Lama Ditunggu, Akhirnya Raja Salman & Pangeran Arab Buka Suara Soal Israel-Palestina

  • Whatsapp
Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud
Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Al-Waleed bin Khalid Al-Saud.

MINANGKABAUNEWS, INTERNASIONAL — Sebagai negara yang merupakan patron kekuatan dunia Islam dan Arab, sikap Arab Saudi dalam menghadapi agresi militer Israel ke Palestina merupakan hal yang sangat dinanti masyarakat internasional.Maklum, Arab Saudi merupakan negara paling berpengaruh di kawasan itu.

Dalam serangan yang menewaskan lebih dari 200 orang ini, pimpinan Arab Saudi, Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud, menggaungkan dukungannya atas Palestina. Dikutip Saudi Gazette, ia menekankan bahwa Arab Saudi mengecam tindakan Israel di Yerusalem dan tindakan kekerasan yang dilakukan di masjid Al-Aqsa.

Read More

Ini terungkap dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan pekan lalu. Lebih lanjut, Raja Salman juga menegaskan Riyadh akan selalu mendukung rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-haknya dalam pendudukan yang dilakukan Israel.

Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Luar Negeri Arab Saudi yang juga keluarga kerajaan Al Saud, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa posisi Riyadh sangat jelas. Negara itu mendukung kemerdekaan Palestina.

Arab Saudi juga menentang segala upaya yang dilakukan Israel dalam memperluas wilayah pendudukannya. Ia bahkan berujar negerinya mengharap solusi permanen dari konflik.

“Posisi Saudi atas Palestina sudah jelas, yaitu mencapai solusi permanen sesuai inisiatif Arab dan negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya,” ujarnya.

Selain itu Pangeran Farhan juga menyatakan bahwa serangan Israel ke jalur Gaza telah meningkatkan ekstrimisme di wilayah Gaza. Maka itu ia menghimbau bahwa kekerasan harus segera dihentikan di wilayah itu.

Sebelumnya, serangan Israel di Gaza sejak 10 Mei telah menewaskan 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak, serta pejuang, dan telah melukai 1.900 lainnya, menurut kementerian kesehatan Gaza. Daerah yang luas telah menjadi puing-puing dan sekitar 120.000 orang mengungsi, menurut pihak pejuang Palestina Hamas.

Pada 21 Mei, Israel dan Hamas menyatakan melakukan kesepakatan gencatan senjata di antara keduanya. Hal ini merupakan inisiasi dari Mesir, yang merupakan tetangga kedua negara.

Namun sayangnya, Sabtu (22/5/2021), Aljazeera melaporkan bahwa di Yerusalem Timur penyerbuan di kompleks Masjid Al-Aqsa oleh polisi Israel tetap terjadi. Ini berlaku secara tidak terduga.

“Polisi Israel mengatakan bahwa beberapa pemuda yang berada di kompleks Al-Aqsa melempari polisi Israel dengan batu. Namun, warga Palestina mengatakan bahwa mereka telah dilecehkan sejak dini hari ketika mereka tiba di masjid. Mereka dikepung oleh polisi dan mereka merasakan banyak tekanan,” kata Abdel-Hamid, wartawan Aljazeera melaporkan.

Ini membuat Dewan Keamanan (DK) PBB mendesak kepatuhan sepenuhnya terhadap gencatan senjata. DK meminta damai sepenuhnya di kawasan tersebut, bahkan, menekankan tercapainya perdamaian komprehensif berdasarkan visi wilayah di mana dua negara, Israel dan Palestina, hidup berdampingan. (CN)

Related posts