“Junjuangan Baniah” dalam Penanaman Benih Padi di Minangkabau

  • Whatsapp
sawah minang
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Muhammad Zhafran Nabil

Junjungan benih atau yang biasa disebut orang Minangkabau Junjuangan Banih adalah suatu tradisi unik yang dilakukan oleh para petani Minang sebagai tanda bahwa sawah tersebut akan ditanami benih padi. Tradisi tersebut sudah dilakukan dari zaman nenek moyang dahulu sebagai tanda bahwa pemilik sawah akan menanam benih. Biasanya, tradisi junjungan benih bisa ditemukan di wilayah darek (darat) atau perkampungan di Minangkabau.

Read More

Tradisi junjungan benih prosesnya hanya penancapan junjungan di tengah sawah. Sawah yang akan ditancapi junjungan benih adalah Sawah Godang/Pusek Sawah (sawah besar atau sawah pusat). Pada pagi hari, sebelum penanaman benih, pemilik sawah akan mengambil beberapa daun, seperti daun pinang, daun serai, dan daun puding untuk dijadikan sebagai junjungan benih. Kemudian, junjungan tersebut akan ditancapkan pada pertengahan sawah yang akan ditanami. Setelah ditancapkan, junjungan benih tersebut akan dikelilingi beberapa benih padi sebagai tanda awal penanaman benih. Pada saat itu, dimulailah para petani untuk menanam benih.

Menurut urang-urang zaman saisuak (orang-orang lama Minangkabau), penancapan junjungan benih pada sawah akan mendorong dan mempercepat tumbuhnya benih, dikarenakan pada zaman dahulu, benih-benih padi butuh cukup waktu lama. Karena, benih zaman dahulu bisa dipanen hanya dua kali dalam setahun. Untuk itu, orang-orang dahulu mempercayai bahwa junjungan benih akan memepercepat tumbuh benih padi dan pada akhirnya, junjungan padi menjadi suatu hal unik dan tradisi bagi para petani yang akan menanam padi di sawah. Namun,saat ini, benih padi bisa dihasilkan dengan waktu yang singkat mulai dari 3-4 bulan sudah boleh dipanen.

Kepercayaan lainnya tentang junjungan benih oleh orang-orang dahulu, yaitu jika junjungan benih yang dipakai adalah junjungan daun serai, maka padi akan tumbuh besar dan kokoh batangnya layaknya batang serai dan juga jika memakai junjungan daun serai, padi yang dihasilkan cukup banyak dan beras yang dihasilkan sangat putih dan harum seperti bau serai.

Junjungan benih juga dilakukan saat penaburan benih padi ke sawah. Untuk menjadi padi yang super, dibutuhkna butiran padi yang sudah dikeringkan, kemudian direndam selama dua malam. Kemudian esoknya dikeringkan kembali selama dua hari. Jadilah benih padi yang unggul. Sebelum padi disemai/ditaburkan ke sawah, dilakukan penancapan junjungan benih ditengah sawah. Kemudian para petani mulai menaburkan benih padi ke sawah yang sudah dikhusukan buat padi muda sebelumnya.

Junjungan benih yang akan dipakai pada proses tumbuhnya padi awal adalah junjugan benih daun sarai, karena padi yang akan tumbuh menghasilkan beras yang harum dan juga mempercepat pertumbuhan padi. Padi jugamerupakan salah satu filosofi minagkabau karena dari padi kita bisa mengambil pelajaran hidup, sebagaimana ungkapan kiasan berikut, Padi Satampang Baniah. Kiasan ini bermakna bahwa seseorang individu itu tumbuh dan berkembang dalam lingkungan alam yang membentuk dirinya. Ia tidak terlepas dari rahim alam yang membentuk bagian jasad dan fisiologis tubuh yang menjadi rangka bagi ruh. Seseorang akan berada dalam lingkungan awal berupa keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar untuk tumbuh yang dinamakan pasamaian(persemaian/penaburan benih). Inilah perwujudan dari cinta seorang pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan yang sah secara agama dan adat. Benih yang tumbuh sangat ditentukan oleh kualitas seorang calon ayah dan calon ibu. Akan dilihat garis keturunan, tabiat suku dan kurenah pergaulan dalam kehidupan bernagari.

Kemudian setelah cukup umur dan pantas untuk berpisah dari persemaian awal, pemuda minang harus dipindahkan dan tercabut dari penyemaian. Rantau adalah sawah yang telah menanti untuk berjuang tumbuh dan bermanfaat dalam setiap langkah serta motivasi dan doa merupakan penyemangat hidup dalam segala urusan seperti junjungan benih di sawah yang membantu sawah dalam masa tumbuh. Beginilah filosofi orang minag yang dengan alam bisa hidup dimanapun. Padi yang awalnya hanya butiran benih akan menjadi butiran beras sesuai dengan kualitas dan kuantitas padi tersebut. Dengan tradisi junjungan benih, mendorong padi dan benih yang akan tumbuh menjadi beras yang berkualitas tinggi. Inilah prinsip hidup dari orang-orang minang dahulu kala yang mengambil segelintir ilmu dari alam yang ada dan masih banyak lagi filosofi orang minang terkai dengan benih, junjungan benih, dan padi, serta beras yang akan dimakan.

Namun, tradisi ini sudah mulai hilang di Minangkabau, terkhusus sawah-sawah yang ada di perkotaan. Sehingga orang tidak mengetahui tradisi unik yang dimiliki oleh alam minangkabau dan sudah mulai terlupakan. Orang sudah mulai sibuk akan urusan dunianya, sehingga adab dan ilmu yang dapat dipelajari di alam itu luntur. Oleh karena itu, disaat sekarang ini, manusia generasi penurus bangsa hilang akan moral dan sikap karena tidak menghargai akan tradisi.

Maka dari itu, jangan pernah dihilangkan tradisi  yang ada di daerah kita, terkhusus untuk orang Minangkabau karena sesuai pepatah Minang, Älam Takambang Jadi Guru, alam memberikan semua hal yang kita butuhkan, walau hanya sekedar daun junjungan. Karena itu, junjungan benih diperlukan sebagai tanda bahwa orang Minang akan memulai penanaman benih untuk menghasilkan padi yang berkualitas dan berkuantitas untuk beras yang memiliki aroma dan khas daerah Minangkabau.

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts