Ketika Guru Berhenti Mimpi, Bangsa Ini Mulai Mati: Kisah di Balik Apel Akbar yang Mengguncang Hati

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Ada momen langka di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern kita yang serba instan—ketika ratusan pendidik berkumpul bukan untuk mengeluh soal gaji, bukan untuk memprotes kebijakan, melainkan untuk menyalakan kembali api yang hampir padam di dada mereka. Api bernama harapan.

Pagi itu, di Aula Pondok Pesantren Modern Al Kautsar Sarilamak Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, ratusan guru Muhammadiyah berdiri tegap. Bukan sekadar apel biasa. Ini adalah panggilan jiwa, ajakan untuk menengok kembali ke cermin dan bertanya: “Sudahkah saya menjadi guru yang layak dikenang

Ketika Pendidikan Bukan Lagi Soal Mengajar

Kita semua tahu, di era digital yang penuh gejolak ini, menjadi guru bukan perkara mudah. Bayangkan: Anda berdiri di depan kelas berisi anak-anak yang lebih fasih bermain TikTok ketimbang membuka buku. Anda harus bersaing dengan algoritma yang dirancang oleh insinyur terpintar dunia untuk mencuri perhatian. Dan di tengah itu semua, Anda dituntut tidak hanya mengajar matematika atau bahasa, tapi juga menanamkan karakter, moral, bahkan harapan.

Advokat Ki Jal Atri Tanjung, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat, memahami dilema ini dengan sangat dalam. Dalam sambutannya yang membekas, beliau mengutip sebuah ayat yang mungkin sudah sering kita dengar tapi jarang kita renungkan: “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Bukan sekadar soal derajat di mata Tuhan. Ini tentang tanggung jawab yang mengiringi kehormatan itu. Ketika Anda diberi ilmu, Anda diberi amanah untuk menyebarkannya, untuk menerangi kegelapan ketidaktahuan, untuk mengubah nasib anak bangsa yang mungkin tidak punya kesempatan lain selain melalui pintu sekolah.

Perubahan Dimulai dari Guru yang Berani Berubah

Ada sebuah kebenaran pahit yang perlu kita hadapi: Kita tidak bisa terus menyalahkan sistem, pemerintah, atau orang tua, jika kita sendiri tidak mau berubah. Inilah pesan revolusioner yang disampaikan melalui rujukan QS. Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

Bayangkan jika setiap guru di Indonesia memutuskan untuk berubah hari ini. Bukan perubahan besar, cukup perubahan kecil: lebih sabar mendengarkan murid yang lambat memahami, lebih kreatif dalam menyampaikan pelajaran, lebih tulus dalam memberi motivasi. Jika 3 juta guru di negeri ini melakukan itu secara bersamaan, bisa Anda bayangkan gelombang perubahan seperti apa yang akan terjadi?

Hebat Tanpa Bermartabat adalah Kosong

Kita hidup di zaman yang aneh. Zaman di mana kehebatan sering diukur dari seberapa viral seseorang di media sosial, seberapa tinggi gelar akademiknya, atau seberapa tebal dompetnya. Tapi kehebatan tanpa martabat adalah rumah tanpa fondasi—megah dari luar, rapuh dari dalam.

Guru yang hebat dan bermartabat bukan hanya pintar secara akademik. Dia adalah seseorang yang bisa berdiri tegak di tengah godaan untuk mengambil jalan pintas. Dia adalah figur yang murid-muridnya hormati bukan karena takut, tapi karena kagum. Dia adalah teladan yang hidupnya berbicara lebih keras daripada kata-katanya.

Konsep ini sebenarnya sederhana namun mendalam. Seorang guru hebat mampu menginspirasi—bukan dengan ceramah panjang lebar, tapi dengan ketulusan yang terpancar dari setiap tindakannya. Dia menciptakan ruang kelas yang bukan penjara bagi kreativitas, melainkan taman tempat ide-ide liar murid-muridnya boleh tumbuh bebas.

Sementara guru yang bermartabat menghargai dirinya sendiri. Dia tidak mengemis pengakuan, tapi menuntut profesionalisme dari dirinya sendiri. Dia tahu bahwa setiap kali dia berdiri di depan kelas, dia sedang membentuk masa depan—dan tanggung jawab itu terlalu besar untuk diambil enteng.

Dari Kabupaten 50 Kota untuk Indonesia

Apel akbar yang digelar oleh guru-guru Muhammadiyah Kabupaten Lima Puluh Kota ini seharusnya menjadi cermin bagi pendidik di seluruh nusantara. Ini bukan tentang satu organisasi atau satu daerah. Ini tentang gerakan kolektif untuk mengembalikan roh pendidikan pada hakikatnya.

Bayangkan jika setiap kabupaten, setiap kota di Indonesia mengadakan refleksi serupa. Jika para guru berkumpul bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk saling menguatkan. Jika mereka membuat komitmen bersama untuk menjadi lebih baik, lebih inovatif, lebih tulus.

