Oleh: Dr. Asfar Tanjung
Berbagai persoalan akhir-akhir ini terjadi di negeri ini dan menjadikan suasana hiruk-pikuk. Berbagai informasi yang kita dengar dan saksikan, dunia tidak ada batas. Hari ini terjadi, detik itu juga bisa disaksikan dan di dengar orang di negeri sana. Seakan-akan dunia tidak ada dinding pembatas. Perubahan seperti ini tentunya tidak bisa dipungkiri, suka tidak suka, mau tidak mau hal itu pasti kita rasakan, lewati dan akan kita jalani.
Persoalan dan masalah yang terjadi sudah kita saksikan dan dengar bersama, melalui media sosial. Persoalan yang terjadi hari ini, seperti persoalan demo besar-besaran di berbagai kota di negeri ini, mulai dari kota besar sampai ke kota pelosok, dengan nada dan persoalan yang sama. Persoalan korupsi yang paling menonjol diperbincangkan, sampai ke persoalan kolusi dan nepotisme. Tidak habis-habisnya dibicarakan, hangat di tengah-tengah masyarakat.
Menanggapi hal itu, ada yang menanggapi bahwa urat nadi malu seakan-akan sudah tidak berfungsi lagi di sebagiannya. Kenapa dikatakan demikian, karena setiap hari selalu muncul di pemberitaan persoalan yang mendasar tersebut. Bahkan masih ada pelakunya yang bisa tersenyum, seakan-akan tidak masalah dan dipermasalahkan.
Pada akhir-akhir ini juga timbul gejolak yang mirip tahun 1998 di negeri ini. Luar biasa aksi yang dilakukan secara brutal. Malah lebih lagi, bahkan sampai melakukan penjarahan ke rumah-rumah yang mungkin tidak ada menduga sebelumnya hal itu akan terjadi, namun itulah yang terjadi. Ketidak senangan terhadap perilaku oknum dan pelaku kebijakan terjadi.
Dari beberapa episode tayangan yang kita saksikan baru-baru ini, seperti persoalan penjarahan, masalah OTT, masalah kriminalitas lainnya, terlihat seperti hal yang biasa, masih ada yang bisa menampakan senyumannya, kita lihat di tayangan, dan itu seakan-akan tidak ada kesalahan.
Hal demikian tentunya sudah kita saksikan secara kasat mata melalui tayangan media sosial, sangat menggemaskan dan sangat mencemaskan, bila hal itu terjadi dan sulit di amankan, tentu saja akan berdampak pada ketidak nyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Kendatipun pihak keamanan sudah berusaha mencegah dan mengamankan, namun hal itu nampaknya sulit untuk dipadamkan, keberingasan luar biasa terjadi. Itulah yang terjadi saat ini di negeri ini. Kalau ini berlanjut, jelas saja banyak sisi kehidupan yang terganggu, terutama masalah pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial lainya. Sekolah di liburkan, tingkat jual beli di pasar terganggu, berbagai usaha dan pekerjaan lain juga banyak terganggu dan malah ada yang terhenti sementara.
Melihat berbagai peristiwa yang terjadi sekarang, aksi demo untuk menyampaikan hasrat hati dan perasaan, selanjutnya timbul aksi yang brutal, anarkis dan menggemaskan serta mencemaskan, tentu saja timbul pertanyaan, siapa yang bersalah dan melanggar aturan dalam hal ini, mungkinkah dia atau kita. Untuk menjawabnya, tidak perlu diucapkan dalam hati kita masing-masing. Tentu sudah ada jawaban, tanpa menyalahkan siapa-siapa, sebab kalau kita mencari siapa yang bersalah, tentu saja tidak akan habis-habisnya persoalan yang yang muncul di negeri ini, untuk itu perlu semua kita kembali merenungi apakah akan di biarkan atau di antisipasi supaya bisa berubah.
Kembali pada yang benar
Terjadinya berbagai persoalan di negeri ini, yang menimbulkan berbagai aksi untuk menyalurkan hak dan pendapat serta saran, bisa dalam bentuk demo, mulai kecil-kecilan dan sampai massal, ada dalam bentuk ungkapan melalui media sosial dan berbagai ungkapan kekesalan hati ingin perubahan, keinginan kita dan mereka semua adalah, agar rintihan dan perasaan hati bisa diterima dan terjadi perubahan, agar negeri ini bisa aman, nyaman dan tentram ,”baldatun toi batun wa roobun ghafur”.
Untuk itu, tidak ada kata terlambat, tentunya kita semua perlu merenung sejenak apa yang harus dan semestinya dilakukan untuk menciptakan negeri yang aman, nyaman dan tentram tersebut. Kita harus kembali kepada yang benar dan tidak ada alasan lagi. Firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 59 dijelaskan ,”Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepala Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. Untuk itu kembali kepada yang benar, adalah salah satu yang bisa menjawab dan menghentikan persoalan yang jadi. Tuntutan banyak orang, akhirnya menimbul aksi dan reaksi.
Jadi banyaknya aksi dan perselisihan serta gejolak ketidakpuasan akhir-akhir ini, mungkin ada jalan yang salah ditempuh, maka untuk peredam aksi dan dan menciptakan negeri yang aman dan nyaman, “baldatun toi batun Warobbun ghafur” itu, mari kita kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, mudah-mudahan apa yang diinginkan akan bisa tercapai, mari kita renungkan bersatu kita teguh, insya Allah.
*Penulis adalah praktisi, pemerhati pendidikan dan sosial





