Ketika Pemimpin Turun ke Parit: Satu Hal yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah Kepemimpinan

Ustad Firsta Yuliano, Lc., MH Bendahara PPUM Sumbar (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Ustad Firsta Yuliano, Lc., MH

Seperti orang yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan karena melihat sesuatu yang tak biasa, saya pun berhenti. Berulang kali membaca. Mencerna. Bertanya-tanya.

Ibnu ‘Āsyūr, dalam Tafsir al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, menukil perkataan Ibnu ‘Umar tentang ayat yang sangat kita kenal:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kalian…” (QS. al-Ahzab: 21).

Lalu Ibnu ‘Umar berkata tentang ayat itu:

“Pada rasa lapar Nabi ﷺ.”

Rasa lapar?

Saya membaca ulang. Ya, rasa lapar.

Bukan pada ibadahnya yang luar biasa. Bukan pada keberaniannya di medan perang. Bukan pula pada kebijaksanaannya memimpin umat. Tapi rasa lapar.

Aneh, bukan?

Saya pun penasaran. Seperti benang yang harus ditarik, saya mulai menelusuri kitab-kitab tafsir dan sirah. Semakin dalam saya menyelami, semakin saya tersadar bahwa jawabannya membawa saya pada satu peristiwa yang mungkin selama ini saya lewati begitu saja: Perang Ahzab, atau Perang Khandaq.

Dan di sanalah saya menemukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah kepemimpinan modern.

Ketika Madinah Terancam, dan Hampir Semua Pintu Tertutup

Bayangkan situasinya.

Madinah, kota kecil yang baru saja dibangun sebagai peradaban baru, kini dikepung dari segala penjuru. Sepuluh ribu pasukan bersekutu bergerak maju. Orang-orang Yahudi yang sebelumnya membuat perjanjian damai dengan Nabi, tiba-tiba mengkhianati. Kaum munafik di dalam kota mulai menunjukkan wajah aslinya. Dan di tengah semua itu, kedinginan menusuk tulang, persediaan makanan menipis, dan ketakutan menyelimuti hampir setiap hati.

Allah sendiri menggambarkan situasi itu dalam al-Qur’an:

“Ketika mereka datang dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatanmu terbalik dan hatimu sampai di tenggorokan…” (QS. al-Ahzab: 10).

Ini bukan sekadar perang. Ini adalah krisis eksistensial.

Tapi di tengah kekacauan itu, ada satu sosok yang tetap tenang. Tidak panik. Tidak kabur. Tidak menyalahkan siapa-siapa.

Rasulullah ﷺ duduk bersama para sahabatnya. Berdiskusi. Membaca situasi.

Madinah, dengan kondisi geografisnya, hanya memiliki satu sisi yang terbuka untuk serangan pasukan besar: sisi utara. Sisanya dikelilingi kebun kurma dan bebatuan.

Lalu muncullah ide dari Salmān al-Fārisī—seorang sahabat yang dulunya seorang Persia. Ia mengusulkan strategi yang belum pernah dikenal di Arab: menggali parit di sisi utara Madinah.

Dan Rasulullah ﷺ? Beliau tidak menolak hanya karena idenya berasal dari mantan budak asing. Beliau menerimanya. Langsung.

Saya berhenti di sini. Ini pelajaran pertama yang sering kita lewatkan: seorang pemimpin sejati tidak kehilangan kewibawaan karena menerima ide dari bawahannya. Justru sebaliknya, ia semakin kuat ketika mampu mengenali gagasan baik, dari siapa pun asalnya.

Tapi ini baru awal.

Ketika parit mulai digali, cuaca sangat dingin. Pagi itu menusuk tulang.

Para sahabat bekerja dengan tangan mereka sendiri—bukan dengan budak, bukan dengan upahan, tapi dengan tangan dan keringat mereka.

Lalu datanglah pemandangan yang akan selalu saya ingat setiap kali saya membayangkan kepemimpinan sejati.

Al-Barā’ bin ‘Āzib r.a. berkata:

“Aku melihat Rasulullah ﷺ mengangkut tanah dari parit, hingga debu menutupi kulit perut beliau.”

Bayangkan itu.

Pemimpin tertinggi umat Islam, orang yang jika beliau mau, bisa duduk di tenda yang hangat sambil memberi instruksi, justru berada di barisan paling depan. Tangannya mengangkat tanah. Tubuhnya dipenuhi debu. Perutnya—yang kelak akan menjadi saksi betapa beliau merasakan lapar yang sama dengan umatnya—tertutup tanah galian.

Beliau tidak berkata, “Lakukan!”

Beliau menunjukkan, “Mari kita lakukan bersama.”

Di sinilah kita menemukan rahasia kepemimpinan yang hilang dari banyak buku manajemen modern: pemimpin bukanlah orang yang paling jauh dari kesulitan, tapi orang yang paling siap berada di tengahnya.

Tapi ada yang lebih mengharukan.

Abu Thalhah r.a. meriwayatkan:

“Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah ﷺ. Kami memperlihatkan batu yang kami ikatkan pada perut karena lapar. Rasulullah ﷺ kemudian memperlihatkan dua batu yang beliau ikatkan pada perut beliau.”

Saya membayangkan adegan itu.

Para sahabat datang mengeluh. Mereka lapar. Mereka menunjukkan batu yang mereka ikat di perut untuk menekan rasa lapar itu.

Dan Rasulullah? Beliau tidak berkata, “Bersabarlah, kalian akan mendapat pahala.”

Beliau membuka bajunya. Memperlihatkan perutnya.

Dan di sana, terikat dua batu.

Bukan satu. Dua.

Beliau berkata dengan diam: “Aku tidak meminta kalian menanggung sesuatu yang tidak aku tanggung. Aku bersama kalian. Bahkan, aku menanggung lebih banyak dari kalian.”

Saya menutup kitab itu. Menatap langit-langit. Merenung.

Betapa sering kita, sebagai pemimpin, meminta bawahan bekerja keras sementara kita duduk nyaman. Meminta rakyat berkorban sementara kita menikmati fasilitas. Meminta anak-anak rajin sementara kita malas. Meminta masyarakat bersabar sementara kita mudah marah.

Tapi Rasulullah mengajarkan sesuatu yang lain: keteladanan tidak pernah bisa digantikan oleh instruksi.

Mengapa Rasa Lapar Menjadi Bagian dari Keteladanan?

Lalu saya kembali ke pertanyaan awal: mengapa Ibnu ‘Umar mengaitkan uswah hasanah dengan rasa lapar?

Karena kesulitan adalah cermin paling jujur dari karakter seseorang.

Dalam keadaan lapang, semua orang bisa tampak baik. Ketika uang berlimpah, mudah menjadi dermawan. Ketika situasi aman, mudah menjadi pemberani. Ketika semuanya berjalan lancar, mudah menjadi bijaksana.

Tapi krisis? Di sanalah topeng-topeng itu terjatuh satu per satu. Di sanalah kita melihat siapa sebenarnya seseorang.

Dan Perang Ahzab adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi umat Islam saat itu. Namun di tengah krisis itulah, Rasulullah ﷺ menunjukkan siapa dirinya:

· Ketika ancaman datang, beliau tidak panik.
· Ketika strategi diperlukan, beliau bermusyawarah.
· Ketika pekerjaan harus dilakukan, beliau bekerja.
· Ketika lapar mendera, beliau bersabar.
· Bahkan, beliau menunjukkan bahwa beliau menanggung lebih berat dari yang lain.

Inilah mengapa Allah menjadikannya uswah hasanah—bukan hanya karena beliau mengajarkan kebaikan, tapi karena beliau hidup di dalam kebaikan itu.

Saya menulis ini bukan untuk sekadar mengagumi masa lalu.

Saya menulis ini karena saya yakin, pesan ini lebih relevan hari ini dari sebelumnya.

Kita hidup di era di mana kepemimpinan sering diukur dari seberapa tinggi jabatan, seberapa besar gaji, seberapa banyak pengikut di media sosial. Tapi Rasulullah mengajarkan ukuran yang berbeda.

Kepemimpinan diukur dari:

· Seberapa dekat engkau dengan mereka yang kau pimpin ketika situasi sulit
· Seberapa besar engkau bersedia merasakan apa yang mereka rasakan
· Seberapa banyak tanah yang kau angkat bersama mereka, bukan hanya kau tunjuk

Kepemimpinan bukan tentang menjadi yang teratas. Tapi tentang menjadi yang paling depan—bukan dalam kemewahan, tapi dalam pengorbanan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya berkata, “Ikuti aku.”

Beliau berkata, “Mari kita hadapi dan kerjakan bersama.”

Dan ketika debu menutupi perut beliau, ketika dua batu terikat di perut beliau, ketika beliau tetap tegar di tengah ancaman terbesar—di sanalah kita melihat mengapa beliau layak menjadi uswah hasanah.

Akhirnya, saya kembali ke ayat itu.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik…”

Ayat ini tidak berbicara tentang masa lalu. Ia berbicara tentang hari ini. Tentang kita. Tentang bagaimana kita memimpin keluarga, komunitas, organisasi, atau bahkan diri kita sendiri.

Karena setiap kita adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan diuji.

Pertanyaannya adalah: ketika ujian itu datang, di mana kita akan berdiri? Di tempat yang nyaman dengan instruksi di tangan? Atau di barisan depan, dengan tanah di tangan dan debu di pakaian?

Rasulullah telah menunjukkan jalannya.

Sekarang tinggal kita: akankah kita hanya mengaguminya? Atau akankah kita mengikutinya?.

Pos terkait