Intip Tradisi Unik Turun Mandi bagi Bayi Baru Lahir di Kota Solok, Sumbar

  • Whatsapp
Ilustrasi
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: MIRANTI

Turun mandi merupakan tradisi yang ada di daerah Minangkabau, yang sampai saat ini masih ada dan dipertahankan di beberapa daerah di Sumatera Barat, salah satunya yang ada di daerah Solok Selatan. Solok Selatan merupakan kabupaten pemekaran dari kota Solok dan kabupaten Solok.

Read More

Upacara turun mandi merupakan upacara yang dilaksanakan untuk mensyukuri nikmat atas bayi yang baru lahir. Sementara itu tujuan dari turun mandi adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah suku atau keluarga tertentu

Masyarakat Solok Selatan masih mempertahankan tradisi turun temurun ini telah sejak lama sampai saat ini. Tradisi turun mandi itu dilakukan pada bayi yang baru beberapa hari dilahirkan. Turun mandi dilakukan dengan membawa anak bayi ke sungai terdekat, yang sering dibawa adalah ke sungai kecil yang airnya tidak terlalu deras.

Sehari sebelum pelaksanaan prosesi turun mandi tersebut hal-hal yang mesti dipersiapkan oleh tuan rumah (orang tua sang bayi) berupa Karambia Satali (2 buah kelapa yang belum dikupas kulitnya dan diambil sedikit kulitnya dan diikat satu sama lain), satu batang tebu, batiah bareh badulang

Setelah semua bahan dipersiapkan maka sang dukun bayi memulai prosesi turun mandi yang dimulai dengan memberikan tanda silang di kening bayi yang terbuat dari bawang yang diptong lalu dibakar ujung bawang merah. Setelah semua bahan dipersiapkan maka dukun bayi memulai prosesi turun mandi yang dimulai dengan memberikan atau memasangkan aja daun sirih terbuat dari bawang merah yang dibakar lalu diberi tanda salip dikening bayi dan setelah memasang gelang cikmoncik ketangan dan kaki bayi lalu dukun membuat wonompek lalu ada batiah badulang yang disiapkan untuk dibawah kesungai isi dari batiah badulang yaitu potongan-potongan tebu, pisang masak yang dipotong-potong, beras direndang, ketan atau sepulut.

Sesampainya di rumah sang bayi dimasukkan kedalam ayunan yang terlebih dahulu dibuat dengan menggunakan kain panjang yang juga dibawahnya diletakkan parasopan (asap yang ditimbulkan oleh sabut kepala yang dibakar) dengan di iringi menbaca doa oleh dukun bayi. Setelah hitungan ayunan dinilai tepat oleh sang dukun maka sang bayi ini ditidurkan di tempat tidurnya, ini menandakan prosesi turun mandi bagi sang bayi telah selesai,
Acara selanjutnya adalah makan bersama, ibu bayi dan seluruh keluarga serta para undangan makan bersama, yang menarik disini adalah ibu sang bayi dipersilahkan untuk memilih makanan apa saja yang ia sukai, setelah diletakkan dipiring maka sang dukun bayi membacakan sesuatu dan sang ibu bayi boleh makan sepuasnya tanpa harus memperhatikan pantangan yang sebelumnya memang sangat ketat bagi ibu bayi ini, tapi jangan coba untuk makan semaunya jika belum ditawa oleh dukun bayi. Jika acara turun mandi ini dilakukan dengan meriah, maka tak ketinggalan sisampek yang sebelumnya dibuat oleh bako dari keluarga bapak sang bayi ini diperebutkan, acara ini sangat dinanti-nanti oleh anak-anak dan pengunjung lainnya karena selain seru mereka memperebutkan makanan yang digantungkan di sisampek tersebut.

Sisampek adalah terbuat dari dulang atau talam bahasa setempat yang di isi dengan berbagai macam peralatan di dalamnya yaitu seperti ketan sepulut, tebu yang telah dikupas dipotong yang kecil, lalu ada pisang dipotong juga tiga bagian dalam satu buah pisang, trus ada yang dinamakan bareh batiah badulang yaitu beras yang di rendam lalu dikeringkan dan di rending dalam kuali sampai menjadi batiah, dan ada minyak rambut, cabe, lalu bedak tujuan nya untuk menghiasi atau di oleskan kepada muka bayi dan rambut bayi makna disini supaya dia besar nantik bisa menghiasi dirinya sendiri dan cabe untuk mengetahui pahitnya hidup kelak nanti.

Di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau sendiri, adat merupakan alat ukur bagi masyarakat dan harus dipatuhi oleh setiap elemen masyrakat, karena di setiap nagari di Minangkabau memiliki perbedaan dalam adatnya, seperti pepatah Minangkabau mengatakan”Lain Lubuak lain ikannyo, Lain padang lain ilalang”, yang mana di setiap daerah memiliki kebudayaan, adat istiadat dan kebiasaan masing-masing.

Tradisi juga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari masyarakat yang menjunjung tinggi sistem nilai budaya, dimana dalam tradisi diatur bagaimana manusia dengan kelompok manusia lain dan bagaimana manusia bertindak terhadap lingkungaya. Menurut Soekanto dalam Sakti (2010:9) tradisi merupakan adat istiadat dan kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun dan dipelihara oleh masyarakat setempa. Disetiap daerah memiliki adat yang berbeda beda.

/*Penulis adalah Seorang Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau, Unand Padang

Related posts