Inilah Penampakan Jet Tempur Rafale yang Jadi Idaman Prabowo

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA — Pekan lalu, Menteri Eropa dan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, melakukan lawatan resmi ke Indonesia pada 23 dan 24 November 2021. Dalam lawatan kali ini, Le Drian melakukan agenda diskusi khusus dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Pertemuan itu membahas topik-topik mengenai strategi Indo-Pasifik Prancis dalam menegakkan peraturan dan hukum internasional. Namun, seorang sumber menyebut ada agenda serius yang sedang dikejar Paris kepada Prabowo.

Read More

Kepada Straits Times, sumber itu menyebut bahwa Prancis ingin mengetahui lebih jauh mengenai rencana pembelian 36 unit jet tempur Rafale yang pada Juni lalu telah ditekan dalam letter of intent. Indonesia menjadi klien baru mereka.

Indonesia sendiri sebelumnya dilaporkan ingin memboyong jet tempur buatan Prancis Ini. Hal itu sempat disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo beberapa bulan lalu.

Ia mengatakan TNI AU mulai tahun ini hingga 2024 akan segera merealisasikan akuisisi berbagai alutsista modern secara bertahap. Dua di antaranya pesawat multi-role combat aircraft Dassault Rafale dan F-15 EX.

Sebagaimana diketahui, Prancis sedang mengejar penjualan jet tempur paling canggih Rafale ke banyak negara. Selama lebih dari 25 tahun keberadaannya, jet telah menghadapi tantangan dan muncul dalam berbagai variasi.

Misi ini cukup berhasil di beberapa negara, salah satunya Uni Emirat Arab (UEA) yang menekan kesepakatan pembelian jet tempur buatan Prancis ini pada 3 Desember 2021 lalu. Tak tanggung-tanggung, Abu Dhabi dilaporkan membeli 80 unit jet tempur ini.

Mengutip Reuters, kesepakatan ini sendiri dilaporkan akan dihadiri oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron. Macron memang diketahui sedang berada di Dubai, UEA, untuk menghadiri Dubai Expo 2020

Dilansir dari France24, penjualan ini mencatat sejarah dan mengkonfirmasi kesuksesan komersial berkelanjutan dari pesawat tempur Prancis, jet mesin kembar yang dapat beroperasi baik dari darat maupun dari kapal induk.

Untuk Dassault, Thales (perusahaan yang memasok semua sistem kelistrikan internal Rafale), Safran (yang menyediakan mesin) dan beberapa ratus subkontraktor lainnya, kesepakatan itu berarti bisnis yang dijamin selama lebih dari enam tahun. Dibutuhkan setidaknya satu bulan untuk memproduksi Rafale.

Dassault Rafale memang bukan sebarang jet tempur. Pesawat ini diklaim mampu sebagai proyeksi kekuatan dan penyebaran untuk misi eksternal, misi serangan dalam, dukungan udara untuk pasukan darat, misi pengintaian, serangan pelatihan pilot, dan tugas pencegahan nuklir.

Related posts