Inilah Respon Mengejutkan Buya Anwar Abbas Soal Tema Lomba Penulisan Artikel BPIP

  • Whatsapp
Buya Anwar Abbas
Waketum MUI, Buya Anwar Abbas

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Anwar Abbas menilai Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tidak memiliki kepekaan sosial di tengah pandemi Covid-19. Karena itu ia menyarankan Lembaga pimpinan Megawati Soekarnoputri itu dibubarkan saja.

Demikian dinyatakan Anwar menanggapi pengumuman Kompetisi Penulisan Artikel Tingkat Nasional dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021 ini diadakan BPIP. Pengumuman lomba menulis artikel itu belakangan jadi sorotan publik karena banyak kalangan yang menilai tema yang diangkat kontroversial, yakni: ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’.

Read More

“Kesimpulan saya BPIP seharusnya dibubarkan saja. Bukannya apa, lombanya enggak kontekstual. Orang secara lagi Covid malah masalah hukum bendera,” kata Anwar Abbas, Jumat (13/8/2021).

Pengumuman Kompetisi Penulisan Artikel Tingkat Nasional dalam rangka Hari Santri Nasional 2021 yang diadakan BPIP.
Lebih lanjut Anwar menuturkan, sebenarnya banyak tema yang relevan dan kontekstual untuk mengadakan lomba dalam rangka perayaan Hari Santri. Ia lantas memberi gambaran situasi saat ini.

Ketua PP Muhammadiyah ini mengatakan, setiap hari melihat ibu-ibu berbelanja. Namun, saat ini setiap ada tukang sayur lewat, ibu-ibu itu tidak lagi keluar rumah lantaran tak punya uang.

“Sekarang banyak kemiskinan ini. Semestinya kan dia hadir, tampil tuh BPIP. Pancasilaisnya mana? Ya, membantu lah. Menggerakkan anak-anak peduli kepada masalah Covid,” ujarnya.

“Kenapa enggak lomba; Bagaimana peran santri dalam menghadapi Covid, bisa kan, ya? Peran santri dalam menghadapi masalah ekonomi, gitu kan?” tukas ekonom Islam ini.

Selain itu, Anwar juga menilai lomba BPIP hanya akan memancing perpecahan dan kecurigaan antarkelompok. Ia menyebut tema itu berpotensi membuat orang mecurigai nilai kebangsaan para santri.

“Nanti ujung-ujungnya kalau ada tulisan hukumnya haram nantinya malah menjadikan alat untuk menggebuk santri, kan?” katanya.

“Padahal bendera itu kan sudah kita kibarkan sebelum kita merdeka,” tambahnya.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Marsudi Syuhud menganggap biasa lomba penulisan artikel yang diadakan BPIP. Ia menyebut tema yang diangkat disesuaikan dengan Hari Santri dan menjelang 17 Agustus.

Selain itu, ia juga menyebut lomba itu tidak ada tendensi terhadap paham atau kelompok tertentu.

“Menurut saya biasa biasa saja itu kan memperingati Hari Santri. Karena kata santri itu biasanya kan Islam. Ya, biar santri itu terlatih menulis,” tuturnya.

Lomba penulisan artikel tingkat nasional diinformasikan BPIP lewat unggahan di akun Twitter @BPIPRI pada Rabu (11/8). Sejak unggahan itu terbit, banyak pihak yang mempertanyakan urgensi lomba dengan mengangkat tema seperti itu. Bahkan ada yang menganggap lomba itu kontraproduktif.

Menanggapi kritik, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo mengatakan pilihan tema tersebut menyesuaikan dengan konteks Hari Santri. Menurutnya, BPIP melihat pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam menyikapi cinta tanah air.

“Disesuaikan dengan Hari Santri. Sama juga hormat bendera menurut agama Kristen, Hindu, Buddha, Katolik, Konghucu,” tutupnya.

Related posts