Indonesia punya 514 kabupaten dan kota. Jika masing-masing punya 100 guru yang benar-benar berkomitmen untuk menjadi hebat dan bermartabat, kita berbicara tentang 51.400 agen perubahan. Dan setiap guru rata-rata mengajar 30-40 murid per tahun. Dalam lima tahun, kita berbicara tentang jutaan anak yang tersentuh oleh pendidikan berkualitas.

Ini bukan mimpi kosong. Ini matematika sederhana dari sebuah gerakan yang dimulai dengan niat tulus.

Guru: Tulang Punggung Peradaban yang Terlupakan

Ada ungkapan indah yang disampaikan dalam apel tersebut: “Guru adalah tulang punggung pendidikan, dan pendidikan adalah tulang punggung peradaban.” Tapi pertanyaannya, apakah kita sebagai masyarakat benar-benar memperlakukan guru seperti tulang punggung?

Atau kita hanya ingat mereka ketika anak kita mendapat nilai jelek? Atau ketika ada skandal di dunia pendidikan? Kita begitu cepat menghujat guru yang gagal, tapi begitu lambat mengapresiasi ribuan guru yang setiap hari berjuang dengan sumber daya terbatas, di daerah terpencil, dengan gaji yang jauh dari layak, namun tetap datang ke sekolah dengan senyuman.

Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung mewah atau teknologi canggih. Peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki karakter, integritas, dan visi. Dan siapa yang membentuk manusia-manusia itu? Guru.

Mandiri, Berharga Diri, dan Agen Pembaharuan

Visi yang diusung dalam apel akbar ini jelas: guru harus mandiri, memiliki harga diri, dan menjadi agen pembaharuan. Tiga hal yang terdengar sederhana, namun dalam praktiknya sangat menantang.

Mandiri berarti tidak bergantung pada orang lain untuk memotivasi diri sendiri. Seorang guru mandiri tidak menunggu perintah atasan untuk berinovasi. Dia mencari cara sendiri untuk membuat pelajarannya lebih menarik, lebih relevan, lebih berdampak.

Berharga diri berarti menolak untuk diperlakukan sembarangan—baik oleh sistem, oleh orang tua murid, atau bahkan oleh murid sendiri. Ini bukan soal arogansi, tapi tentang standar profesional yang tidak bisa ditawar.

Dan menjadi agen pembaharuan? Ini yang paling krusial. Di tengah dunia yang berubah dengan kecepatan luar biasa, guru yang tidak mau belajar adalah guru yang sudah mati secara profesional. Teknologi terus berkembang, kebutuhan industri terus bergeser, dan jika guru tidak ikut bergerak, mereka akan menjadi fosil di museum pendidikan.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan dengan semua renungan ini?
Jika Anda seorang guru, mulailah hari ini. Tidak perlu revolusi besar. Cukup tanyakan pada diri sendiri: “Apa satu hal kecil yang bisa saya perbaiki dalam cara saya mengajar?” Mungkin lebih mendengarkan murid yang pendiam. Mungkin mencoba metode baru yang Anda baca di internet. Mungkin sekadar tersenyum lebih tulus saat menyapa murid di pagi hari.

Jika Anda bukan guru, hormati profesi ini. Hargai kerja keras mereka. Dukung mereka dengan cara Anda bisa—entah itu dengan kata-kata positif, dengan dukungan kebijakan jika Anda pengambil keputusan, atau sekadar dengan tidak menambah beban mereka dengan tuntutan yang tidak realistis.

Epilog: Bangsa yang Melupakan Gurunya

Ada pepatah yang mengatakan: “Bangsa yang melupakan gurunya adalah bangsa yang melupakan masa depannya.” Di tengah obsesi kita pada startup unicorn, influencer jutawan, dan atlet terkenal, jangan sampai kita lupa bahwa di balik semua kesuksesan itu, ada guru yang pernah mengajarkan mereka membaca, menulis, berhitung, dan bermimpi.

Apel akbar di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah pengingat bahwa masih ada harapan. Bahwa di tengah segala pesimisme, masih ada sekelompok orang yang percaya bahwa pendidikan bisa—dan harus—menjadi lebih baik.

Karena pada akhirnya, ketika semuanya runtuh, ketika teknologi gagal, ketika ekonomi jatuh, yang akan menyelamatkan bangsa ini adalah manusia-manusia berkualitas. Dan manusia-manusia berkualitas itu dilahirkan di ruang kelas, dibentuk oleh guru-guru yang hebat dan bermartabat.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita siap menjadi bagian dari gerakan itu? Atau kita akan terus jadi penonton di bangku cadangan sejarah?
Pilihan ada di tangan kita. Dan waktu terus berjalan.

Related posts