MINANGKABAUNEWS.com,PADANG – Universitas Muhammadiyah (UM) Sumatera Barat menggelar Wisuda ke-76 di Convention Hall Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, MA, Kampus I Padang, pada Sabtu (26/4) lalu. Ada yang istimewa dalam prosesi kali ini, yakni kehadiran Komisaris Utama PT KB Bukopin Syariah, Dr. Ir. Mustafa Abubakar, yang memberikan orasi ilmiah bertema “Peran Perbankan Syariah dalam Mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM)”.
Dalam orasinya, Dr. Mustafa menguraikan sembilan pokok bahasan, yaitu potensi ekonomi syariah, kondisi dan kinerja perbankan syariah, ekosistem Muhammadiyah, profil dan jenis amal usaha Muhammadiyah, kemitraan AUM dengan bank syariah, tantangan, serta solusi pengembangan AUM.
Beliau mengutip data dari The Royal Islamic Strategic Study Centre yang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan lembaga keuangan syariah. Hal ini didukung oleh mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, yakni sekitar 87% atau 238 juta jiwa dari total populasi 277 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 44% menunjukkan preferensi kuat terhadap produk dan layanan berbasis syariah.
Dr. Mustafa juga memaparkan perkembangan perbankan syariah nasional. Pada 2024, jumlah entitas perbankan syariah tercatat sebanyak 207, naik dibandingkan tahun 2023 yang berjumlah 206. Pangsa pasar perbankan syariah pun meningkat dari 7,44% menjadi 7,72%. Dari sisi pembiayaan, KB Bukopin Syariah (KBBS) berkontribusi sebesar 1,45% atau sekitar Rp 6 triliun dari total pembiayaan perbankan syariah nasional yang mencapai Rp 643,55 triliun.
Lebih lanjut, Dr. Mustafa menjelaskan bahwa secara umum, perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan positif sejak 2020 hingga 2024, meskipun terjadi perlambatan pada 2023 dan 2024. Total aset perbankan syariah pada 2024 mencapai Rp 980,29 triliun, tumbuh 9,88% dibandingkan tahun sebelumnya. Pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 643,55 triliun dengan pertumbuhan 9,92%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi Rp 753,6 triliun, atau naik 10,09%.
Mengulas tentang ekosistem Muhammadiyah, beliau menekankan bahwa sinergi dalam organisasi ini tidak hanya fokus pada bidang keagamaan, tetapi juga sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga lingkungan hidup. Luasnya jaringan Muhammadiyah membuka peluang bagi pengembangan produk dan layanan perbankan syariah, khususnya dalam sektor pendidikan, kesehatan, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Dr. Mustafa juga menyoroti potensi besar Amal Usaha Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia, antara lain 262 kantor Lazismu, 339 BMT, 1.012 panti asuhan, 54 panti jompo, 5.345 sekolah/madrasah, 172 perguruan tinggi, 142 rumah sakit, dan 231 klinik. Ditambah lagi jaringan kepemimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga ranting yang sangat luas, dengan total aset mencapai sekitar Rp 400 triliun.
Menurutnya, kolaborasi antara AUM dan bank syariah dapat meningkatkan akses layanan keuangan, memperkuat efisiensi, serta mendukung keberlanjutan misi sosial dan kemanusiaan Muhammadiyah. Namun, tantangan tetap ada, seperti terbatasnya produk keuangan sosial, minimnya pembiayaan mikro dan kecil, rendahnya literasi keuangan syariah, serta modal yang masih terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Dr. Mustafa menawarkan beberapa solusi, di antaranya melalui edukasi keuangan syariah, pengembangan produk berbasis sektor sosial, pemenuhan kebutuhan modal, dan kemitraan dengan lembaga penjaminan berbasis syariah.






