Ketum MUI Sumbar: Jangan Karena Kita Berbeda Peran Ulama Dipertanyakan

  • Whatsapp
Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa.

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG — Yayasan Senarai menggelar Diskusi dengan tema menguak peran ulama dan ormas Islam dalam melewati badai pandemi covid 19, menghadirkan para ulama dan pimpinan ormas Islam secara virtual, Jumat, (23/7/2021).

Hadir dalam kesempatan Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Dt Palimo Basa, Ketua Dewan Meajid, LKAAM, ICMI, Ketua NU, Muhammadiyah dan sejumlah ulama karismatik Sumatera Barat.

Read More

Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa mengatakan Menghadapi suatu persoalan harus ditinjau dari berbagai sudut keilmuan.

“Jangan tanyakan lagi peran ulama, pada 28 Januari lalu, di mana MUI Sumbar sudah dahulu menghawatirkan dan juga mengingatkan akan adanya penyebaran wabah Covid-19, bulan Maret 2020 MUI Sumbar mengeluarkan himbauan kepada perantau agar tidak pulang dahulu. Satu titik kita berbeda peran ulama MUI Sumbar sudah dipertanyakan.

Kita mengeluarkan himbauan kita sebelumnya apakah yang seperti itu tidak dilihat, kemudian terjadi dinamika adanya sekelompok orang menggemborkan bahwa itu adalah pandangan Gusrizal semata melainkan sudah dirapatkan majelis dan MUI kab/kota melahirkan sebuah keputusan MUI Sumbar,” tegasnya

Terkait Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19 yang dihadapkan dengan Sikap MUI Sumbar. Ketum MUI Sumbar Buya Gusrizal mengatakan pernyataan Wapres menyatakan MUI Sumbar aneh saya katakan dia aneh, ulama harus mempertanggung jawabkan secara keilmuan dan juga bertanggung jawab dihadapan Allah Swt.

Sesuai dengan hasil keputusan MUI pusat, dimana MUI wilayah diberikan kewenangan penuh untuk mengambil sikap dengan adanya maklumat, kita mempertahankan kepercayaan kepada umat. Sebelumnya MUI Sumbar ditinggalkan, kalau yang ragu bagusnya kita berdialog, perkara pakai masker dan jarak saf kita bisa konsultasikan.

Buya menegaskan ulama harus hadir di tengah ummat itulah peran ulama sebenarnya. kalau ulama hadir peran ulama maka dia bisa mengimbau terkait protokol kesehatan, berulang kali saya sampaikan beribadahlah tapi memandang enteng wabah Covid-19. Jadikan majelis di masjid itu terkawal dan jadikan ini sebagai pesan kepada ummat.

Terkait maklumat tidak menyetujui itu merupakan pandangan majelis. Mari kita bergerak bersama atau tidak jangan samakan tidak menutup dia tidak ruksah untuk tidak ke masjid. Personal bagi khawatir silahkan saja. Sesuatu yang lain adalah kewjiban fardhu kifayah bagi jemaah. MuI harus mengelaborasi dengan fatwa sebelumnya. berkerumunan berbeda dengan berkumpul, mari kita jadikan, apakah kita berkerumun terjadi di masjid kecil kemungkinan, berkumpul iya. “Kita lihat aturan resturan bisa 25 persen, bagaimana ditempat wisata, alasan suatu tempat teejadi, logika hukum syari tidak bisa sesuatu karena Ilat atau keadaan,” ujar Buya

“Jangan ditutup itu masjid, atur kami, kalau kita mau searah satu gerak kita, pandangn keulamaan ada metode keilmuan tersendiri. berikan kami data. Saya katakan berulang kali tolong kita jangan menyalahkan ummat,” tutur Buya.

Andani yang juga Ketua Yayasan Senarai ini mengingatkan bahwa ulama dan ormas Islam memiliki peran krusial dalam penanganan Covid 19. Karena pendapat ulama ini dipercaya dan diikuti oleh masyarakat.

“Covid-19 itu adalah tanggung jawab komunitas, karena yang menjadi masalah utama adalah penyebaran, di sinilah peran penting ulama dalam mengajak jemaahnya untuk bersama mencegah penyebaran Covid19,” jelas Andani.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayaaan Senarai Sumbar, Irwan Prayitno mengingatkan ulama, para ahli dan pemerintah harus seayun selangkah agar Sumbar bisa keluar dari badai pandemi covid-19.

“Kebersamaan kunci dari keluar dari pandemi, termasuk para ahli, ulama dan ormas islam dan pemerintah, saatnya menyatukan visi, persepsi dan tindakan,” ajak Irwan Prayitno.

Related posts