MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suasana kantor sekretariat Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat, Rabu (18/3) malam, berubah menjadi ruang duka yang khidmat. Biasanya riuh dengan aktivitas organisasi, malam itu hanya bisik doa dan lantunan ayat suci yang terdengar sayu. Bukan sebuah acara besar, melainkan sebuah majelis takziah yang digelar dengan penuh keharuan untuk seorang ayah yang telah berpulang ke rahmatullah.
Kabar duka itu datang seperti sambaran petir di siang bolong. Ririn Fitria, sosok yang dikenal sebagai Koordinator Seksi Sosial Masjid Taqwa sekaligus Ketua PWNA Sumatera Barat, harus rela melepas kepergian orang tercinta. Sang ayahanda, yang juga merupakan mertua dari Afdhal, wafat pada hari Rabu, 22 Ramadhan 1447 H atau bertepatan dengan 11 Maret 2026, pukul 21.00 WIB di Dharmasraya.
Namun, takdir berkata lain. Jarak yang membentang antara Padang dan Dharmasraya membuat keluarga besar Masjid Taqwa tak bisa melayat langsung ke rumah duka. Di situlah haru biru itu tercipta. Ketua Pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung, dengan sigap mengambil keputusan. “Kita tidak bisa ke sana, tapi kita harus tetap hadir untuk keluarga. Kita hadirkan doa,” ucapnya lirih di sela-sela acara.
Maka, usai rangkaian shalat tarawih dan witir, para jamaah tidak segera beranjak pulang. Satu per satu mereka berduyun-duyun menuju kantor sekretariat yang hanya berjarak beberapa langkah dari masjid. Duduk bersimpuh, membentuk lingkaran doa, seolah meruntuhkan sekat jarak yang memisahkan.
Di depan para jamaah, Ki Jal Atri Tanjung memimpin doa dengan suara bergetar. Ia memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah, memohonkan ampunan untuk almarhum. “Allahummaghfirlahu warhamhu…” gema doa itu diucapkan dengan penuh penghayatan oleh seluruh jamaah yang hadir, diikuti dengan linangan air mata haru. Doa itu seakan menjadi oksigen bagi jiwa yang ditinggalkan, menjadi jembatan penghubung antara yang masih hidup di Padang dan yang telah tiada di Dharmasraya.
“Kami doakan semoga almarhum diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan di sebaik-baik tempat di sisi-Nya,” tutur Ki Jal Atri Tanjung dalam sambutannya yang singkat namun sarat makna. “Untuk keluarga yang ditinggalkan, terutama saudari kita Ririn Fitria dan suami, Afdhal, semoga diberikan kesabaran dan keikhlasan yang tiada batas.”
Takziah malam itu bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah representasi dari rasa kekeluargaan yang begitu kuat. Bahwa ketika duka datang, mereka tidak membiarkan seorang pun merasa sendiri. Bahwa ketika fisik tak bisa bertemu, doa adalah pelukan yang paling hangat.
Malam semakin larut, namun pesan dari kantor sekretariat kecil itu akan terus menggema: Kita satu keluarga. Kita duka mensalam. Kesuksesan kita adalah doa dari orang tua. Dan pada malam itu, mereka melepas kepergian seorang ayah dengan keikhlasan dan kesabaran, mengambil hikmah dari setiap ujian yang diberikan Sang Pencipta.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, Ayah. Doa kami akan selalu mengiringimu.






