Inilah Keunikan Tradisi Malamang di Pasaman

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Arjun

Siapa yang tidak kenal dengan tradisi malamang, sebagian besar masyarakat Minangkabau pasti tahu apa itu tradisi malamang. Malamang menjadi tradisi yang dinantikan oleh semua orang, baik itu golongan tua ataupun anak-anak. Tradisi malamang hampir ada di semua daerah di Minangkabau. Tradisi ini selalu memiliki keunikan tersendiri, baik itu dalam hal pelaksanaan, ataupun tujuan dilaksanakannya malamang tersebut.

Read More

Banyak masyarakat melaksanakan tradisi ini untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan ada juga yang melaksanakan tradisi ini karena hanya ingin membuat makanan sebagai hidangan ketika sedang merayakan Hari Raya. Di Kabupaten Pasaman, malamang menjadi salah satu tradisi yang sangat unik. Keunikannya terletak pada tujuan diadakannya tradisi ini. Di daerah lain, masyarakat malamang untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi di Pasaman tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Keunikan lain dari malamang di Pasaman adalah masyarakat akan pergi ke sawah untuk menaburkan lamang yang telah dimasak. Hal ini dilakukan sebagai bahwa padi sulah terbit atau mulai berbuah.

Malamang atau membuat lamang biasanya dilakukan oleh wanita atau amak-amak. Malamang bisa dilaksanakan dimana saja. Namun, kebanyakan masyarakat Minangkabau melaksanakan tradisi malamang di dekat dapur, di samping rumah, ataupun area terbuka lainnya. Memasak lamang tidak hanya sekedar memasak, tradisi ini bisa dijadikan waktu yang tepat untuk berkumpul dengan tetangga. Setelah lama tidak bersenda gurau dikarenakan sibuk dengan urusan masing-masing, tradisi ini bisa dijadikan wadah untuk berinteraksi dengan orang lain agar hubungan antar sesama kembali harmonis.

Malamang biasanya menggunakan buluh atau bambu sebagai wadah untuk memasaknya. Agar lamang tidak lengket ketika dimasak, maka masyarakat memasukkan daun pisang ke dalam bambu. Selain supaya tidak lengket, daun pisang yang dijadikan alas menjadikan lamang lebih bersih. Lamang terbuat dari pulut (ketan) yang telah dibersihkan. Ketan yang biasanya dipakai adalah ketan putih yang dicampur dengan santan. Ketan putih dan santan dimasukkan ke dalam bambu dan dimasak selama tiga jam. Agar rasa lebih bervariasi, ketan putih bisa dicampur dengan ubi, pisang, dan tambahkan gula merah agar rasa manis lebih terasa.

Di Pasaman, khususnya di Nagari Koto Rajo, Kecamatan Rao Utara, masyarakat melaksanakan tradisi malamang sebanyak empat kali dalam setahun. Jumlah ini tentunya berbeda dengan kebanyakan daerah yang ada di Sumatera Barat. Kebanyakan daerah di Sumatera Barat melaksanakan tradisi malamang sebanyak dua kali setahun, sedangkan di Koto Rajo dilangsungkan empat kali dalam satu tahun kalender. Di Nagari Koto Rajo tradisi malamang dilaksanakan ketika sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha, dan dua kali dilakukan ketika padi sudah terbit atau sudah mulai berbuah. Dalam satu tahun kalender, terdapat dua periode panen padi dan setiap padi sudah mulai berbuah, masyarakat akan melaksanakan tradisi malamang sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Masyarakat tidak lupa untuk bersyukur karena telah diberi nikmat berupa padi yang mulai berbuah. Masyarakat sadar bahwa mensyukuri nikmat Allah adalah suatu keharusan. Dan malamang adalah salah satu bentuk rasa syukur yang dipanjatkan oleh masyarakat kepada Sang Pencipta.

Tradisi malamang di Nagari Koto Rajo tidak hanya sekedar malamang. Lamang yang dibuat tidak hanya untuk dimakan dan tidak dibuat untuk diri sendiri, tetapi lamang tersebut akan dibagikan kepada orang lain ketika acara syukuran dilaksanakan. Tradisi malamang ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Setelah malamang, malam harinya masyarakat akan berkumpul di masjid untuk melaksanakan acara minta do’a. Minta do’a adalah acara yang dilakukan untuk memanjatkan rasa syukur kepada Allah karena telah diberi rezeki yaitu mulai tumbuhnya buah padi yang ditanam berbulan-bulan yang lalu. Pada acara tersebut masyarakat juga mendo’akan agar padi dapat berbuah dengan baik sehingga bisa memberikan hasil panen yang melimpah untuk masyarakat. Masyarakat yang akan melaksanakan acara minta do’a pergi ke masjid membawa lamang dan makanan lainnya.

Malam itu, setelah mengadakan syukuran dan minta do’a, masyarakat tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mengadakan acara makan bersama. Makanan yang dibawa dari rumah masing-masing itu dibagikan kepada jemaah lain yang turut hadir di masjid. Umumnya masyarakat membawa lamang yang telah dibuat, namun tidak sedikit pula masyarakat yang membawa roti dan makanan lainnya untuk diberikan. Pada malam itu masyarakat akan saling bertukar makanan. Ketika itu momen berbagi sangat terasa. Malam itu menjadi waktu yang tepat untuk mempererat lagi tali persaudaraan yang mulai renggang karena sudah lama tidak bertemu dan sudah lama tidak berbincang dikarenakan sibuk dengan urusan masing-masing.

Keesokan harinya masyarakat pergi ke sawah untuk memberikan lamang kepada padi yang mulai berbuah. Masyarakat akan membawa lamang untuk ditaburkan. Lamang tersebut diambil bagian atas dan bawahnya, lalu dimasukkan ke dalam air, setelah itu masyarakat akan menaburkan lamang tersebut di semua area sawah. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena padi telah mulai berbuah dan sebagai ucapan terima kasih kepada padi karena telah menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

Tradisi ini telah berlangsung sejak dulu. Masyarakat tidak tahu kapan pertama kali tradisi ini dilaksanakan karena memang tradisi sudah lama dilaksanakan dan tetap ada hingga saat ini. Nenek moyang masyarakat Koto Rajo melaksanakan tradisi ini dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya sehingga sampai sekarang tradisi ini masih berjalan baik di tengah masyarakat.

Harapannya semoga tradisi ini tetap ada dan tidak luntur seiring perkembangan zaman yang semakin modern karena tradisi ini merupakan ciri khas yang didalamnya tercermin sifat masyarakat yang selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT serta masyarakat yang saling berbagi kepada sesama.

/*Penulis: Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts