Manfaatkan Digitalisasi, Mahasiswa KKN Unand Promosikan Kerajinan Kulit Padang Panjang Lewat Sosmed

  • Whatsapp
Galeri Minang Kayo
Salah satu galeri kerajinan kulit Minang Kayo di Kota Padang Panjang.

Oleh: Raisa Nurima dan Ferdinal

Mahasiswa KKN Universitas Andalas mensosialisasikan dan memberikan edukasi tentang promosi di sosial media kepada pelaku UMKM di Silaing Bawah Padang Panjang.

Read More

Pandemi covid-19 yang telah berlangsung selama setahun di Indonesia memberikan dampak pada berbagai sektor ekonomi . Dampak yang ditimbulkan seperti penurunan pada berbagai aspek dan perubahan kegiatan ekonomi dengan memanfaatkan digitalisasi. Salah satunya yaitu pada sektor industri kerajinan kulit yang ada di kota padang panjang.

Padang Panjang merupakan salah satu sentra industri kerajinan kulit yang cukup dikenal di Sumatera Barat. Produk yang dihasilkan berupa sepatu, sandal, ikat pinggang, dompet, jaket, tas dan berbagai jenis souvenir lainnya. Kerajinan kulit ini selalu dicari oleh wisatawan lokal maupun internasional yang datang ke Kota Padang Panjang.

Namun pada masa pandemi Covid-19 ini pelaku usaha industri kerajinan kulit di Kota Padang Panjang mengaku mengalami penurunan omset yang sangat signifikan sekitar 70%. Ini dikarenakan wisatawan yang masuk ke Kota Padang Panjang menurun karena adanya kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat sejak awal pandemi. Sedangkan konsumen utama dari industri kerajinan kulit merupakan wisatawan yang datang ke Kota Padang Panjang.

Salah satu UMKM yang bergerak di bidang kerajian kulit adalah Minang Kayo. Minang Kayo merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan mahasiswa Universitas Andalas mempromosikan galeri Minang Kayo di sosial media.

“Selain untuk kepentingan KKN Kami merasa senang dapat secara langsung berkontribusi untuk membantu UMKM tetap bertahan selama pandemi ini walaupun hanya dengan membantu promosinya.” ucap Feni, salah satu mahasiswa KKN Silaing Bawah .

Minang Kayo merupakan salah satu galeri kerajinan kulit sekaligus merasakan dampak pandemi ini secara langsung yang berlokasi di kelurahan Silaing Bawah, Kota Padang Panjang. “Kalau ditotalkan penurunan pendapatan kita selama pandemi ini sudah sebesar 90% ya. Sebabnya produk kita konsumen utamanya itu adalah wisatawan dari luar daerah dan luar negeri. Tetapi karena adanya pembatasan, wisatawan yang datang hanya sedikit dan pendapatan kita juga ikut terus berkurang” tutur Pris Kurniawati, pemilik galeri kerajinan kulit Minang Kayo ketika diwawancarai ketika sosialisasi berlangsung (28/7).

Selain menjadi incaran wisatawan yang datang ke Kota Padang Panjang, produk kerajinan kulit dari galeri Minang Kayo biasanya juga diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Namun semenjak adanya pandemi ini kegiatan ekspor kerajinan kulit galeri Minang Kayo dihentikan karena negara tersebut juga melakukan pembatasan sehingga menyulitkan produk kerajinan kulit ini untuk masuk ke negara tersebut.

Biasanya pelanggan dari Galeri Minang Kayo dapat melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan kulit yang dilakukan di sebelah galeri untuk diolah menjadi produk-produk dengan nilai jual tinggi. Namun saat ini, tidak ada kegiatan produksi. Pemilik usaha Minang Kayo mengatakan pada masa pandemi ini kegiatan produksi kulit mereka menurun sehingga tenaga kerjanya pun juga ikut dikurangi. Saat ini, tenaga kerja dari galeri hanya memiliki 4 orang tenaga kerja yang sebelumnya sebanyak 18 orang.

Untuk tetap bertahan di masa pandemi, banyak pelaku usaha yang melakukan pemasaran secara digital dengan mempromosikan produknya di berbagai sosial media, begitu juga dengan galeri kerajinan kulit Minang Kayo.

“Konsumen kita yang dari sosial media jumlahnya memang tidak besar, tetapi alhamdulillah selalu ada”, tutur Pris Kurniawati.

Dengan melakukan pemasaran secara digital di sosial media melalui instagram (@minangkayo1), Facebook (Minang Kayo Showroom Art And Gallery) konsumen galeri Minang Kayo dapat memesan produk yang diinginkannya melalui media sosial tanpa harus datang ke galeri langsung. Tetapi untuk saat ini promosi yang dilakukan masih terbilang kurang sehingga produk yang dipesan hanya dalam jumlah kecil dan tidak berkelanjutan atau hanya sekali pemesanan. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ekonomi Universitas Andalas.

Related posts