Konsep Green Building di Era Milenial, Ini Bukan Bumiku Tapi Bumi Kita!

  • Whatsapp
Ilustrasi Konsep Green Building

OPINI – Di antara banyak risiko bencana global yang diketahui manusia, beberapa sering tampil dalam film-film. Dampak asteroid, letusan gunung berapi, dan perubahan iklim semuanya sering jadi tema film Hollywood. Kejadian seperti ini telah menimbulkan kerugian yang menghancurkan kehidupan planet kita di masa lalu. Namun, yang tidak diketahui banyak orang, ancaman global baru mampu menghancurkan kehidupan itu muncul dalam bayang- bayang kehidupan kita sehari-hari. Lihat saja disekitar kita dikelilingi oleh benda- benda material, entah barang itu benar-benar dibutuhkan atau tidak. Untuk setiap barang yang kita gunakan ini, ada konsekuensi global yang berkembang perlahan-lahan melucuti kesehatan emosional manusia yang menguras sumber daya bumi dan merusak habitat planet kita.

“Kehidupan di bumi dipengaruhi secara kuantitatif oleh tindakan manusia”, meskipun awal pasti dari era ini masih bisa diperdebatkan, tidak dapat disangkal bahwa manusia telah menjadi kekuatan dominan di planet ini, mengubah setiap bentuk kehidupan lainnya melalui tindakan kita. Jika dibiarkan, apakah ada risiko bahwa konsumsi manusia pada akhirnya dapat mengubah bumi menjadi dunia yang tidak bisa dihuni? Apakah kita memiliki keinginan untuk berhenti sebelum terlambat? Lantas, apa tindakan yang dapat dilakukan demi tetap terjaganya bumi di era milenial ini?

Benar, salah satunya yaitu dengan konsep green building. Industri konstruksi bangunan merupakan salah satu industri yang banyak mengkonsumsi penggunaan lahan, sumber energi, dan air bahkan sebagian besar bahan baku konstruksi berasal dari alam. Oleh sebab itu, perlu diterapkan konsep pembangunan berkelanjutan di industri konstruksi bangunan.

Penerapan ini kemudian dikenal dengan konsep bangunan hijau (green building) telah menjadi istilah singkat untuk konsep pembangunan berkelanjutan, sebagaimana diterapkan pada industri konstruksi bangunan. Bangunan hijau memiliki maksud agar bangunan diharapkan dapat bertanggung jawab terhadap lingkungan, menguntungkan secara ekonomi, dan juga sebagai tempat tinggal dan tempat kerja yang sehat.

Lalu, apa sih tujuan dari green building ini? Jadi, green building bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan dampak negatif terhadap lingkungan dengan memperbaiki kualitas bangunan yang tidak berkelanjutan dalam hal perencanaan dan penerapan desain, konstruksi, serta praktik operasional yang pada akhirnya menghasilkan hunian hijau meliputi rumah, apartemen dan perkantoran.

Di Indonesia, terdapat banyak perumahan dan permukiman yang telah melampaui daya dukung, sehingga pembangunan hunian ramah lingkungan mulai ditawarkan kepada masyarakat. Rumah yang berkonsep green building menjadi tren baru saat ini karena sebagian besar konsumen Indonesia memiliki perspektif yang berbeda saat berhadapan dengan pilihan untuk mengkonsumsi produk ramah lingkungan atau produk hijau.

Beberapa dari mereka memiliki kesadaran dan tujuan yang sama untuk menyelamatkan lingkungan namun sebagian mempengaruhi budaya di sekitar mereka yang hanya membeli produk terbaik. Apalagi sebagian konsumen akan membeli sesuatu dengan banyak pertimbangan. Sehingga beberapa di antaranya mengikuti isu pembangunan berkelanjutan dan memiliki motivasi untuk berubah dari praktik konvensional menuju praktik yang ramah lingkungan. Unsur-unsur penting untuk menumbuhkan pasar perumahan berkonsep green building adalah konsumen, industri, dan pemerintah.

Namun tidak dipungkiri bahwa konsumen merupakan faktor penting bagi keberhasilan pemasaran dan pengembangan perumahan ramah lingkungan. Konsumen sebagai individu memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi tingkah laku mereka, termasuk di dalamnya untuk menentukan bagaimana persepsi mereka terhadap rumah berkonsep green building sebagai pemenuhan kebutuhan utama mereka.

Karena, rumah berkonsep green building memberi dampak positif bagi penghuni dan lingkungan sekitar yang mendukung peningkatan tiga pilar utama konsep pembangunan berkelanjutan yaitu perbaikan mutu lingkungan, ekonomi, dan sosial. Lingkungan yang nyaman memiliki dampak yang besar bagi kesehatan.
Bangunan yang dibuat dengan konsep green building umumnya dapat memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan tersebut. Mulai dari konsep ruang terbuka untuk meningkatkan pencahayaan yang masuk, tanaman hijau untuk meningkatkan kualitas udara, hingga berbagai fitur ergonomis lain yang bisa memberikan kenyamanan bagi penghuni. Seperti yang disebutkan oleh Environmental Protection Agency (EPA), bangunan berkontribusi terhadap 30% dari emisi karbon yang ada di dunia.

Green building dibuat semaksimal mungkin supaya bisa mengurangi emisi karbon yang ada. Dalam konsepnya, bangunan perlu memiliki ruang hijau vertikal sebagai salah satu bentuk untuk mengurangi polusi dan emisi di udara. Bangunan ramah lingkungan benar-benar menghindarkan banyak masalah kesehatan. Mulai dari ventilasi udara, material bangunan bebas racun, pencahayaan, dan sebagainya. Hal- hal yang selama ini jadi kekhawatiran penghuni rumah dan banyak dibagi solusinya. Solusi berupa tips dan trik menciptakan hunian sehat dan nyaman memang efektif.

Namun, manfaatnya akan maksimal bila konsep bangunan menerapkan green building. Green building berupa hunian maupun gedung komersial menyimpan nilai jual yang tinggi. Nilai tersebut bisa dilihat dari utilitas dan biaya pemeliharaan yang lebih rendah. Tak hanya itu, guna menyemarakkan keinginan pengembang dan masyarakat akan bangunan hijau, sejumlah negara meloloskan ketetapan pajak. Hemat, sehat, dan kemudahan menjanjikan yang banyak ditawarkan oleh
konsep green building.

Generasi milenial lebih memperhatikan, menjaga, dan memiliki sikap positif dalam penyelamatan lingkungan. Alasannya karena generasi ini memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai lingkungan yang diajarkan sejak mereka masih anak-anak dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, diharapkan nantinya di masa depan mereka dapat memberi dampak atau pengaruh yang lebih baik dengan melahirkan aturan-aturan baru yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Meskipun mereka memiliki sikap yang positif terhadap lingkungan tidak mempengaruhi tindakan mereka untuk membeli produk yang ramah lingkungan.

So, let’s intensify this green building concept!

Oleh : Fepi Dwi Marta
Penulis adalah Mahasiswi semester V
Jurusan Biologi Universitas Andalas.

Related posts