Inilah Tradisi Babuko Masak Lamang di Nagari Sukarami

  • Whatsapp

Oleh: Karyn Eka Putri

Nagari Sukarami terletak di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Nagari ini terletak dikaki Gunung Talang dan dilalui jalan lintas Sumatera Barat. Di Nagari Sukarami masyarakat selalu melestarikan adat dan kebudayaannya, salah satunya dengan melakukan Tradisi Babuko Masak Lamang di setiap penghujung ramadhan. Selain itu kegiatan-kegiatan kesenian juga sering dilakukan, tradisi-tradisi lain seperti Upacara Turun Mandi, Babuko, Malam Bainai, Baralek Gadang, Balimau, Mando’a, dan masih banyak lagi lainnya.

Read More

Perkembangan kesenian dan tradisi masyarakat Sukarami ini didukung oleh keinginan masyarakat yang masih tetap melestarikan dan mengembangkan bidang budaya. Sarana dan prasarana yang menunjang pelestarian dan pengembangan dalam bidang budaya tersebut adalah tersedianya perlengkapan lengkap yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tradisi dan kesenian seperti: Gandang, Talempong, Indang, Pupuik, Saluang, Sarunai, Bansi, dan segala jenis kostum guna melengkapi dan menunjang perkembangan kesenian di Nagari Sukarami, selain itu tersediannya generasi muda penerus yang juga masih bersemangat untuk mengikuti dan mengembangkan tradisi serta kesenian membuat Nagari Sukarami tetap dapat mempertahankan tradisi dan kesenian di tengah-tengah perkembangan zaman.

Penduduk di Nagari Sukarami semuanya beragama islam, kegiatan ibadahnya selalu berjalan dengan baik dan lancar. Nagari Sukarami memiliki 2 mesjid besar dan beberapa mushola, yang menjadi pusat ibadah dan juga pusat pembelajaran bagi masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Setiap hari senin biasanya tiap mesjid mengadakan zikir bersama, kegiatan ini di buka untuk umum bahkan banyak warga dari Nagari tetangga yang datang mengikutinya. Selain menjalankan syariat islam, masyarakat Nagari Sukarami tidak melupakan tradisi-tradisi dari nenek moyang. Bahkan jika tradisi itu tidak di anjurkan dalam islam masih tetap di laksanakan dengan tujuan mengimbangi antara adat dan agama sehingga tidak terjadi pertentangan. Seperti Tradisi Babuko Masak Lamang, hal ini tidak diajarkan dalam agama namun di lakukan oleh masyarakat disana. Tetapi tujuan dari tradisi ini tetap satu tujuan dengan agama, yaitu menjalin silaturahmi antar sesama manusia.

Tradisi Babuko Masak Lamang merupakan suatu warisan dari nenek moyang yang sudah berusia kurang lebih ratusan tahun silam. Tradisi ini di wariskan langsung dari generasi ke generasi melalui keluarga masing-masing. Tradisi ini di lakukan pada setiap akhir bulan ramadhan. Masyarakat melakukan tradisi ini selain untuk menjalankan adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang, juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi sebelum menyambut Hari Raya Idul Fitri karena semua keluarga yang jauh akan berkumpul di rumah, dan mendapatkan keberkahan di saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Dalam melakukan Tradisi Babuko Masak Lamang ada beberapa hal yang harus di persiapkan sebelum melakukan tradisinya. Pertama talang, yaitu salah satu jenis bambu yang digunakan sebagai tempat untuk memasak lamang. Talang ini merupakan ciri khas dari lamang, di setiap daerah di Minangkabau yang memasak lamang pasti menggunakan talang ini. Untuk mencari talang biasanya anggota keluarga yang laki-laki akan pergi bersama-sama ke hutan untuk mengambilnya. Selanjutnya daun pisang, daun pisang diambil bersamaan ketika anggota keluarga yang laki-laki pergi mencari talang. Daun pisang akan digunakan untuk lampisan di dalam talang sebelum diisi dengan bahan yang lainnya.
Selanjutnya ketan, beras ketan adalah bahan utama untuk pembuatan lamang. Biasanya ada yang menggunakan beras ketan hitam, tetapi lebih banyak orang menggunakan beras ketan putih. Santan, untuk menghasilkan santan membutuhkan proses yang sedikit lama, pada zaman dahulu kelapa di parut dengan menggunakan kukuran, lalu di peras menggunakan tangan, kemudian setelah itu di saring agar tidak ada serabut dari parutan kelapa. Tetapi di zaman sekarang sudah bisa dibeli santan siap pakai di pasar. Seterusnya bawang merah, bawang putih garam, kayu bakar dan terakhir palanta, palanta adalah tempat untuk membakar lamang.

Proses pembuatan lamang memakan waktu yang lumayan lama, dan sedikit ribet, sehingga membutuhkan banyak orang untuk membuatnya agar mendapatkan hasil yang sempurna. Selama proses pembuatan menjadi waktu yang tepat untuk bersilaturahmi, karna semua keluarga sudah berkumpul disana. Waktu yang tepat juga untuk perencanaan kegiatan yang akan di lakukan untuk Hari Raya Idul Fitri besoknya. Setelah lamang masak dan siap disajikan semua anggota keluarga berbuka bersama.

Fungsi utama dari tradisi ini ialah untuk mempererat silaturahmi antar sesama umat manusia, hal ini sangat di anjurkan di dalam agama. Tepat sekali tradisi ini juga di lakukan di bulan suci ramadhan. Biasanya setelah sholat ashar, atau setelah sholat magrib akan diadakan tradisi mando’a dengan mengundang masyarakat sekitar. Selain menjalankan hubungan sesama manusia juga mendapatkan amal akhirat.
Kegiatan ini juga berfungsi untuk menjaga tradisi, hal ini terbukti di saat tradisi ini akan di lakukan seluruh keluarga dari rantau akan pulang ke kampung halaman. Setelah tradisi ini akan di lakukan juga tradisi mandoa, tidak saja melibatkan seluruh anggota keluarga besar tetapi juga seluruh warga masyarakat Sukarami. Dengan adanya tradisi ini untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri tidak ada lagi rasa canggung karna baru bertemu. Bahkan masing-masing keluarga di Nagari Sukarami sudah memiliki rencana kegiatan yang jelas untuk dilakukan.

/*Penulis: Mahasiswa Fakultas Sastra Minangkabau, Universitas Andalas

Related posts