Jauh Dari Pesisir Pantai, Pemdes Saureinu Sipora Mentawai Inisiatif Bangun Kolam Ikan Bioflok

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, MENTAWAI – Memenuhi kebutuhan warga akan konsumsi ikan, Pemerintah Desa melalui BUMDES Saureinu Kecamatan Sipora Selatan Mentawai tahun ini berhasil melakukan pembudidayaan ikan Lele, Nila dengan sistem Bioflok.

Kepala Desa Saureinu Tirjelius menyebutkan, Ada sebanyak 8 kolam ikan dengan sistem Bioflok yang sekarang ini sudah terisi ikan untuk di besarkan yang mana nantinya akan menunjang kebutuhan ikan di Desa Saureinu dan sekitarnya, ujar Kepala Desa kepada wartawan saat turun langsung ke lokasi pembudidayaan, Selasa (14/09/2021).

Read More

“Desa Saureinu cukup jauh dari kawasan pesisir pantai sehingga warga susah mendapatkan ikan, maka dari itu kita berinisiatif membuat gebrakan baru membangun kolam Bioflok”, ucap Tirjelius.

Kepala Desa menyebutkan, pembangunan kolam hingga hingga pembelian bibit ikan, menyerap anggaran sekitar Rp 114.697.000 yang bersumber dari APBN. Dan saat ini tepatnya 3 Sebtember 2021 lalu, 6 dari 8 unit kolam Bioflok sudah terisi sebanyak 7.800 ekor ikan lele, dan 3.700 ekor ikan nila, dalam tiga bulan ke depan, sudah bisa melakukan pemanenan pertama, sebut Tirjelius.

Ikan yang dipanen nantinya bakal dipasarkan ke masyarakat Desa Saureinu itu sendiri, yang sesuai dengan harga pasar, hasil penjualan akan di kelola oleh BUMDES, tuturnya.

Dalam pengembangan atau budidaya ikan kolam Bioflok, pihak Pemerintah Desa Saureinu menggandeng pihak SMK Negeri 1 Mentawai. Kerja sama ini melibatkan pendamping Guru dan alumni SMK yang memiliki sertifikat resmi.

Dikatakan Kepala Desa, kalau nanti kolam Bioflok ini berhasil, pastinya akan di jadikan tempat pelatihan bagi Siswa Siswi SMK maupun masyarakat umum yang berniat memulai usaha kolam dengan sistem Bioflok dalam membudidayakan ikan air tawar, ujar Kepala Desa yang masuk tiga periode itu.

Demi melancarkan proses pengembangan ikan pihak Pemerintah Desa Saureinu merekrut Yedijah Tatubeket alumni SMK 1 Sipora warga setempat yang berpengalaman di bidang kolam Bioflok dan sudah menjalani pelatihan budidaya ikan di Kota Padang selama 2 bulan serta telah memiliki sertifikat.

Di ketahui Yedijah Tatubeket di rekrut oleh pihak Desa setempat tanpa honor apa pun, namun ia akan menerima imbalan dari hasil penjualan ikan, dirinya melakukan pekerjaan ini penuh semangat setulus hati. Pengetahuan yang ia peroleh dalam pelatihan benar benar diterapkannya untuk kemajuan Desa.

Kepada wartawan Yedijah menjelaskan, Budidaya Lele dan ikan Nila sistem Bioflok adalah sebuah sistem pemeliharaan ikan lele dengan metode menumbuhkan mikroorganisme yang berfungsi sebagai pengolah limbah budidaya lele itu sendiri.

Bio yaitu kehidupan, Flok adalah gumpalan gumpalan. Limbah pada budidaya lele diolah menjadi gumpalan-gumpalan yang berbentuk kecil atau bisa disebut sebagai flok/floc.

Flok tersebut kemudian akan dimanfaatkan sebagai pakan alami lele. Untuk menumbuhkan mikroorganisme dapat dipacu dengan cara kultur bakteri non pathogen atau probiotik, serta menggunakan aerator dalam kolam untuk menyuplai oksigen sekaligus sebagai pengaduk air di dalam kolam, terang Yedijah.

Kolam Bioflok ini hanya dengan menggunakan bahan terpal yang diperkuat dengan rangka atau tulang-tulang dari besi atau bambu. Untuk ukuran kolam, dapat menyesuaikan dengan lahan yang telah dipersiapkan, imbuhnya.( Tirman)

Kepala Desa Saureinu Kecamatan Sipora Selatan Mentawai Tirjelius saat menunjukkan kolam Bioflok yang sudah terisi ikan, Selasa (14/09/2021)

Related posts