Kekuatan Partai Politik Islam di Sumatera Barat

  • Whatsapp
Parpol Islam
Parpol Islam (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Naufal Jihad

Jika melihat sejarah bangsa Indonesia tentu tidak jauh dari segala dinamika politik yang terjadi sesuai dengan kehendak rezim penguasa yang berganti waktu demi waktu. Arah politik di Indonesia semakin hari semakin membawa perubahan menuju arah demokratisasi setelah runtuhnya rezim Soeharto yang berkuasa kurang lebih selama 32 tahun. Semenjak bergulirnya Orde Baru, saat itulah negara Indonesia kembali pada nilai-nilai kebebasan khususnya dalam menjalani aktivitas politik, baik itu bagi rezim penguasa dan masyarakat. Kebebasan tentu banyak memberikan peluang baru bagi setiap elemen masyarakat untuk memenuhi kepentingannya.

Read More

Salah satunya berkaitan dengan partai politik yang sebelumnya hanya didominasi oleh partai Golongan Karya (Golkar) di bawah kepemimpinan Soeharto. Seiring berjalannya waktu selama proses transisi demokrasi, berbagai ideologi hadir dan partai politik baru mulai bermunculan. Salah satunya partai politik yang berbasis agama khususnya Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia mencoba mengambil peluang karena adanya keuntungan tersendiri bagi mereka ketika melihat peta demografi di Indonesia. Namun hal tersebut tidak semudah itu karena partai yang cenderung independen lebih diminati oleh masyarakat karena berbagai faktor, kemudian dorongan sejarah mengakibatkan masyarakat memandang tidak berlandaskan pada partai politik melainkan ketokohan yang mendominasi ketika pemilihan umum baik itu presiden hingga kepala daerah.

Kajian terhadap partai politik Islam menurut Firman Noor menjadi minat tersendiri bagi sebagian besar sarjana ilmu politik. Karena kajiannya yang membahas cukup luas seperti ideologi parpol, sejarah parpol, dan kiprahnya ditengah kontestasi politik Indonesia, serta dinamika parpol Islam yang terjadi selama era reformasi berlangsung hingga sekarang. Menguatnya politik identitas di Indonesia, kemudian menarik agama dan nasionalisme kedalam arena politik dengan berbagai kepentingan yang dimainkan oleh kekuasaan sehingga tidak dapat dibendung lagi dan menjadi problem baru bagi kehidupan politik di Indonesia saat ini. Terlebih lagi terdapat isu-isu yang muncul dikalangan masyarakat bahwa parpol Islam berpotensi untuk mendirikan negara Islam di Indonesia karena asas yang berlandaskan pada Islam sangat kuat dalam Ideologi partainya.

Beberapa kajian memang telah banyak yang membahas mengenai hubungan antara Islam atau partai politik dengan beragam fenomena politik yang terjadi selama ini di Indonesia. Banyak pertanyaan yang muncul terkait dengan peranan, dominasi partai politik hingga hubungannya dengan sistem pemerintahan di Indonesia. Sebagaimana secara luas diketahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, namun perolehan suara dan kepercayaan masyarakat terhadap partai Islam masih dibawah rata-rata. Hal tersebut jelas dikatakan dalam satu kajian yang membahas mengenai “Peranan Partai Politik Islam Terhadap Sistem Pemerintahan Di Indonesia” oleh Yeni Sri Lestari dan Fadhil Ilhamsyah (2019). Jika membahas dalam lingkup yang lebih sempit bisa kita temukan beberapa kajian yang membahas dominasi politik Islam pada satu daerah yang memiliki kultur budaya yang berjalan seiringan dengan syariat Islam yaitu di Sumatera Barat. hal tersebut menunjukan bahwa dominasi partai politik Islam akhir-akhir ini mulai menguat karena berbagai faktor yakni salah satunya berhubungan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden.

Di sinilah kita dapat mengkaji lebih dalam bahwa disamping eksistensi parpol Islam yang tidak mendominasi di Indonesia, akan tetapi beberapa daerah menjadi sasaran parpol Islam dalam meningkatkan eksistensinya dengan memanfaatkan berbagai momentum yang menguntungkan mereka. Sejak demokrasi kembali hidup dan hal tersebut dirasakan oleh pemerintah daerah dengan adanya proses desentralisasi yang terjadi di Indonesia sehingga masyarakat lokal di daerah mampu mengembalikan nilai-nilai luhur budayanya dan melaraskannya dengan kondisi sosial-politik yang sedang terjadi.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi salah satu partai politik Islam yang kuat di Indonesia saat ini, karena tindakkan dan konsistensinya terhadap keberadaan diluar pemerintahan (oposisi) sehingga menarik simpati masyarakat saat ini, kemudian diikuti partai Demokrat yang juga berdiri kokoh untuk tetap berada diluar lingkaran rezim penguasa. Untuk peluangnya dalam memperoleh suara pada pemilihan serentak yang akan datang tentunya memberikan keuntungan bagi PKS, baik itu pusat maupun daerah memiliki peluang besar untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mampu menduduki kursi kekuasaan. Walaupun pada wilayah jawasentris PKS belum mampu menandingi partai koalisi dari pertahana, akan tetapi PKS tetap menduduki berbagai kursi strategis dibeberapa daerah.

