Kisah Perawat Isolasi Hingga Terpapar CoV19

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, BUKITTINGGI -Pandemi menoreh kenangan di ruang rawat isolasi CoV19 RSOMH Bukittinggi. Hal ini disampaikan perawat pelaksana Isolasi covid-19, Riza Desfita, A.Md. Kep yang akrab dipanggil Riza tersebut kepada Minangkabaunewscom, Rabu (29/9/2021).

Suasana di rumah sakit kami waktu itu, untuk tenaga isolasi masih ada pergantian tim per dua minggu, waktu itu saya akhir dinas di tim 20.

Read More

Setelah dua minggu dinas di Isolasi, sesuai protapnya rumah sakit, setiap dinas di Isolasi kami di swap, pada hari Jum’at di kala itu, ada 10 orang yang di swap, ternyata dari 10 orang yang diswap, dari tim tersebut, saya satu-satunya terpapar covid-19,” ujar Perawat RSOMH Bukittinggi ini.

Mulanya ketika saya dinyatakan terpapar covid-19, agak sedih juga rasa hati ini. Namun  setelah itu karena saya tidak ada gejala, ya udah saya coba menyikapi dengan tenang, dan positif thinking aja, agar pikiran tidak terlalu terbebani dengan vonis dokter disaat itu.

“Saya ikuti saran dokter, untuk melakukan cek darah dan dikasih obat dan semuanya dipastikan aman. Lalu dirumah saya tetap jaga protokol kesehatan (Prokes), dengan tetap jaga jarak, isolasi mandiri dari anak hingga suami,” jelas Wanita lulusan Poltekes Kemenkes Padang itu.

“Setelah tiga hari dinyatakan positif, saya ulang lagi, ternyata saat swap kedua saya udah dinyatakan negatif, mungkin karena saya tidak ada gejala, dan waktu itu saya juga sudah divaksin sinovac dua kali,” sambung ASN asal Sijunjung ini yang juga dikenal sebagai perawat yang loyalitas dalam bekerja.

Pasca dinyatakan negatif dari cekaman virus CoV19, dirinya istirahat lima hari untuk memulihkan sisa- sisa virus corona tersebut, setelah pulih dari Covid lalu Ia berdinas kembali di ruang isolasi sampai saat ini.

Ketika merawat pasien positif Covid-19. Saat pasien -pasien itu mengalami sesak napas. Dirinya sebagai tenaga kesehatan selalu berempati tanpa melihatkan kesedihan kepada keluarga pasien yang ditinggalkan. Namun kita tetap menguatkan keluarga yang tinggal dan tetap memberi saran kepada keluarga untuk tetap menjaga prokes, dengan tetap memakai masker dirumah, kemudian jaga daya tahan tubuh supaya tidak terpapar covid-19.

“Kita melakukan perawatan kepada mereka dengan tulus ikhlas, kita kasih terapi sesuai arahan dokter, dan Alhamdulillah mereka banyak juga yang sembuh,” tutur ASN pengangkatan tahun 2014 itu.

Selama dirinya merawat pasien covid-19, saat kasus lagi membludak pada Agustus 2020 lalu, diantara mereka dalam satu shif ada yang meninggal satu sampai dua orang tapi banyak juga yang sembuh dengan gejala  tidak begitu berat, gejala ringan sampai sedang dan kebanyakan yang meninggal itu, pasien yang ada comorbid dengan gejalanya berat.

“Kita mengharapkan kepada masyarakat selalu mematuhi protokol Kesehatan dengan pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, hindari kerumanan, tingkatkan daya tahan tubuh dengan mengikuti vaksin,” tutup Riza mengakhiri.

Related posts