Malam Puncak Minangkabau Fashion Festival & MINANG photo raun 2022 di Bawah Jembatan Siti Nurbaya yang Fenomenal, Ini Kata Gubernur Mahyeldi

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Pemprov Sumbar melalui Dinas Pariwisata Sumbar menggelar malam puncak Minangkabau Fashion Festival 2022 & MINANG photo raun 2022, Ahad, (27/11/2022).

Acara tersebut digelar di bawah jembatan Siti Nurbaya dengan konsep outdoor. Kendati di bawah rintikan hujan tidak menghalangi kemeriahan perhelatan akbar event tahunan pariwisata Sumbar tersebut.

Read More

Minangkabau Fashion Festival ini sudah dilaksanakan Sejak tanggal 12 Agustus 2022 dan puncaknya adalah malam ini 13 November 2022 bertempat di Bawah Jembatan Siti Nurbaya Kota Padang.

Lima pemenang kategori batik, Muhamad Ridho, Mulyadi Muhammad, Nia Musfika Alfi, Rizka Alfi Yuni, dan, Cindi Ariesta,

Sedangkan lima pemenang kategori tenun yakni Kevin Novio Zulva, Dori Ogra Saputra, Mulyadi Muhammad, Dadi Rihanna, dan Eki Harjoni

Kepala Dinas Pariwisata provinsi Sumbar, Luhur Budianda mengatakan Pandemi Covid-19 yang melanda dunia selama 2 tahun belakangan, telah berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi di seluruh negara termasuk Indonesia, pun dengan Sumatra Barat.

Namun kondisi ini, Alhamdulillah, semakin membaik, bahkan sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif termasuk sektor yang signifikan kontribusinya dalam pemulihan perekonomian masyarakat. Hal ini tidak terlepas perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang telah memberikan peluang yang tidak terbatas bagi kita untuk mempopulerkan bahkan memasarkan potensi yang kita miliki, terutama di sub sektor fesyen. “Dinas Pariwisata memandang perlu memberikan ruang untuk mengapresiasi kreatifitas anak-anak muda ranah minang untuk dapat bekreasi dan mengembangkan diri di dunia fesyen,” tegasnya.

Sambutan Kadispar Sumbar pada Malam puncak MFF 2022 dan Minang Photo Raun.

Katanya, Sumbar memiliki keragaman kerajinan textile khas Sumatera Barat yang dibuat secara manual/mesin. Selama pandemi para pengrajin terus memproduksi bahan-bahan untuk diolah menjadi pakaian, tetapi karena bekurangnya permintaan, bahan yang telah dibuat banyak yang menumpuk. Maka Dinas Pariwisata bekerjasama dengan Dekranasda Provinsi Sumatera Barat dengan memberikan peluang bagi para pelaku fesyen ini untuk berinovasi dan berkreasi, merancang dan membuat busana kasual berbahan Dasar Kerajinan Khas Sumatera Barat berupa Batik Khas Sumatera Barat dan Tenun Khas Sumatera Barat menjadi pakaian jadi atau ready-to-wear dengan sentuhan inovasi dan kreasi sesuai dengan perkembangan trend saat ini.

“Selain penampilan finalis juga dipamerkan hasil karya fotografi dari para finalis Lomba Minang Foto Raun yang telah diselenggarakan belum lama ini di Payakumbuh,” imbuh Luhur.

Kadis menjelaskan kegiatan ini selain melahirkan desainer baru yang dapat memajukan Produk fashion Sumatera Barat. Juga merefleksikan, mempromosikan kerajinan Sumatera barat dalam Produk Fashion.

Kegiatan ini mendorong Kreativitas dan Inovasi pengrajin Sumatera Barat untuk menciptakan kain-kain yang bernilai jual meningkatkan minat dan bakat para pengrajin dan desainer. Selain itu juga sebagai ajang silaturahim dan memperkuat jejaring bagi Desainer dan pecinta Fashion Sumatra Barat.

Dengan adanya ajang kompetisi seperti ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi kemajuan Ekonomi Kreatif di Sumatra Barat, khususnya di sub sektor Fashion dan bagi pelaku usaha di bidang fashion.

Lanjutnya, kali ini Kegiatan Minangkabau Fashion ini diikuti 32 orang peserta dengan 89 rancangan terdiri dan kalangan pelajar, mahasiswa dan umum, yang akan dibagi menjadi 2 kategori Batik dan Tenun yang masing-masing akan memperebutkan hadiah berupa: Uang Tunai, Piagam dan Piala. Adapun Dewan Juri adalah dari Desainer terbaik dari Sumatera Barat.

Dalam sambutannya, Gubernur Sumbar, Mahyeldi mengatakan Produk lokal baik batik maupun songket harus kita kembangkan dan didorong agar bisa bersaing di skala nasional maupun international

“Saya ingin menyampaikan apresiasi atas kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat yang berkolaborasi dengan Dekranasda Provinsi Sumatera Barat ini,” tukas Gubernur.