Sumatera Barat dengan dominasi budaya dan agama yang sangat erat menjadikan PKS menuai keberhasilan yang ditandai pada pemilihan kepala daerah baik itu dari pemilihan bupati/walikota hingga pemilihan gubernur, dimana sejak kemenangan Irwan Prayitno yang diusung PKS sejak 2010 dan mampu menempuh dua periode masa pemerintahan sebagai gubernur Sumatera Barat. Kemudian diikuti oleh pemilihan kepala daerah tahun 2020 silam, kemengan PKS kembali diraih karena walikota padang yaitu Mahyeldi Ansharullah yang berhasil menduduki kursi gubernur menggantikan Irwan Prayitno. Beberapa daerah juga didominasi oleh PKS seperti walikota Bukittinggi yaitu Erman Safar yang diusung oleh tiga partai besar yang salah satunya PKS. Hal tersebut sangat menguntungkan bagi PKS karena melihat peta politik yang ada di Sumatera Barat.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Resti Mutia Azri (2019) yang membahas mengenai rekrutmen politik dan kaderisasi Dewan Perwakilan Daerah PKS dengan temuannya yaitu, pengkaderan yang dilakukan PKS kepada setiap kadernya serta pengaruh terhadap masyarakat, mengantarkan mereka pada kemenangan terkhususnya kedudukan mereka sangat strategis yaitu di Kota Padang yang mendominasi suara masyarakat Sumatera Barat akhirnya memenangkan mereka dalam kontestasi politik. Namun perlu dipertanyakan kembali bahwa apakah memang sepenuhnya hal tersebut dikarenakan hal itu?. Tentunya tidak karena berbagai pengamatan dan tinjauan dari penulis melihat bahwa dorongan dari tokoh lokal dan nasional menjadi faktor utama yang memberikan peluang besar bagi PKS untuk sekali lagi menduduki kursi kekuasaan di daerah.

Banyak faktor yang mendorong PKS selain sistem internal parpol yang kiranya dirancang sedemikian rupa dan kebetulan sesuai dengan lingkungan sosial-politik masyarakat. Berawal dari pemilihan presiden dan wakil presiden sejak 2014 hingga puncaknya pada 2019 lalu yang ditokohi oleh Prabowo Subianto menjadi dorongan yang sangat besar bagi beberapa daerah khususnya Sumatera Barat karena hampir seluruh masyarakat memilih Prabowo Subianto dan Partai Gerindra yang mengusungnya. Kemudian PKS juga tergabung kedalam koalisi partainya sehingga hal tersebut memberikan nilai tambah dan keuntungan bagi mereka untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat di Sumatera Barat, dorongan dari ketokohan yang dimiliki kepala daerah terpilih juga mendominasi arena politik kala itu.

Ideologi juga menjadi faktor terpenting karena adat di Sumatera Barat yang berlandaskan pada agama Islam sehingga sangat sesuai dengan Ideologi PKS yang menonjolkan nilai-nilai Islam dalam tubuh partai politiknya. Citra politiknya yang tidak memiliki minus di masa lalu juga sangat berpengaruh dan pada akhirnya semua itu dengan mudah bagi PKS mendominasi serta meraup suara dengan mudah pada seluruh lapisan masyarakat. Politik identitas menjadi pemicu bagi kelangsungan PKS dalam menghadapi setiap realita politik yang ada, memanfaatkan identitas akan menumbuhkan sebuah kekuatan politik yang mampu merubah segalanya menjadi keuntungan bagi PKS. Para kader yang tentunya sangat mudah untuk dibentuk karena kesamaan Ideologi menjadikan PKS sebuah partai raksasa di daerah,khususnya bagi Sumatera Barat. Akan sangat sulit bagi partai independen untuk mendominasi dan mempengaruhi masyarakat karena hal tersebut.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa agama mampu menjadi sebuah identitas politik yang saat ini menjadi kekuatan untuk menguasai arena politik bagi parpol yang berbasis agama seperti PKS, namun perlu diperhatikan kembali bahwa ketokohan masih sangat mendominasi bagi masyarakat karena faktor penentu kepercayaan masyarakat tidak sepenuhnya terletak pada partai politik maupun ideologinya, melainkan terdapat pada perilaku dan ketokohan dari seorang public figure.Kemudian masyarakat Sumatera Barat yang memegang teguh adat istiadatnya yaitu filosofi kepemimpinan. Dimana masyarakat memiliki petuah dalam memilih pemimpin. Takah yang berarti pantas, Tokoh yang berarti jelas asal usulnya dan Tageh yang berarti tegas dan berwibawa. Dengan berlandaskan kriteria tersebut masyarakat Sumatera Barat tidak sembarangan memilih calon pemimpin, akan tetapi punya pertimbangan yang matang dan memiliki pemikiran yang kritis terhadap pemimpin. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Universitas Andalas

Related posts