Kuatkan Persaudaraan, Muhammadiyah Sumbar Gelar Silaturahim Syawal 1443 H

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG — Manfaatkan momentum lebaran Idul Fitri 1443 H, PW Pemuda Muhammadiyah Sumbar didaulat menjadi tuan rumah Silaturrahim Syawal 1443 H, dengan tema Spirit Idul Fitri 1443 H Meningkatkan Kolektivitas dan Kesuksesan bersama ortom tingkat wilayah dan kader Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Ahad, (15/5/2022).

Ketua PWPM Sumbar, Deri Rizal, mengatakan, kegiatan ini sebagai wadah untuk menguatkan kebersamaan keluarga besar Muhammadiyah Sumbar.

Read More

“Agar semakin menguatkan persyarikatan di Sumbar,” katanya.

Ketua PW Muhammadiyah Dr. Shofwan Karim mengatakan tausiah dan silaturahim setelah hari raya Idul Fitri ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keluarga besar Muhammadiyah Sumbar.

“Sudah menjadi tradisi bagi keluarga besar Muhammadiyah Sumbar, setiap tahun setelah libur hari raya Idul Fitri kita mengawalinya dengan silaturahim,” terangnya.

Lebih jauh ia juga menyampaikan, silaturahmi dalam rangka menguatkan Ukhuwah Islamiyyah ini tidak hanya mengundang ortom tingkat wilayah, tetapi juga para keluarga, dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Terakhir, Buya juga berharap acara silaturahim disertai tausiyah ini bisa menguatkan Ukhuwah Islamiyyah.

Sementara itu, Ustad Drs. Adrian Muis, dalam tausiyah menyampaikan, Spirit, sebuah kata yang berasal dari kata benda bahasa Latin “Spiritus” yang bermakna nafas (breath) dan kata kerjanya “Spirare” yang artinya bernafas.

“Melihat asal kata tersebut terpahami bahwa, untuk hidup kita bernafas dan bila masih bernafas artinya memiliki spirit untuk hidup. Sebaliknya bila kita sudah tidak punya spirit sama artinya dengan sudah tidak bernafas”.

Kemudian kata spirit menjelma menjadi kata “Spiritual” maka diartikan menjadi kata yang bermakna kerohanian atau kejiwaan. Spiritual merupakan bagian yang esensial dari keseluruhan kehidupan seseorang meliputi kesehatan kesejahteraan dan lain-lain. (disarikan dari Tamimi 2011: 19) Wikipedia menulis bahwa spirit adalah hal-hal yang menjiwai. Spirit pada awalnya berasal dari bahasa Latin “Spiritus” yang berarti “Jiwa, Keberanian dan Semangat”.

Idul Fithri, adalah salah satu dari dua hari raya umat Islam. Ramadhan adalah diklat 30 hari untuk menjadi pengikut nabi. Idul Fithri, dirayakan pada tanggal 1 bulan Syawal berkaitan dengan Ibadah Ramadhan yang dilakukan sebelumnya selama sebulan penuh. Idul Fithri merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dengan Ibadah Ramadhan. Karena itu Spirit Idul Fithri, sesungguhnya merupakan spirit yang berjalin berkelindan dengan ibadah Ramadhan yang dilakukan sebelumnya.

Banyak Ulama dan tokoh menyebut Bulan Ramadhan bagaikan arena Pendidikan dan Latihan bagi umat Islam. Pendidikan dan Latihan tersebut untuk satu tujuan yaitu menjadikan Umat Islam bertagwa kepada Allah SWT.

Lanjutnya, Dalam bentuk nyata Materi Pelatihan yang paling dominan selama satu bulan dalam Ramadhan tersebut adalah ber-PUASA. Yakni menahan dari yang membukakan mulai dari terbit Fajar sampai terbenam Matahari.

Perbuatan yang membukakan orang yang berpuasa adalah makan dan minum. Berarti menahan makan dan minum adalah dua hal terpenting dalam materi Pendidikan dan Latihan Ramadhan dimaksud. Sehingga kemampuan menahan makan dan minum selama satu siang penuh menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan puasa.

Bila setiap hari selama Ramadhan menahan lapar dan haus tentu perasaan tersebut berpengaruh kepada kepedulian terhadap derita orang yang tidak beruntung dalam hidup. Peduli terhadap derita orang lain adalah sifat Nabi Muhammad sebagai firman Allah pada surat AtTaubah ayat 128.

Spirit Idul Fithri itu sesungguhnya adalah sesuatu yang diperoleh secara spiritual ketika mengamalkan ibadah Ramadhan dalam bentuk puasa Ramadhan dan ketika menunaikan zakat fithrah di akhir Ramadhan.

Puasa Ramadhan dapat melahirkan sifat Peduli dan merasakan derita orang lain, demikian juga menunaikan Zakat Fithrah yang diperintahkan untuk diberikan kepada Orang Miskin guna dimakan oleh orang miskin itu di Hari Raya Idul Fithri juga melahirkan sifat Peduli dan merasakan derita orang lain.

Keberhasilan Ibadah Ramadhan menjadikan kita lahir di Idul Fithri sebagai orang yang peduli kepada Orang lain diluar diri kita. Kepedulian tersebut menimbulkan semangat saling bantu dan sukarela, memperhatikan dan siap menolong orang yang membutuhkan. Kesemuanya itu sangat dibutuhkan dalam “kerjasama untuk mencapai tujuan bersama”. Sedangkan Kerjasama untuk mencapai tujuan bersama itulah yang disebut dengan “Kolektivitas”.

Sekarang, apakah Kolektivitas yang sudah meningkat tinggi dapat membantu mencapai kesuksesan. Secara logika sederhana, memang sebuah kesuksesan adalah sebuah pencapaian yang melalui proses. Setiap proses yang dilalui pasti melalui dan bersama orang lain.

Kesuksesan, adalah sebuah keinginan dan impian semua orang. Suatu hal yang penting dipikirkan bahwa sukses tidak bisa sendiri. Sebuah perjuangan untuk sukses mesti membutuhkan dukungan dari orang lain, Semakin moderen suatu bangsa, semakin banyak orang melakukan kerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

“Saatnya berjuang mencapai sukses kita sangat membutuhkan jejaring, yakni membangun hubungan dengan lain, lebih banyak lebih baik. Selanjutnya jejaring itu perlu dirawat dengan baik, sehingga bila dibutuhkan jejaring itu siap untuk bekerja sama,” tuturnya.

Semakin pandai merawat jejaring maka semakin dekat dan mudah mendekati tujuan. Maka salah satu hal penting dalam merawat jejaring adalah “mengerti” dengan apa yang dirasakan oleh orang lain, peduli dan perhatian sebagaimana SPIRIT IDUL FITHRI yang telah kita peroleh.

Related posts