Kadis Kominfo Bukittinggi Sebut, Presidensia G20 Satukan Dunia dalam Proses Digitalisasi

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI – Presidensia G20 merupakan kekuatan besar di Uni Eropa yang keanggotaannya lebih banyak negara-negara di Eropa. Pada intinya dunia itu dapat disatukan untuk membangun daerah. Hal ini disampaikan Kadis Kominfo Kota Bukittinggi Erwin Umar, saat ditemui Minangkabaunewscom di ruang kerjanya, Selasa (18/10/2022).

“Jadi dunia ini disatukan dalam proses digitalisasi, baik itu dalam masalah pembangunan, sosial budaya maupun ekonomi,” ujar pria kelahiran Kota Bukittinggi ini.

Read More

Hal ini sebut Erwin, sangat erat kaitannya, bagaimana Eropa itu menjadi suatu kekuatan yang bisa membantu negara-negara berkembang, seperti “Indonesia” dan juga bagi negara-negara yang dalam proses akan lebih maju.

Anugerah Jurnalistik Kominfo 2022.

“Presidensia G20 Ini Intinya adalah memberi gambaran kepada kita, bagaimana suatu percepatan pembangunan bagi Indonesia khususnya, karena apa? selama satu tahun pertemuan- pertemuan dari berbagai lintas sektoral itu diadakan di Indonesia,” sebut bapak tiga orang anak ini.

Nah! Sekarang peluang itu kata Erwin, sampai dimana pemerintah Indonesia bersama seluruh stakeholder mengambil entry point dari pada kegiatan tersebut, Misalnya di bidang ekonomi, membangun infrastruktur, dan penanggulangan kemiskinan dan lain sebagainya.

“Di sanalah peluang-peluang meeting-meeting yang kita lakukan, dan itulah yang akan mempercepat proses Indonesia menjadi negara besar dan sejajar dengan negara di Eropa. Ini kesempatan yang terbaik bagi Indonesia, peluang ini tentu harus dihitung juga, ekonomic cost (biaya ekonomi) atau biaya implisit (biaya peluang) dari pada Indonesia itu sendiri,” tutur pria lulusan magister pendidikan Universitas Negeri Padang itu.

Kalau untuk penyelenggaraan, saya merasa tidak akan ada masalah kata Erwin, bahkan itu bisa sukses, tapi setelah itu, beberapa kementerian, sempatkah memberikan peluang transformasi digital, misalnya di bidang Diskominfo. Nah, Apa yang akan kita lakukan? Sekarang di Indonesia itu, sudah ada suatu sistem, semua kita itu melakukan transaksi e-money atau disebut dengan transaksional digital,” sebut Erwin sambil mengomentari.

Di Indonesia sekarang sudah mengarah kepada satu data (bigt data), itu masalah di Diskominfo juga kata Erwin. Big data itu, terkomfirmasi semua data dalam satu sistem, itu sudah dimulai di Diskominfo maupun di kegiatan pemerintahan lainnya. Nah sekarang persoalannya, apakah peluang itu bisa menjadikan suatu percepatan dari pada proses pembangunan itu sendiri.

“Peluang-peluang itulah yang bisa kita  manfaatkan, misalnya di bidang perdagangan, mampukah masyarakat pengusaha-pengusaha Indonesia untuk melakukan ekspor secara besar-besaran ke luar negeri dengan standarnya. Di sanalah yang kita gali potensi itu,” tutur Erwin memotivasi.

Kemudian, sudah mulai bergerakkah golongan ekonomi menengah ke bawah untuk mulai mengupgrade posisinya menjadi eksportir pemula. Selama ini mereka bermain di dalam, bisakah mereka jadi eksportir pemula, masuk ke link yang lebih bagus, tambah Erwin.

Erwin melihat peluang ini sangat besar dalam menentukan arah transformasi digital global saat ini, sebagai kunci pemulihan tatanan ekonomi global pasca pandemi ke seluruh lapisan masyarakat.

“Kita sudah mulainya, dan saya rasa untuk Kota Bukittinggi bahkan di Sumatra Barat kita sudah terdepan dalam masalah big data ini. Satu data nanti akan kita lakukan dengan program- program. Yang inovasi itu dilakukan oleh pegawai kita, dan tidak menggunakan tenaga ahli yang lain, cukup dengan ASN kita yang ada,” terang Kadis Kominfo Kota Bukittinggi itu.

Pihaknya berharap setiap insan manusia harus mengupgrade diri (menjadi diri pribadi jadi lebih baik ) untuk transformasi digital, tidak bisa tidak. Contohnya kasarnya saja, masak bayar pajak, bayar token listrik, air habis- habis setengah hari untuk itu, dengan menggunakan smartphone lima menit saja selesai.

“Orang yang melek dengan transformasi digital, mereka akan tertinggal, yakinlah,” tukas Erwin Umar mengakhiri. (*)

Related posts