Keberkahan Makanan

  • Whatsapp

Ani dan Lina bersahabat sejak mereka duduk di bangku SMA. Ketika melanjutkan kuliah mereka mengambil Universitas yang berbeda. Namun komunikasi tetap terjaga dan terkadang mereka janjian bertemu untuk melepas rindu. Seperti hari ini. Mereka janjian bertemu di toko buku.

Setelah lelah keliling, mereka sepakat untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang. Sambil bercerita mereka masuk ke ruko dan memesan mie ayam, makanan kesukaan mereka berdua.

Read More

Awalnya biasa saja. Pelayan melayani mereka dengan ramah. Setelah memesan, pelayan memanggil seseorang untuk membuatkan mie ayamnya. Keluarlah seorang laki-laki berwajah oriental. Baru akan membuatkan racikan mie ayam, datang perempuan dengan bahasa khasnya. Mereka saling bercerita.

Mendengar mereka bercerita, Ani menghentikan obrolannya dan tiba-tiba berdiri. Lina manatap Ani tak paham. Seolah meminta penjelasan “ada apa?” dari sorot matanya.

“Kita batalkan pesanannya. Cari ke tempat lain saja”. Lina bingung dengan perubahan sahabatnya itu.
“Kenapa? Kita kan sudah pesan. Gak enak kalau dibatalkan”.
“Ya sudah kalau kamu masih mau makan disini. Aku cari tempat lain saja.” Ani kekeh ingin keluar.

Melihat Ani yang sudah beranjak meninggalkan tempat duduknya, Lina pun ikut mengekor di belakangnya. Lalu Ani mendekati pelayan yang tadi melayani mereka.

“Maaf, ya Mba. Pesanan mie ayam tadi dibatalkan.”
“Loh, kenapa, Mba? Mienya lagi dibuatkan”, tanya balik si pelayan heran.
“Gak, papa, Mba. Tadi ditelepon disuruh segera pulang. Sekali lagi maaf, ya, Mba.”

Setelah mengatakan itu, Ani buru-buru keluar sambil menarik tangan Lina. Setelah agak jauh, Lina berhenti dan menatap Ani meminta penjelasan.

“Maaf, kita tadi tidak memperhatikan tempat makannya karena terlalu larut dalam obrolan. Saya baru ngeh setelah mendengar mereka tadi ngobrol dan baru memperhatikan tempatnya. Ternyata mereka non muslim.” Lina mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Jangan berprasangka buruk dengan orang lain. Dari mana kamu tau mereka non muslim. Asal tebak jadi dosa. Mau lu….”
“Gak asal tebak, Lin. Kamu gak lihat dan gak memperhatikan sih. Kalau perempuan yang baru datang itu minta untuk dimasakin daging babi.” Lina langsung kaget dan istighfar.

“Makanya aku gak mau makan disana. Kita punya hak untuk menentukan asupan kehalalan dalam tubuh kita. Jangan biarkan karena sudah terlanjur atau gak enak, kita mengorbankan tubuh kita sendiri. Sekecil apa pun semua ada pertanggung jawabannya”. Lina hanya manggut-manggut.

Terkadang kita suka khilaf tidak memperhatikan asupan makanan yang masuk ke tubuh kita. Halal dan barokah kah? Ini kecil tapi dampaknya sangat dahsyat untuk keberlangsungan hidup kita dalam jangka panjang.

Related posts