Kekerasan Seksual dan Agama

  • Whatsapp
Rezi Rahmat, M.Pd
Rezi Rahmat, M.Pd.

Oleh: Rezi Rahmat, M.Pd

Kasus kekerasan seksual beberapa bulan terakhir marak terjadi. Di kota Padang dalam bulan November ini saja tercatat ada dua kasus kekerasan seksual, sehingga Sumatera Barat dikatakan sedang darurat kekerasan seksual. Dua kasus tersebut yaitu, kasus pencabulan terhadap dua orang bocah yang dilakukan oleh kakek, paman, kakak dan tetangga korban. Selanjutnya kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang guru mengaji terhadap 3 orang anak. (kompas.com)

Read More

Kekerasan seksual ini diibaratkan fenomena gunung es. Sebab kasus yang terlihat hanya sedikit dari sekian banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia pada tahun 2021. Banyak kasus kekerasan seksual tidak dilaporkan dan tidak terungkap. Salah satu alasan banyak kasus tersebut tidak terungkap diakibatkan adanya intimidasi dan ancaman terhadap korban. Sehingga korban takut untuk  untuk melapor dan menceritakan kejadian yang menimpa mereka.

Apa itu Kekerasan Seksual?

Sebagian masyarakat belum sepenuhnya paham mengenai kekerasan seksual. Mereka hanya memahami kekerasan seksual sebagai tindakan pemerkosaan saja. Namun, kekerasan seksual bisa juga berupa perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan dan menyerang tubuh serta organ reproduksi seseorang secara paksa. Hal itu juga yang menyebabkan kasus kekerasan seksual tidak terdeteksi, walaupun secara tidak sadar kekerasan seksual terjadi di tengah-tengah masyarakat. 

Kekerasan seksual juga bisa dimaknai segala tindakan yang terdiri dari aktivitas seksual yang dilakukan secara paksa oleh orang dewasa pada anak atau oleh anak pada anak lainnya. Kekerasan seksual meliputi penggunaan atau pelibatan anak secara komersial dalam kegiatan seksual, bujukan, ajakan atau paksaan terhadap anak untuk terlibat dalam kegiatan seksual, pelibatan anak daam media audio visual dan pelacuran anak. (UNICEF, 2014).

Kekerasan Seksual dalam Perspektif Agama

Pada dasarnya semua agama mengecam dan melarang perbuatan kekerasan seksual. Termasuk Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi kehormatan seorang manusia juga melarang tindakan kekerasan seksual. Sebab perbuatan itu termasuk ke dalam perbuatan zalim atau aniaya. Disebut perbuatan zalim, karena ada unsur kekerasan yang menyebabkan korbannya menderita gangguan fisik dan psikologis. 

Tidak hanya perbuatan zalim, kekerasan seksual juga memilki unsur perbuatan zina. Perbuatan yang mendekatinya saja diharamkan, apalagi melakukannya. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 32: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu suatu perbuatan keji, suatu jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra’: 32) Mendekati zina yang disebutkan dalam ayat ini maksudnya adalah pelecehan seksual yang dilakukan pelaku. Misalnya memandangi lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat atau memegang salah satu anggota tubuh atau alat reproduksi lawan jenis. 

Islam hadir menjaga jiwa dan keturunan. Agar terhindar dari perbuatan perbuatan yang berbau seksualitas, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga dan menahan pandangan terhadap lawan jenis serta menjaga kemaluannya kecuali untuk istri-istri mereka. Hal ini juga disebutkan dalam al-qur’an surat An-Nur ayat 30 : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka..” (Q.S AAn-Nur: 30)

Mencegah Kekerasan Seksual 

Kekerasan seksual merupakan perilaku yang keji. Oleh sebab itu, kekerasan seksual mesti dihentikan. Maka untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual bisa dilakukan melalui hal-hal berikut, diantaranya: 

Pertama, Menjaga ketahanan diri dan keluarga. Keluarga adalah basis pertama dan utama untuk menanamkan nilai-nilai agama. Tidak hanya nilai agama saja, keluarga memiliki peran penting untuk tumbuh kembang anak di masa-masa mendatang. Jangan sampai lingkungan keluarga malah menjadi tempat yang tidak nyaman bagi seorang anak. Tapi contohlah Nabi Muhammad saw yang menjadikan “Baiti jannati” (keluargaku surgaku). 

Menjaga diri dan keluarga merupakan perintah agama. Sesuai dengan firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S At-Tahrim: 6). Orangtua menjaga diri mereka, selanjutnya menjaga anak-anak mereka dari perbuatan yang dilarang agama. 

Kedua, Sekolah memberikan pendidikan seks untuk peserta didik. Peserta didik mesti diberikan pengetahuan mengenai seks, baik itu mengenai pendidikan seks itu sendiri, seks bebas dan bahayanya  maupun mengenai kekerasan seksual sesuai dengan usia mereka serta sesuai dengan diakaitkan dengan nilai-nilai keagamaan. Dengan adanya bekal pengetahuan ini pada peserta didik diharapkan mereka bisa terhindar dari kekerasan seksual.

Ketiga, masyarakat mesti proaktif dalam mengawasi dan melaporkan jika terjadi kekerasan seksual di lingkunga sekitarnya. Tidak hanya orangtua dan sekolah, masyarakat pun punya peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual. Bagaimana cara masyarakat bisa mencegah terjadinya kekerasan seksual? Yakni dengan mempersempit dan tidak memberikan ruang gerak bagi pelaku. Bisa juga dengan membuat aturan bersama untuk memberikan sanksi sosial bagi pelaku kekerasan seksual serta melaporkan kepada pihak yang berwajib. 

Itulah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan seksual. Semoga kita dijauhkan dari kekerasan seksual dan mereka yang menjadi pelaku diberikan hidayah oleh Allah Swt. Aamiin. (*)

/* Penulis adalah Wakil Kepala Sekolah dan Guru PAI di SMPN 32 Solok Selatan. Guru Besertifikasi Google Level 1 dan Level 2.  Beberapa karya yang dibukukan di antaranya: 1) Buku Antologi Sepuluh Ribu Pantun Nasihat. 2) Permainan Tradisional Pembentuk Generasi Emas Indonesia. 3) Menjadi Generasi Milenial Rabani”. E‐mail: rezi.rahmat37@gmail.com.

Related posts