IPM Pesisir Selatan di 2022 naik jadi 70,84

  • Whatsapp

Painan – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat kembali mengukir sukses meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) selama rentang waktu dua tahun terakhir.

 

Bupati Rusma Yul Anwar mengungkapkan pertumbuhan tersebut sejalan dengan arus utama pembangunan yang fokus terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat berbasis pengolahan serta pemberian nilai tambah potensi unggulan lokal.

 

“Alhamdulillah, targetnya memang capaian IPM. Artinya progres pembangunan sesuai dengan yang dicita-citakan,” ungkap bupati di Painan.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IPM Kabupaten Pesisir Selatan selama periode 2022 mengalami peningkatan sebesar 81 basis point, dari 70,03 pada 2021 kini tumbuh menjadi 70,84.

 

Capaian tersebut merupakan prestasi tertinggi dalam sejarah, bahkan terpantau lebih tinggi dari target yang tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 yang 70,59.

 

Bupati melanjutkan guna mencapai target IPM 71,68 di 2026 pemerintah kabupaten terus melakukan berbagai terobosan, meski kemampuan keuangan daerah hingga kini masih terbatas.

 

Upaya tersebut antara lain memperluas jangkauan jaminan layanan kesehatan bagi masyarakat yang tahun ini jangkauan layanan diperkirakan pada tahun ini mencapai 95 persen.

 

“Ya, itu didukung dengan alokasi APBD lebih dari Rp26 miliar. Ada penambahan sekitar 37 ribu jiwa, dari yang awalnya hanya 30 ribu jiwa,” terang bupati.

 

Kemudian menyelenggarakan pendidikan gratis pada jenjang pendidikan yang jadi kewenangan pemerintah kabupaten, sehingga jumlah anak putus sekolah semakin kecil.

 

Dengan demikian diharapkan munculnya sumber daya manusia daerah yang memiliki daya saing mumpuni, tidak hanya berskala regional dan nasional namun juga di kancah internasional.

 

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberian nilai tambah terhadap komoditi unggulan lokal melalui proses industrialisasi. Produk yang dihasilkan diharapkan mampu menguasai pasar.

 

“Nah, jika pendapatan per kapita naik, tentu pengeluaran per kapitanya juga naik. Ini adalah salah satu pembentuk IPM,” tutur bupati.

 

Secara terpisah Kepala BPS Yudi Yos Elvin menyampaikan kenaikan IPM daerah berjuluk ‘Negeri Sejuta Pesona’ itu memang seiring komitmen peningkatan sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.

 

Subsidi biaya pendidikan dan kesehatan serta konsisten terhadap hilirisasi produk pertanian sebagai potensi daerah ternyata sangat efektif dalam memperbaiki taraf perekonomian.

 

Tak ayal seluruh indikator pembentuk IPM sepanjang 2022 mengalami peningkatan, mulai dari angka harapan hidup yang naik dari 70,96 pada 2021 kini naik menjadi sebesar 71,25.

 

Kondisi serupa juga terjadi pada harapan lama sekolah dari 13,33, tumbuh menjadi 13,35. Rata-rata lama sekolah mengalami peningkatan dari yang sebelumnya hanya 8,27 menjadi 8,43.

 

Begitu pula dengan penguatan per kapita yang pada 2021 hanya Rp9.270.000 per tahun kini meningkat menjadi Rp9.686.000 per tahun.

 

“Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran pun terkonfirmasi turun,” ucapnya.


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts