Kekayaan yang Dipertontonkan: Rumah Uya Kuya & Eko Patrio Dijarah Massa

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA –Di tengah malam Jakarta yang panas, Jalan Denpasar Raya, Kuningan Timur, berubah menjadi panggung amarah. Puluhan orang berdesakan, sebagian menyorotkan ponsel mereka ke arah rumah bercat putih yang berdiri megah di sudut jalan. Pagar rumah itu bergetar, lalu roboh, disambut sorak-sorai massa yang masuk tanpa ragu. Itulah rumah Eko Patrio, komedian yang menjelma politisi, anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Di dalam, kursi ruang tamu terbalik, kaca jendela pecah, dan suara gaduh bercampur dengan tawa getir. Sebagian warga keluar membawa barang—ada yang menggenggam hiasan meja, ada pula yang menyeret barang elektronik. Video-video itu kemudian menjalar di media sosial, menyalakan lagi perdebatan tentang jarak antara rakyat dengan para wakilnya.

Tak jauh berbeda, rumah selebritas yang kini juga duduk di Senayan, Uya Kuya, turut menjadi sasaran. Rekaman memperlihatkan pagar rumahnya didobrak, dinding-dindingnya dirusak, bahkan potret keluarga yang terpajang ikut jadi tontonan publik. Di balik gambar-gambar itu, ada pesan yang lebih dalam: rakyat yang marah bukan sekadar pada sosok, melainkan pada simbol kekuasaan yang dianggap tak lagi mendengar.

Beberapa jam sebelumnya, rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok juga mengalami nasib serupa. Fenomena ini seolah membentuk pola: politisi yang dulunya dikenal dekat dengan rakyat kini justru menjadi sasaran amuk warga.

Eko Patrio, dengan gaya khas komedinya, pernah memancing tawa jutaan pemirsa. Kini, rumahnya dipenuhi sorak yang berbeda: pekikan marah dan frustrasi. Dari catatan resmi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), kekayaan Eko mencapai Rp131,52 miliar setelah dikurangi utang. Sebagian besar berupa tanah dan bangunan senilai Rp166,03 miliar, dengan satu properti megah di Jakarta Selatan bernilai Rp70 miliar. Ia juga memiliki tanah di Bogor dan Nganjuk, serta enam mobil bernilai hampir Rp6 miliar.

Uya Kuya tak kalah. Dari LHKPN September 2025, total kekayaannya mencapai Rp75,59 miliar. Yang mengejutkan, salah satu asetnya ada di Amerika Serikat: sebidang tanah seluas 524 meter persegi dengan bangunan 126 meter persegi senilai Rp15 miliar. Selain itu, ia punya lima properti di Jakarta Timur dan tiga di Jakarta Selatan. Koleksi mobilnya mencapai delapan unit, dengan total nilai Rp4,31 miliar. Kas dan setara kas yang ia laporkan bahkan mencapai Rp15,28 miliar.

Harta-harta itu kini kontras dengan pemandangan kaca jendela pecah, pagar roboh, dan potret keluarga yang jatuh ke lantai.

Pertanyaannya: apa yang mendorong amarah massa hingga menjebol pagar rumah para politisi ini?

Jawaban singkatnya mungkin sederhana: ketidakpuasan. Namun narasi lebih panjang membawa kita pada rasa keterasingan yang makin menganga antara rakyat dan wakilnya. Para politisi, sebagian dari kalangan artis dan selebritas, dianggap tak lagi menyuarakan kegelisahan rakyat kecil. Mereka terlihat makmur, sementara di luar pagar rumah megah, harga beras naik, pekerjaan sulit, dan ketidakadilan terasa menyesakkan.

Massa yang menyerbu rumah Eko dan Uya mungkin tidak semuanya paham detail harta kekayaan mereka. Namun simbol-simbol kekayaan itu—mobil mewah, rumah besar, tanah luas—cukup menjadi bahan bakar amarah.

Di media sosial, potongan-potongan video penjarahan menyebar cepat, menciptakan narasi baru: ini bukan lagi sekadar protes, melainkan bentuk ekspresi kolektif yang liar, yang menembus batas hukum. Polisi turun tangan, membenarkan insiden, namun tetap saja gambar-gambar itu telanjur membekas.

Pada akhirnya, rumah-rumah megah yang digeruduk warga itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol jarak. Jarak antara yang punya dan yang tak punya. Antara janji politik dengan kenyataan hidup sehari-hari. Antara panggung hiburan dengan panggung politik yang ternyata lebih kejam.

Eko Patrio dan Uya Kuya sudah menyampaikan permintaan maaf. Tapi apakah itu cukup untuk meredakan bara di jalanan? Atau justru bara itu akan mencari rumah lain untuk disinggahi?

Di Jakarta yang tak pernah tidur, malam itu kita menyaksikan bagaimana dinding rumah bisa runtuh, dan bagaimana dinding kepercayaan antara rakyat dan wakilnya pun ikut retak.

Related posts