Sejarah Tradisi Malamang di Minangkabau

  • Whatsapp

Oleh : Lhara Prosa

Malamang mempunyai sejarahnya sendiri. Awalnya malamang bukanlah tradisi Minangkabau, apalagi acara adat. Menurut cerita, lamang sebagai kata dasar malamang adalah jenis makanan tradisional yang berasal dari beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu disisipkan daun pisang lalu dibakar di atas api.

Read More

Selain di alam Minangkabau, lamang sebagai makanan ini juga tersebar di seluruh kebudayaan Melayu. Populernya lamang di Minangkabau, menurut cerita masyarakat Pariaman, lamang diperkenalkan Syekh Burhanuddin Ulakan (1646-1704). Syekh Burhanuddin adalah salah seorang penyebar (pengajar) agama di Minangkabau. Ia banyak membangun surau tempat belajar agama di Ulakan, Pariaman, Sumatera Barat.

Diceritakan, bahwa Syekh Burhanuddin sering dijamu masyarakat ketika berdakwah. Namun ia meragukan kehalalan makanan yang disuguhkan kepadanya. Di zaman itu, masyarakat masih suka memakan makanan olahan dari daging tikus dan ular, tulis Ph.S. van Ronkel dalam artikelnya Het Heiligdom te Oelakan atau Tempat Keramat di Ulakan (1914). Syekh Burhanuddin menolak dengan halus. Ia katakan bahwa dirinya tak suka daging tikus dan ular. Meskipun telah disuguhi makanan lainnya, ia masih tetap ragu dengan kehalalan makanan itu, karena sangat mungkin makanan tersebut dimasak di wadah bekas memasak daging tikus, ular dan mungkin juga daging babi.

Lalu, ia mulai mencontohkan. Memasak nasi di dalam ruas bambu yang dilapisi daun. Namun, karena nasi tidak bisa tahan lama, lalu ia mengganti beras dengan beras pulut. Itulah asal mula lamang. Cara masak Syekh Burhanuddin tersebut lalu ditiru oleh orang-orang di sekitar surau tempat ia mengajar. Membuat lamang tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh beberapa orang untuk membuatnya. Misalnya, ada yang bertugas untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar guna memanggang lamang, mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat lamang seperti beras ketan, santan, dan daun pisang, serta orang yang mempersiapkan adonan dan memasukkan adonan lamang dalam bambu.

Tujuan Malamang memang sebagai sarana berkumpul dan mempererat tali silaturahmi. Biasanya, lamang dibuat dalam jumlah banyak. Proses pembuatan lamang dimulai dari mencuci sipuluik atau beras ketan, kemudian dikeringkan. Lalu, dimasukkan dalam bambu sepanjang 60 sentimeter yang sebelumnya telah diberi alas daun pisang muda. Setelah itu, beri santan, garam, dan vanila secukupnya. Masak menggunakan kayu bakar. Proses membuat lamang hingga masak atau matang bisa memakan waktu sekitar lima jam dengan api kecil. Lamang yang sedang dibuat ini ada tiga rasa, yaitu rasa pisang, ketan, dan lamang galamai yang terbuat dari tepung beras. Menyantap lemang paling nikmat ditemani tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasi.

Begitulah ceritanya. Namun demikian, Lamang juga ditemukan sebagai makanan tradisional di Riau, Bengkulu, Jambi, Malaysia, Suku Dayak dan beberapa daerah lainnya. Bagaimana pula asal usulnya, apa terkait juga dengan Syekh Burhanuddin, lain pula pasal pembahasannya.
Bagaimana lamang berubah menjadi tradisi tak banyak sumber yang bisa dirujuk. Budayawan Emha Ainun Najib (2018) mengatakan terkait asal-usul penciptaan tradisi apapun bisa ‘dibisa-bisakan’, ‘disambung-sambungkan’, dan bisa disesuai-sesuaikan.

Namun, merujuk kepada perkembangan hantaran dalam acara kekerabatan, maka diduga kuat lamang menjadi salah satu bentuk perubahan yang sifatnya menambah dalam hantaran adat di Minangkabau. Tradisi bernama Malamang ini diperkirakan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Malamang adalah tradisi membuat lemang, yaitu kudapan dari ketan putih yang dimasak dengan cara dibakar di dalam bambu dan daun pisang. Tradisi ini dapat ditemui hampir di seluruh wilayah Minangkabau, baik di daerah darek (darat) seperti Solok, Bukittinggi, Payakumbuh. Maupun di pesisir pantai, Padang, Pariaman, dan Painan.

Tradisi malamang ini harus dilestarikan karna tradisi ini sudah berkembang dari dahulu, dan menjadi salah satu makanan khas sumatera barat yang sering dijumpai pada hari-hari besar keagamaan. (*)

/*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts