuan single parent yang suami meninggal akibat Covid-19.

“Ke depan kami berharap gerakan Aisyiyah peduli ini dapat terus berjalan lebih baik lagi, dengan banyak pihak yang terlibat untuk bekerja sama sehingga tidak hanya 60 perempuan single parent yang dibantu hari ini (Sabtu). tapi bisa lebih banyak lagi,” harap dia.

Related posts