Kebudayaan Minangkabau Mulai Memudar, Salah Siapa?

  • Whatsapp

Oleh: Muhammad Arjun

Kebudayaan adalah salah satu aset penting dalam kehidupan karena dalam kebudayaan terdapat kearifan lokal dari suatu masyarakat yang tentunya menjadi ciri khas yang membedakan dengan masyarakat lainnya. Kebudayaan tercipta oleh masyarakat itu sendiri. Kebudayaan berisi oleh akal pikiran manusia yang diekspresikan lewat berbagai kegiatan yang tentunya dibarengi dengan sebuah unsur estetika yang menambah keunikan dari sebuah budaya. Kebudayaan diciptakan oleh masyarakat pada suatu daerah lalu dilaksanakan secara berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang tetap ada hingga saat sekarang ini.

Read More

Masyarakat saat ini sudah sangat jarang menyaksikan langsung atau mengikuti sebuah kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan. Parahnya, masyarakat terlalu sibuk dengan urusan lain sehingga tidak memikirkan kondisi kebudayaan pada saat ini. Mereka tidak sadar bahwa eksistensi kebudayaan Indonesia terkhusus kebudayaan Minangkabau semakin hari semakin memprihatinkan. Di Minangkabau, kebudayaan yang merupakan warisan dari nenek moyang yang seharusnya dijaga oleh para generasi muda mulai diragukan eksistensinya karena semakin hari minat masyarakat semakin pudar.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab lunturnya kebudayaan Minangkabau. Pertama, kurangnya kesadaran dari masyarakat untuk mempelajari budaya. Kedua, semakin canggihnya teknologi yang membuat masyarakat semakin acuh pada budaya. Terakhir, masyarakat yang lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dari bidang lain selain bidang kebudayaan.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya. Faktor ini menjadi faktor terpenting penyebab lunturnya kebudayaan. Kesadaran sangat dibutuhkan dalam upaya menjaga eksistensi budaya karena masyarakat adalah tempat berlangsungnya suatu budaya dan tentunya masyarakat pula yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keberlangsungan budaya di daerahnya. Kenapa kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya sangat rendah? Hal ini karena kurangnya pengetahuan tentang budaya itu sendiri. Sekolah-sekolah yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat sekarang ini sudah sangat jarang mengajarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya kepada para siswa. Padahal, siswa yang merupakan generasi muda adalah tonggak terpenting untuk menjaga keutuhan suatu budaya yang ada dalam masyarakat. Mereka yang menjadi fondasi dari suatu peradaban manusia.

Kemudian, teknologi yang semakin kian canggih semakin memperparah keadaan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat dunia semakin tak terbatas. Semuanya bisa diakses dalam waktu hitungan detik saja. Semua aspek kehidupan bebas masuk ke Indonesia berkat adanya teknologi, termasuk kebudayaan. Kebudayaan asing bebas masuk ke Indonesia. Lewat televisi ataupun internet, budaya asing mulai merasuki generasi muda. Generasi muda yang tidak bisa memilih mana yang baik dan buruk akan terjebak pada budaya barat yang berseberangan dengan budaya kita terkhusus budaya Minangkabau. Hal inilah yang membuat eksistensi kebudayaan Minangkabau semakin terpinggirkan. Sebenarnya, teknologi yang canggih tidak hanya membawa dampak buruk terhadap eksistensi budaya karena tetap ada sisi positif yang bisa diambil dari teknologi yang semakin canggih. Teknologi bisa membuat masyarakat lebih tertarik kepada budaya. Teknologi bisa dijadikan sarana untuk mempromosikan budaya, karena dengan teknologi budaya bisa dikemas dengan visual yang lebih menarik seperti video yang tentunya disukai semua kalangan termasuk anak-anak. Namun, fakta yang ditemukan para pengguna teknologi seperti video creator lebih memilih untuk membuat konten lain seperti game, keindahan alam, dan lain sebagainya. Selain itu, saat ini para remaja lebih suka untuk menonton K-Pop daripada melihat festival budaya. Hal itu juga disebabkan oleh rendahnya kepedulian terhadap budaya.

