Ketua DPRD Sumbar Supardi Bicara Gagasan Pariwisata dan Recovery UKM

  • Whatsapp
Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi, lakukan sosialisasi Perda Nomor 14/2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014-2025 di Sikabu-kabu Tanjuang Haro, Sabtu (6/11). (Foto: Aking/MKN)

MINANGKABAUNEWS.COM, LIMAPULUH KOTA – Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi, sosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14/2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2014-2025 di Sikabu-kabu Tanjuang Haro, Sabtu (6/11) kemarin.

Dalam sosialisasi yang dihadiri puluhan wartawan yang bertugas di Luak Limopuluah, Supardi sempat menyampaikan gagasan terkait pengembangan destinasi wisata dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Dia menyebut, dari 2800 UKM yang ada di Sumatera Barat, setengahnya mati akibat dampak pandemi Covid-19.

Read More

“Saya menilai, pemerintah harus memberikan berbagai kemudahan agar usaha masyarakat bisa kembali bangkit dan bertahan, termasuk untuk meningkatkan Sosialisasi terkait berbagai program pemulihan/recovery ekonomi di Sumbar,” kata Supardi dalam pemaparannya.

Pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi, lanjutnya, belum sepenuhnya melakukan program pemulihan/recovery. Dia menyarankan agar para pelaku UKM dapat diberikan bantuan modal dengan persyaratan dan bunga yang rendah.

Selain UKM, politisi Partai Gerindra itu juga bicara tentang pariwisata berbasis budaya. Identitas wisata orang Minang, menurutnya adalah budaya karena cuma ada satu-satunya di dunia. Terkait potensi alam, destinasi wisata Ranah Minang dinilai masih bersaing dengan daerah lain.

“Kearifan lokal kita inilah yang memiliki nilai jual lebih tinggi di mata para wisatawan, sebut saja lah seni musik, seni rupa, seni tradisi, dan lain-lain. Kita orang Minang punya semuanya,” sebutnya.

Supardi menyebut dirinya sangat cinta kepada budaya. Buktinya, sudah banyak kegiatan dari pokok pikirannya sebagai wakil rakyat yang dilaksanakan di berbagai daerah di Sumatera Barat. Di Luak Limopuluah, misalnya, ada Pasar Ekraf pada 2020 lalu.

Para pelaku seni musik dan seni tradisi ini, diberi kesempatan menampilkan karyanya yang ditonton oleh ribuan orang melalui siaran langsung media sosial influencer. Kelompok ini, lanjut Supardi, sebenarnya paling dirugikan akibat pandemi, karena tidak ada iven kesenian digelar karena pembatasan kegiatan keramaian.

Sepanjang 2021 ini, Supardi sudah banyak mensupport kegiatan-kegiatan para seniman Minangkabau. Seperti melaksanakan iven pameran besar seni rupa yang digelar di Agam Jua Art and Culture Cafe, Kota Payakumbuh.

“Bisa dilihat aspek kebudayaan yang dapat memperkuat banyak sektor lainnya, apalagi sektor pariwisata dan sektor-sektor lainnya,” tuturnya.

Pada 2022 mendatang, ia juga menyebut telah merencanakan gelaran Festival Silek Nasional dan Festival Kebudayaan di Balai Kalikih, Nagari Koto Nan Godang, Kota Payakumbuh dengan menampilkan produk kuliner tradisional tiap nagari.

Termasuk iven Silek Tradisi, Supardi merencanakan bakal melibatkan tuo-tuo silek Minangkabau untuk melaksanakan musyawarah besar tuo-tuo silek. Karena, belajar dari PON di Papua, Supardi menyayangkan Sumbar berada di ranking bawah, malah silek dari Jawa Barat yang memperoleh juara.

“Silek tradisi bukan sekedar seni bela diri, juga identitas pemuda Minangkabau. Kita tak ingin filosofi silek tradisi hilang dari jiwa setiap orang Minang,” imbuhnya. (akg)

Related posts