Jalan Tol Padang-Pekanbaru Wajib Miliki Penyeberangan Satwa Liar

  • Whatsapp
Penyebrangan satwa di jalan tol
Jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Niken Februani

Sebagaimana yang kita tahu Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang menuju tahap pemantapan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan. Salah satu usaha pemantapan perekonomian yang sedang berjalan saat ini ialah peningkatan infrastruktur jalan dengan meningkatkan kondisi jalan nasional dan jalan daerah Pembangunan jalan tol Padang – Pekanbaru yang direncanakan selesai pada akhir tahun 2022 ini telah dimulai dan pada tanggal 22 maret 2021 lalu sudah mencapai progress sekitar 38%. Presiden menjelaskan kehadiran jalan tol dari Pekanbaru hingga Padang ini akan menghubungkan kawasan produktif, sehingga mengurangi biaya logistik dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

Read More

Pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru diperkirakan sepanjang 254,8 km yang terbagi menjadi enam seksi, yaitu Seksi 1 Padang – Sicincin sepanjang 36,15 km, Seksi 2 Sicincin – Bukittinggi 38 km, Seksi 3 Bukittinggi – Payakumbuh 34 km, Seksi 4 Payakumbuh – Pangkalan 58 km, Seksi 5 Pangkalan – Bangkinang 56 km, dan Seksi 6 Bangkinang – Pekanbaru 40 km. Penggunaan lahan yang luas ini tentu saja akan menimbulkan beberapa hambatan seperti kendala pembebasan lahan. Tidak hanya hambatan bagi manusia, pembangunan jalan seperti jalan tol Padang – Pekanbaru yang membelah kawasan hutan, lahan dan kebun akan memberikan dampak bagi kehidupan satwa liar yang menghuni kawasan hutan tersebut.

Pembangunan jalan akan mempengaruhi dan menimbulkan gangguan terhadap kondisi bentangan alam. Kondisi topografi di Indonesia yang berbukit mengharuskan pembangunan jalan disesuaikan dengan kondisi alam yang ada. Jalan yang dibangun di Indonesia sebagian menyusuri kawasan-kawasan hutan yang tidak boleh terganggu oleh aktifitas manusia, karena merupakan habitat satwa liar. Dampak utama pembangunan jalan yang melintasi kawasan hutan adalah penyempitan habitat.

Pembangunan jalan juga dapat menyebabkan terbukanya kesempatan berburu hidupan liar secara berlebihan serta menurunkan populasi satwa liar dengan cara memfasilitasi terjadinya peningkatan imigrasi (perpindahan penduduk ke daerah tersebut) dan meningkatkan penebangan hutan di sepanjang sisi jalan, sehingga mengurangi luas dan memecah habitat serta meningkatkan kepadatan populasi manusia di hutan yang tersisa.

Tutupan hutan yang terbuka oleh jalan, secara otomatis telah memutus jalur perlintasan satwa untuk berpindah maupun mencari makan. Ruang gerak yang terbatas bagi satwa membuat beberapa jenis satwa liar melakukan perlintasan di jalan raya, ini memberikan tambahan dampak yang ditimbulkan oleh adanya pembangunan jalan di kawasan hutan, melintasnya satwa di jalan akan berdampak kepada pengguna jalan dan bagi satwa liar itu sendiri. Bukan hanya jalan yang berada di kawasan hutan saja yang beresiko terhadap kecelakan dan kematian satwa, satwa liar yang telah mampu hidup berdampingan dengan manusia juga rentan terhadap kecelakan, namun hal ini bukan hanya faktor keberadaan jalan raya yang menjadi penyebab kecelakaan. Perilaku satwa liar juga berperan dalam terjadinya kecelakaan, seperti beberapa jenis reptil yang tertarik dengan suhu panas yang ada di jalanan untuk meningkatkan suhu tubuhnya. Kebiasaan ini juga menjadi pendorong terjadinya kematian satwa yang ditimbulkan oleh keberadaan jalan.

Maka dari itu pembangunan jalan tol tentunya juga harus memperhatikan kondisi lingkungan, agar nantinya tidak terjadi konflik satwa liar dengan manusia. Harmonisasi infrastruktur modern sejalan dengan konservasi perlu dilakukan dalam pekerjaan pembangunan jalan Tol Padang – Pekanbaru ini. Pembangunan ini diharapkan mampu mengakomodir penyeberangan satwa liar seperti terowongan maupun underpass. Menjaga kelestarian konservasi sumber daya alam yang ada di sepanjang titik yang menjadi ruas jalan tol sudah diterapkan di ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai yaitu dibangunnya jalan khusus untuk perlintasan gajah yang dibuat di bawah bangunan jalan tol. Hal serupa juga akan dilakukan untuk ruas tol Betung-Tempino-Jambi. Hutama Karya akan membangun jalan khusus perlintasan harimau sumatra dan satwa dilindungi lain.

Dengan fasilitas tersebut, satwa akan tetap berkeliaran dan bebas melintasi habitatnya sehingga konflik dengan manusia dapat dihindari. Semoga pembangunan infrastruktur dapat berjalan dengan baik lancar dan kelestarian satwa liar juga tetap terjaga.

/* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Biologi Universitas Andalas.

Related posts