Kenali “Hustle Culture” dan Dampak Bagi Generasi Muda

  • Whatsapp
Hustle Culture
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Tria Afifah Febrizal

Belakangan ini, budaya Hustle Culture merupakan gaya hidup yang menuntut seseorang untuk bekerja kapanpun dan di manapun ia berada. Sering disebut dengan “workaholic”. Orang-orang yang berpegang pada gaya hidup ini berasumsi bahwa semakin mereka bekerja keras, semakin cepat mereka akan sukses.

Read More

Kultur ini telah menjadi standar bagi banyak orang untuk mengukur tingkat produktivitas dan kinerja seseorang. Seseorang menganggap dirinya sukses ketika memiliki keuangan yang baik tanpa memperhatikan aspek lain seperti Kesehatan mental, Kesehatan fisik, dan hubungan dengan keluarga atau kerabat.

Fenomena ini sangat menganggu life balance, karena tidak ada keseimbangan dalam aspek kehidupan, seperti aspek kesehatan, kesejahteraan emosional, dan pekerjaan. Namun sering sekali kita melihat orang lain merasa bangga karena dia bekerja hingga larut pagi, hanya tidur 3-4 jam, dan sibuk dengan banyak pekerjaan.

Dilansir dari Halodoc, dampak hustle culture pada kesehatan fisik, penelitian tahun 2018, diterbitkan dalam Current Cardiology Reports, mengambil sampel subjek dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan China. Akibatnya, mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu ditemukan memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, seperti infark miokard (serangan jantung) dan penyakit jantung koroner. Jam kerja yang panjang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan detak jantung karena aktivasi psikologis yang

berlebihan dan stres. Ini juga berkontribusi terhadap resistensi insulin, aritmia, hiperkoagulasi, dan iskemia di antara seseorang yang sudah memiliki beban aterosklerotik tinggi dan metabolisme glukosa yang terganggu (diabetes).

Bekerja keras tanpa henti dalam hustle culture meningkatkan risiko gangguan pada kesehatan mental. Beberapa masalah yang sering dialami yaitu gejala depresi, kecemasan, dan pikiran untuk bunuh diri (suicide).

Produktivitas adalah hal baik yang perlu dijaga. Namun, apabila digunakan sebagai standar social, lalu mengesampingkan privasi dan ketenangan, tentu tidak baik. Budaya seperti ini disebut dengan budaya hustle culture. Dampaknya pada Kesehatan fisik maupun mental tidak main-main. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Andalas.

Related posts