Masyarakat yang memenuhi kebutuhan ekonomi tetapi tidak lewat kebudayaan menjadi faktor ketiga penyebab lunturnya kebudayaan. Sebenarnya, melalui kebudayaan masyarakat juga bisa berpenghasilan. Untuk menghasilkan uang bisa dilakukan dengan cara menjadi konten kreator budaya, dan lain sebagainya. Namun, faktanya sangat sedikit masyarakat yang melakukan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Mereka lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam bidang lain seperti bekerja di kantor atau menjadi pengusaha. Mereka sebetulnya tidak bisa disalahkan karena memang saat ini penggerak budaya tidak terlalu bisa menghasilkan uang dengan jumlah yang besar karena faktanya masih banyak kebijakan yang tidak terlalu mengapresiasi para pelaku budaya.

Kebudayaan Minangkabau yang mulai luntur, semakin dibuat terpuruk oleh adanya pandemi. Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui pandemi Virus Corona telah melanda Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Tidak hanya di Indonesia, banyak negara di dunia juga merasakan efek dari virus yang berasal dari China ini. Di Sumatera Barat sendiri angka kasus COVID-19 cukup tinggi sehingga pemerintah membuat kebijakan melaksanakan PSBB. Setelah PSBB tidak lagi diberlakukan, kita dituntut untuk mengikuti semua prosedur yang ada pada era new normal saat ini. Saat ini hal yang wajib kita lakukan adalah menjaga protokol kesehatan guna menekan angka kasus COVID-19 di Indonesia.

Pandemi memberikan dampak terhadap segala bidang kehidupan, termasuk bidang kebudayaan. Pelaksanaan budaya di era pandemi sangat jarang dikarenakan terhambat kebijakan pemerintah yang tidak mengizinkan keramaian. Kesadaran masyarakat akan budaya yang tidak terlalu tinggi semakin diperparah dengan adanya pandemi. Berbagai festival yang semulanya direncanakan harus dibatalkan karena berpotensi mengundang keramaian dan tentunya meningkatkan angka kasus COVID-19.

Sebenarnya kegiatan yang berbasis budaya masih bisa dilakukan di era pandemi saat ini. Sebagai bukti masih ada beberapa pertunjukan atau festival budaya yang tetap dilaksanakan meskipun sedang dilanda pandemi. Festival budaya dilaksanakan dengan cara mematuhi protokol kesehatan seperti mengurangi kapasitas ataupun mengatur jarak audiens yang hadir. Selain itu, agar budaya tetap bisa terlaksana dengan baik. Sebuah festival budaya bisa dilaksanakan melalui virtual. Seperti live streaming di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, ataupun YouTube. Akan tetapi, meskipun bisa dilaksanakan secara virtual, festival tersebut tidak akan terlaksana secara maksimal karena minat masyarakat tidaklah terlalu tinggi. Terlebih-lebih masih banyak masyarakat yang masih gagap terhadap teknologi. Untuk remaja sendiri mereka tentunya lebih memilih untuk menggunakan ponselnya untuk hal lain seperti Tik-Tok daripada mengikuti festival budaya.

Untuk itu dibutuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab dari semua aspek masyarakat, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah. Ketiga aspek ini harus bekerja sama dengan baik dan saling mendukung keberlangsungan budaya Minangkabau. Yang harus dilakukan agar kebudayaan tetap terjaga dengan baik, untuk pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan keberlangsungan budaya yang ada di suatu daerah. Pemerintah sebaiknya memasukkan kebudayaan pada kurikulum pendidikan agar pengetahuan terhadap budaya bisa didapat sejak kecil. Selain itu diharapkan agar pemerintah lebih memperhatikan budaya yang ada di perkampungan, jangan hanya terpusat di perkotaan saja. Kemudian masyarakat harus lebih memperhatikan segala aktivitas kebudayaan dan berusaha sebaik mungkin untuk mewariskan segala hal yang berhubungan dengan budaya kepada generasi muda. Terkhusus untuk generasi muda harus menumbuhkan lagi kesadaran akan pentingnya budaya karena eksistensi suatu budaya terletak di tangan generasi muda. Semoga budaya Indonesia terkhusus Minangkabau tetap terjaga dengan baik, tidak punah dan bisa bersaing dengan budaya-budaya asing yang tidak bisa dipungkiri semakin banyak masuk ke Indonesia.

/*Penulis :Mahasiswa Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas

 

Related posts