“Festival kali ini mengangkat tema Enchanting West Sumatra, Sumatera Barat yang mempesona dan “ Potret Wisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Barat” Tema ini saya rasa cukup tepat, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa Sumatera Barat mememiliki pesona yang luar biasa, tidak hanya dari alamnya, tapi juga dari kekayaan budaya dan hasil karya cipta manusianya, yang salah satunya adalah kekayaan busana dan tekstilnya,” imbuh Mahyeldi.

Gubernur Mahyeldi dalam acara malam puncak MFF 2022 & Minang Photo Raun

Menurut Mahyeldi, Kegiatan ini juga merupakan sebuah upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk memberi ruang kreativitas bagi para pelaku kreatif fesyen dan perancang serta fotografi untuk berekspresi, berinovasi, berkarya dan memperkaya khazanah busana Sumatera Barat.

“Ada 60 ivent provinsi akan disiapkan, dimana seluruh iven tersebut perlu kolaborasi dengan pemeringah daerah,” tutu

Fesyen adalah identitas sebuah masyarakat dan peradaban. Bahkan terkadang apa yang kita pakai bercerita lebih banyak tentang diri kita. Cara kita berbusana merepresentasikan nilai-nilai yang ada di dalam diri kita, sesuai dengan pepatah minang “nan lahia manunjuak an nan batin”.

Dirinya menambahkan Masyarakat Sumatera Barat sendiri adalah masyarakat yang bangga merayakan identitas tradisional mereka dan berpartisipasi aktif dalam urusan bangsa mereka. Hal ini memberikan pesona dan keunikan tersendiri pada dunia fesyen Sumatra Barat. Kekayaan fesyen dan tekstil Sumatra Barat sudah tersohor kemana-mana dan hingga saat ini memiliki daya saing yang cukup kuat. Kita boleh berbangga karena beberapa Kabupaten/ Kota bahkan telah mampu menggelar peragaan mode bertaraf nasional bahkan internasional, sebut saja kota Bukittinggi, Payakumbuh dan Sawahlunto sehingga menambah agenda kepariwisataan Sumatera Barat.Sebagai sub-sektor ekonomi kreatif, fesyen dan fotografi Sumatera Barat diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setelah dihantam badai pandemi Covid-19. Sebagaimana kita ketahui, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat ini menjadi salah satu sektor primadona untuk memulihkan perekonomian masyarakat pasca pandemi. Hingga Kuartal II tahun ini, Ekonomi Kreatif telah menyumbang 1.300 triliun rupiah terhadap PDB Nasional (Kemenparekraf 2022) atau sekitar 7,5% terhadap PDB Nasional.

Gubernur Mahyeldi mengharapkan kegiatan-kegiatan seperti Minangkabau Fashion Festival dan juga Minang Photo Raun untuk dapat ditingkatkan lagi pelaksanaannya. Karena kegiatan seperti ini merupakan sarana promosi bagi kekayaan busana yang ada di Kabupaten/Kota dan sekaligus wadah tumbuhnya pelaku kreatif seperti perancang-perancang di daerah yang akan meningkatkan ekonomi pelaku (yakni perancang dan pengrajin) khususnya, perancang dan pengrajin tenun dan batik di Sumatera Barat.

Kegiatan ini hendaknya menjadi ajang kolaborasi dan sinergi antar pelaku dan masyarakat dalam mewujudkan Sumbar kreatif. Hubungan perancang dan pengrajin adalah hubungan timbal balik dimana perancang membutuhkan pengrajin untuk mewadahi kreativitasnya, pun sebaliknya pengrajin membutuhkan perancang tidak hanya sebagai pemakai jasa tapi juga sebagai inspirator yang akan menjadikan produk mereka selalu up to date, tidak ketinggalan zaman dan mampu bersaing dengan tren fesyen dunia.
“Semoga kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahunnya,” tutup Mahyeldi.

Sementaraitu , Ketua Dekranasda Sumbar, Harneli Bahar mengatakan, MFF 2022 ini merupakan agenda rutin tahunan yang digagas Dinas Pariwisata Sumbar. Ajang ini telah melahirkan para perancang mode baru yang fresh mempunyai ciri khas. “Urang awak memiliki jiwa seni yang tinggi sehingga dapat menghasilkan kerajinan,” tutur Harneli.

Katanya, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas para perancang busana dan perajin kain di Sumbar sehingga produk mereka memiliki pasar yang luas.

“Selain itu kita juga menangkat kekayaan dan keunikan ragam hias songket, batik minang, kain tenun yang ada di Sumbar agar dapat dikenal secara luas dan menjadi warisan budaya dunia,” ujar dia.

“Kami mendorong para desainer mengembangkan karya mereka dengan memberikan ruang untuk menampilkan kreativitasnya dalam kegiatan tahuhan seperti ini,” kata dia.

Dekranasda mendukung pelaksanaan kegiatan ini karena bidang busana ini merupakan salah satu industri yang penting dalam mengembangkan industri kreatif di Indonesia.

“Industri busana penyumbang 30 persen dari seluruh industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Melalui kegiatan ini akan muncul perancang busana muda yang akan memperkenalkan busana Minang ini kepada masyarakat luas,” kata Harneli.

Related posts