Irwan Syukriadi Pengusaha Muda Hachery DOD dan DOC: Jadi Enterpreneur Itu Membahagiakan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG PARIAMAN – Melihat ibunya yang memelihara lima ekor bebek setiap harinya menghasilkan tiga buah telur menginspirasi Irwan Syukriadi untuk membuat usaha peternakan.

Pada tahun 2006 membuat usaha yang diberi nama Mato Aia Jaya Farm dimana awalnya usaha ini dumulai dengan modal pemberian orang tuanya dimulai dengan menjual bebek petelur dan pedaging, lalu berkembang dengan menyediakan indukan untuk telur tetas (Briding) dan sekarang berlanjut ke penetasan (Hatchery).

Read More

Dulu almarhumah ibu saya pernah memelihara lima ekor Itik dimana setiap harinya Itik yang lima ekor itu dapat bertelur sebanyak tiga butir dan disitulah muncul inspirasi untuk membuat usaha peternakan ini, dimana lima ekor Itik saja dapat menghasilkan tiga butir telur bagaimana kalau 6.000 ekor bisa menjadi peluang usaha fikir saya. Usaha ini dikelola sendiri dengan bantuan kurang lebih 20 orang pekerja.

“Kami tidak hanya menyediakan bebek, kami juga menjadi supplier telur ayam, telur bebek, DOC, dan DOD, dimana setiap harinya kami bisa menyediakan 6.000 butir telur ayam per hari, telur ayam 10.000 per hari, untuk DOD dapat mensupply sebanyak 5.000 ekor per minggu dan DOC 10.000 ekor per minggu,” terang pria yang berlatar belakang pendidikan Sarjana Ekonomi ini saat ditemui ditempat usahanya di Kota Buruak Lubuk Alung baru-baru ini.

Ia juga menyebutkan, hasil dari peternakan ini sudah dipasarkan hingga luar Sumatra Barat seperti telur bebek.

“Kami pasarkan ke Riau, Sumatra Utara, Jambi, dan Palembang dan khusus untuk DOC dan DOD sudah dipasarkan ke seluruh Pulau Sumatra kecuali Lampung dimana pemasaran dilakukan dengan cara diantar, dijemput bahkan ada dari konsumen yang datang langsung untuk membeli telur mau di indukan tersebut,” tuturnya dalam press release.

Irwan lebih lanjut mengatakan, saat ini Mato Aia Jaya Farm telah memiliki beberapa kandang diantaranya di Kampung Koto Korong Koto Buruak, Kandang bebek di Korong Balanti Nagari Sikabu dan Kandang Ayam di Korong Toboh Luar Parit Nagari Toboh Gadang.

“Selama menjalani usaha ini kesulitan yang sering dihadapi yakninya kesulitahan bahan baku pangan untuk makan ternak ini. Untuk pakannya kami mengolah sendiri sehingga apa yang dikonsumsi oleh ternak jelas dan dapat diukur dan kualitas dari ternak dapat terjaga. Kami juga selalu melakukan perawatan setiap harinya dengan menjaga kebersihan kandang dan memisahkan antar pakan sesuai dengan usianya,” ucapnya.

Dirinya saat ini tengah mempersiapkan proses untuk membuat merk dan direncanakan akan diberi nama Kuala (Kampung Unggul Asli Lubuk Alung). Usaha ini juga tengah bergerak menjadi PT, jika sudah menjadi sebuah PT maka dapat menambah populasi dan produksi juga dapat menarik investor untuk berinvestasi disini sehingga usaha ini dapat lebih berkembang.

Related posts