Jas Merah Muhammad Yamin untuk Bangsa Indonesia

  • Whatsapp
Rezi Rahmat, M.Pd
Rezi Rahmat, M.Pd.

Oleh: Rezi Rahmat, M.Pd

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya pancasila. Dalam hal itu penting bagi rakyat Indonesia membuka lembaran sejarah tentang perjuangan lahirnya Pancasila, yang sampai saat ini dijadikan sebagai sebagai dasar dan ideologi bangsa Indonesia. Sebab dengan membaca sejarah berarti kita mengingat dan menghargai perjuangan pahlawan, serta jangan sekali-kali meningglkan sejarah (jas merah) bangsa.

Read More

Dewasa ini generasi milenial banyak yang mulai melupakan dan tak kenal lagi dengan para pahlawan bangsanya. Oleh sebab itu, dalam rangka melawan lupa dan untuk tidak meninggalkan sejarah, maka dalam tulisan ini akan mengupas tentang satu dari tiga tokoh perumus Pancasila, yakni Muhammad Yamin.

Muhammad Yamin dikenal sebagai seorang sarjana hukum, sastrawan, tokoh politik dan penggali sejarah Indonesia. Ia lahir pada tanggal 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatra Barat. Ayah Muhammad yamin adalah Oesman Bagindo Khatib, seorang Mantri kopi pada zaman Belanda seperti yang dilansir dari Ensiklopedia.kemdikbud.go.id. Sedangkan ibunya bernama Siti Saadah. Ia memiliki 15 orang saudara seayah, sebab ayahnya memiliki beberapa orang istri.

Muhammad Yamin menamatkan pendidikan di sekolah Melayu, setelah itu ia memasuki HIS dan kemudian melanjutkan ke sekolah guru di Bukittinggi. Ia juga pernah mengikuti Sekolah Pertanian dan Peternakan di Bogor (1923), tetapi tidak selesai. Pada tahun 1927 ia menyelesaikan pendidikannya di AMS, Yogyakarta. Belum puas dengan pendidikan itu, ia masuk Sekolah HakimTinggi di Jakarta hingga selesai tahun 1932 dengan gelar Meesterin de Rechten (Sarjana Hukum).

Perumus Pancasila

Muhammad Yamin merupakan salah satu tokoh dari tiga perumus orang Pancasila, Dalam membuat rumusan pancasila, ia memberikan lima hal untuk bisa dijadikan dasar negara. Usulan tersebut ia sampaikan pada saat sidang BPUPKI yang berlangsung pada 29 Mei 1945 – 1 Juni 1945. Pertama diajukan secara lisan pada tanggal 29 Mei 1945 yang berisi: 1) Peri kebangsaan 2) Peri kemanusiaan 3) Peri ketuhanan 4) Peri Kerakyatan 5) Kesejahteraan Rakyat.

Kemudian rumusan tersebut berubah saat Muhammad Yamin menyampaikan rumusan dasar negara yang diajukan secara tertulis, yaitu: 1) Ketuhanan Yang Maha Esa 2) Kebangsaan persatuan Indonesia 3) Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan 5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dilihat dari rumusan yang diajukan oleh Yamin terlihat bahwa semua gagasannya terhimpun ke dalam rumusan pancasila yang di sahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 dan rumusan dasar negara dalam pembukaan UUD 1945 terletak pada alinea ke empat. Terlihat pula bahwa ia adalah seseorang yang sangat toleransi dan memiliki intelektual tinggi. Dari gagasannya bisa saja ia membuat usulan pertama ketuhanan dengan menjalankan syari’at Islam. Namun ia sadar bahwa Indonesia adalah negara majemuk dengan berbagai macam latar belakang agama dan kepercayaan. Inilah ciri dari seorang keturunan Minangkabau, yakni punya jiwa toleransi yang tinggi.

Sementara itu Soepomo memberikan lima usulan rumusan pancasila yaitu: persatuan, kekeluargaan, keseimbangan lahir dan batin, musyawarahdan keadilan rakyat. Selanjutnya presiden pertama Indonesia, Soekarno juga turut memberikan usulan rumusan pancasila, yaitu: kebangsaan Indonesia, internasionalisme dan peri kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan Yang Maha Esa.

Keteladanan dari Muhammad Yamin

Muhammad Yamin memiliki peran penting dalam perjuangan Indonesia. Aktif sedari muda memperjuangkan benih-benih persatuan untuk bangsa melalui karya-karyanya. Tak heran jika ia merupakan seorang sastrawan yang mumpuni. Diantara karya-karyanya, yaitu: Tanah Air (puisi), Indonesia, Tumpah Darahku, Tan Malaka, Gadjah Mada, dan lain sebagainya.

Dari sejarah perjuangan Muhammad Yamin sebagai pahlawan nasional setidaknya ada beberapa keteladanan yang bisa kita ambil, diantaranya: pertama, sikap kerja keras dan pantang menyerah. Dalam memperjuangkan sesuatu untuk kemaslahatan umat atau kepentingan bermasa mesti ada usaha dan kerja keras. Sebab, apapun yang kita inginkan tak bisa di dapatkan secara langsung tanpa adanya usaha.

Kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Toleransi adalah suatu sikap menghargai adanya perbedaan, baik agama, suku, adat dan budaya, serta dalam hal lainnya.  Sikap toleransi juga sudah mendarah daging dalam keseharian masyarakat di Minangkabau. Dalam pergaulan tidak ada saling caci-maki, yang ada adalah saling menghargai. Sehingga rasa kekeluargaan akan terjalin harmonis dimana pun ia berada. Hal ini sesuai dengan ungkapan: “Dimano bumi dipijak disitu langik di junjuang”. Maksudnya dimanapun orang Minang berada, maka ia akan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku di daerah itu.

Selain dua hal di atas, dalam tulisan ini kita menangkis dan membungkam orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyebarkan isu-isu yang negatif tentang Minangkabau tidak Pancasilais. Muhammad Yamin telah membuktikan, bahwa ia sebagai sebagai keturunan Minang berperan penting dalam perumusan dasar negara.

Semoga dalam setiap peringatan hari lahirnya pancasila, menjadikan kita lebih menghargai jasa pahlawan dan mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan. Jangan sebaliknya, menjadikan pancasila sebagai alat untuk memecah belah bangsa dan untuk menguntungkan kepentingan pribadi. Wallahu Musta’an.

/* Penulis adalah penulis Buku Antologi Sepuluh Ribu Pantun Nasihat. 2) Permainan Tradisional Pembentuk Generasi Emas Indonesia. 3) Menjadi Generasi Milenial Rabani. 4) Pada Senja Aku Bersajak. 5) Keluarga dalam Pusaran Pandemi. E-mail: rezi.rahmat37@gmail.com.

Related posts