Jeritan Kelompok Wanita Tani

  • Whatsapp
Naufal Jihad
Naufal Jihad (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Naufal Jihad

Dalam sebuah realitas sosial kehidupan setiap individu memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun suatu potensi yang ada pada setiap individu sangat terbatas sehingga memerlukan bantuan dari individu lain yang dapat memberikan bantuan tersebut. Kenyataannya dapat dilihat dari beberapa pandangan yang menyatakan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang hidup berdampingan dan saling melengkapi antara satu individu dengan individu yang lain. Kehidupan masyarakat saat ini telah banyak dipenuhi oleh berbagai lembaga, organisasi dan kelompok yang menjadi wadah memenuhi kebutuhan sosial. Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi salah satu kelompok yang mencakup seluruh aspek kehidupan sosial masyarakat. Terdapat perempuan sebagai aktornya, kemudian petani sebagai salah satu isu, dan sosial-ekonomi menjadi permasalahan yang masuk ke ranah Kelompok Wanita Tani.

Read More

Bicara mengenai petani telah banyak meninggalkan jejak sejarah, ketika masa perjuangan kemerdekaan Indonesia peran dari petani melalui sebuah gerakan sosial cukup banyak berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. kehidupannya yang sederhana acap kali digolongkan kedalam kelas sosial yang rendah. Sehingga banyak mengalami ketidakadilan karena beberapa aktivitas politik selama ini tidak begitu mendukung kehidupan sosial masyarakat kelas menengah kebawah. Sejak dahulu telah banyak pemikiran-pemikiran untuk memperjuangkan kehidupan kelompok tani yang dimulai dari pemikiran Soekarno tentang marhaenisme. Memperjuangkan nasib wong cilik dengan berbagai upaya seperti membentuk gerakan sosial hingga mempengaruhi dan membentuk sebuah kebijakan yang pro terhadap permasalahan wong cilik.

Namun kenyataannya hari ini apa yang telah dipikirkan oleh para pendahulu hanya sebatas sebuah pemikiran dan belum direalisasikan dengan baik. Untuk itu masih banyak kelompok-kelompok tani yang mencoba membentuk sebuah gerakan untuk tetap memperjuangkan nasib mereka. Begitulah yang terjadi saat ini terlebih lagi jika dihubungkan dengan keberadaan perempuan dan kelompok tani, banyak masalah yang timbul ditengah kelompok wanita tani. Ketika seorang perempuan memiliki masalah dengan isu gender sebagai satu masalah yang besar, kemudian petani dengan masalah kelas sosial yang dihadapinya hingga saat ini, menjadikan kelompok wanita tani memiliki masalah yang mencakup seluruh aspek kehidupan sosial maupun politik. Dibalik perjuangannya sebagai perempuan, mereka harus memperjuangkan nasib sebagai seorang petani untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Masalah Sosial

Berdasarkan apa yang disaksikan secara langsung ketika melakukan aktivitas bersama dengan kelompok wanita tani di kelurahan Manggis Gantiang kota Bukittinggi. Ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi, terbentuknya kelompok wanita tani ini melahirkan proses interaksi sosial yang alami dan lebih emosional karena pembicaraan yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga pada umumnya tentu berdasarkan realita yang dialami dalam setiap proses kehidupan sosial, mulai dari mengurus anak, suami hingga permasalahan yang dihadapi dalam lingkup sosial masyarakat sekitarnya. Bentuk mengekspresikan atau meluapkan emosional perempuan atau ibu-ibu adalah dengan bercerita dengan sesama sambil melakukan aktivitas dan sangat tepat sekali jika ada suatu agenda yang dilakukan bersama-sama, maka akan lebih efektif bagi para ibu-ibu tersebut melakukan interaksi sosial.

Masalah Ekonomi

Pandemi Covid-19 menjadi perbincangan yang ramai dibincangkan setiap kali bertemu, karena hal itu telah merubah seluruh tatanan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Bagi sebagian ibu rumah tangga harus mengeluarkan usaha yang lebih untuk mempertahankan perekonomian keluarga, faktor-faktornya sudah jelas karena sebagian keluarga tidak bisa berharap penuh kepada kepala keluarga untuk memenuhi kebutuhannya, kemudian anak menjadi pendorong untuk terus berjuang demi masa depan mereka bagaimanapun caranya. Untuk itu dengan wadah kelompok wanita tani, selain interaksi sosial sebagai ajang komunikasi antar sesama tentu tujuan lain dari terbentuknya kelompok itu adalah demi menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan perekonomian keluarga.

Masalah Pendidikan Anak

Ketika kehidupan normal baru yang mengharuskan setiap aktivitas masyarakat berubah total, karena keadaan memaksa untuk merubahnya dengan dorongan teknologi sebagai tantangan dan hasil dari peradaban dunia yang telah maju. Pendidikan anak menjadi masalah yang terus menerus dibicarakan oleh para orang tua terkhususnya ibu, akibat perubahan tatanan pendidikan anak yang dahulu proses pembelajaran anak secara keilmuan dan karakter diserahkan penuh kepada guru disekolah. Namun karena pandemi Covid-19 mengharuskan orang tua mengambil peran dari para guru dengan menuntun anaknya belajar dari rumah. Keluhan yang banyak dibicarakan ibu-ibu tersebut adalah bagaimana memposisikan dirinya dengan baik terhadap anaknya, statusnya sebagai orang tua dan pekerjaannya terkadang tidak mampu menuntun pendidikan anak secara tepat seperti apa yang dilakukan oleh para guru disekolah.

Masalah Politik

Menariknya lagi dari apa yang dibicarakan oleh ibu-ibu kelompok wanita tani tersebut, yaitu membahas mengenai masalah pemerintah baik itu dari pemerintah daerah hingga masalah yang terjadi pada pemerintah pusat. Dengan segala upaya yang dilakukan oleh ibu-ibu untuk menjalani kehidupan yang cukup rumit saat ini tentu tidak ketinggalan dengan isu-isu politik yang terjadi di Indonesia. Perhatiannya terhadap masalah politik cukup tinggi ketika pandemi Covid-19 melanda masyarakat dan faktor lainnya adalah kepemimpinan presiden Jokowi yang dianggap cukup mengecewakan masyarakat karena kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah telah banyak merugikan masyarakat terkhususnya masyarakat kelas menengah kebawah.

Kepekaan terhadap isu-isu politik pun semakin meningkat ketika peran serta usaha dari mahasiswa sebagai perlawanan atas ketidakadilan yang dialami masyarakat telah direnggut oleh pemerintah. Keterbatasan pergerakan mahasiswa akibat kebijakan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 dan perlakuan oknum aparat ketika mahasiswa melakukan demonstrasi mengakibatkan para ibu-ibu geram sehingga muncul pemikiran untuk menggantikan posisi mahasiswa sebagai simbol perlawanan yang telah dilemahkan oleh pemerintah. Keberanian yang dimunculkan oleh kelompok wanita tani ketika melakukan interaksi antar sesama cukup meyakinkan kita semua karena semangat dan kepekaannya terhadap politik telah banyak merubah tatanan kehidupan perempuan terkhususnya para ibu-ibu rumah tangga yang dahulu hanya sebatas mengurus rumah tangga, namun saat ini harus turut andil demi memperjuangkan kehidupan masyarakat.

Akhirnya setiap pemikiran yang dihasilkan mampu melahirkan rencana untuk melakukan sebuah perlawanan atas ketidakadilan yang dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa sewaktu-waktu kelompok masyarakat seperti kelompok wanita tani akan membangun sebuah gerakan sosial baru yang mewakili aspirasi masyarakat dan secara tidak langsung juga membawa kepentingan kaum perempuan untuk memperjuangkan apa yang selama ini telah merugikan kehidupan mereka. Jika hal itu diarahkan dengan baik oleh kita sebagai akademisi atau orang yang terpelajar sekiranya dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang positif kepada ibu-ibu tersebut untuk berpikir lebih fleksibel serta pemahaman akan realita politik menjadi lebih bermakna. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa KKN Tematik Universitas Andalas.

Related posts