Makan Bergizi Gratis Berujung Derita: RSUD Trikora Penuh Sesak Anak Keracunan

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE – Rabu siang itu, 17 September 2025, halaman-halaman sekolah di Kecamatan Tinangkung berubah jadi kepanikan massal. Puluhan anak sekolah tiba-tiba muntah, pusing, sebagian kejang-kejang. Mereka baru saja menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan pemerintah. Tak lama, sirine ambulans meraung-raung, membawa anak-anak yang tubuhnya lemas menuju RSUD Trikora Salakan.
Rumah sakit kecil itu mendadak lumpuh. Ruangan penuh sesak oleh pasien berseragam putih-biru hingga putih-abu. Oksigen menempel di wajah mereka, infus bergelantungan di tangan mungil. Tangisan orangtua pecah di koridor rumah sakit. Karena ruang tak lagi menampung, tenda darurat pun didirikan di halaman depan.
“Ada yang sampai tidak sadar, ada yang menjerit kesakitan,” tutur salah seorang warga yang sempat mengabadikan situasi lewat ponselnya. Video itu beredar luas di media sosial, memantik kepanikan lebih besar: ada ratusan anak yang keracunan.

RSUD Trikora Kewalahan
Bupati Banggai Kepulauan, Rusli Moidady, bergegas ke rumah sakit begitu mendengar laporan. Dalam siaran video Kamis (18/9), ia mengumumkan 157 siswa menjadi korban keracunan massal. Mereka berasal dari SD Inpres Tompudau, SMPN 1 Tinangkung, SMAN 1 Tinangkung, dan SMKN 1 Tinangkung.
“Alhamdulillah tidak ada yang kritis. Dari 157, sekitar 80 anak sudah pulang. Sisanya masih dalam perawatan. Semua dokter dan tenaga kesehatan sudah kami kerahkan,” kata Rusli. Namun, ia tak bisa menutupi wajah cemasnya di depan kamera.
Sementara di RSUD, para perawat bekerja siang malam. “Kami tidak sanggup lagi, pasien terlalu banyak,” keluh seorang perawat.

Ikan Cakalang Jadi Tersangka
Dugaan awal mengarah pada menu lauk ikan cakalang yang didistribusikan dalam paket MBG hari itu. Dari baunya saja, beberapa siswa mengaku ikan terasa “aneh”.
“Ikan itu seperti sudah lama, baunya tidak enak. Tapi tetap kami makan karena lapar,” ujar seorang siswa SMA yang selamat.
Polres Banggai Kepulauan bergerak cepat. Sampel makanan langsung disita untuk diteliti. Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palu menerima sampel untuk uji laboratorium: apakah benar kontaminasi mikroba atau ada bahan kimia berbahaya yang ikut masuk dalam paket makan siang itu.

Permintaan Maaf Pengelola
Di tengah sorotan publik, Zulkifli Lamiju, penanggung jawab program MBG yang dikelola VIC MBG, muncul memberi pernyataan. Dengan wajah murung ia menunduk, menyampaikan permintaan maaf.
“Kejadian ini benar-benar di luar dugaan kami. Tidak ada unsur kesengajaan. Kami sangat menyesal dan meminta maaf kepada seluruh pihak, terutama siswa dan orang tua,” katanya.
Ia menegaskan staf lapangan sudah bekerja sesuai prosedur, termasuk ahli gizi yang bertugas menyusun menu. Namun, insiden ini membuat kredibilitas program MBG terguncang.

Program Mulia, Eksekusi Bermasalah
Program MBG sejatinya diluncurkan pemerintah pusat untuk mencegah gizi buruk pada anak sekolah, sekaligus mengurangi angka stunting. Namun dalam praktik, pengadaan makanan sering terkendala standar higienitas dan pengawasan.
“Kalau distribusi makanan masal tidak diawasi ketat, risiko kontaminasi tinggi. Ikan laut seperti cakalang sangat cepat rusak bila tidak disimpan sesuai standar,” kata seorang ahli gizi Universitas Tadulako ketika diminta pendapat.
Kasus Bangkep ini mengingatkan publik pada beberapa kasus serupa di berbagai daerah: makanan program sosial yang justru menimbulkan korban.

Korban Bicara
Di rumah sakit, seorang ibu muda memeluk anaknya yang terbaring lemah. Matanya sembab. “Anak saya tadi pagi sehat, sekarang begini. Katanya makan gratis untuk menyehatkan anak-anak, tapi malah bikin sakit,” lirihnya.
Anak itu baru saja mendapat infus, tubuhnya menggigil. Ia hanya bisa berbisik: “Sakit perut sekali, Bu…”

Menanti Hasil Uji Lab
Hingga kini, ratusan siswa masih dalam observasi. BPOM Palu membutuhkan waktu beberapa hari untuk memastikan penyebab pasti. Polisi membuka kemungkinan adanya kelalaian dalam penyimpanan maupun distribusi makanan.
Publik menanti jawaban: apakah ini sekadar kelalaian teknis atau ada indikasi korupsi dalam pengadaan makanan?
Bagi masyarakat Bangkep, peristiwa ini sudah menjadi luka. Program yang semestinya menyehatkan anak bangsa malah menjerumuskan mereka ke rumah sakit.
“Semoga tidak ada korban jiwa. Kami hanya ingin anak-anak sehat, bukan menjadi bahan percobaan,” kata seorang warga dengan nada getir.

Related posts