Maraknya Pornografi pada Generasi Muda

  • Whatsapp

Oleh: Geby Aprideliankar

Sebelum kita bicara panjang lebar tentang pornografi, pastinya kita harus tahu arti pornografi, Terus, apa sih arti “ponografi” Sebenarnya ini pertanyaan yang gampang-gampang susah lho. Gampang diucapkan, tetapi susah untuk disepakati. Ribet ya? Ada saja orang yang memutarbalikkan pengertiannya untuk kepentingan masing masing.

Lamanya pembahasan RUU Pornografi yang hampir 2 periode DPR RI (1999 2008) itu, antara lain disebabkan persoalan definisi pornografi ini yang sulit mencari kata sepakatnya,

Untuk itu, pada kesempatan ini, yuk kita kupas pengertian pornografi agar kita memahaminya lebih mendalam. Kita akan mulai dari sejarahnya dulu.

Sejarah istilah’ Pornografi
Kata pornografi pertama kali muncul di Inggris pada masa Ratu Victoria (1837-1901). Ketika itu para arkeolog baru saja menemukan peninggalan benda-benda bersejarah berupa artefak-artefak kuno dari penggalian bekas kota Pompei dan Herculanum dekat Napoli di Italia Selatan. Kedua kota ini terkubur magma dan lapisan abu akibat letusan gunung Vesuvius selama 17 abad (79-1748).

Selain jimat, lampu, lukisan di dinding dan relief, ditemukan juga artefisk- artefak yang melukiskan aktivitas seksual baik secara gamblang maupun karikatural. Contoh paling ekstrimnya, bentuk alat kelamin laki-laki ditemukan terpahat di trotoar, fungsinya sebagai penunjuk arah seseorang ke rumah bordil atau tempat hiburan.

Kehidupan masyarakat di Pompei yang  inilah antara lain yang melahirkan istilah Pornografi yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu Porme yang berarti pelacur dan Graphe yang berarti tulisan atau gambar.

Jadi sesungguhnya, pornografi merupakan istilah yang merujuk pada segala karya, baik dalam bentuk tulisan atau gambar mengenai pelacur Pada tahun 1857. Kamus Oxford (Oxford Dictionary) mendefinisikan kata pornografi sebagai menulis soal-soal pelacur.

Sementara itu, kamus Webster, memberikan pengertian pornografi sebagai lukisan tak bermoral yang menghiasi dinding ruangan untuk pesta liar, seperti yang terdapat di Pompei. Dalam perkembangan selanjutnya, pengertian pornografi mengalami perluasan. baik dari segi makna, bentuk, maupun variasinya. Perluasan pengertian ini terjadi untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, khususnya teknologi media yang semakin canggih.

Pada awalnya, istilah pornografi hanya merujuk pada bentuk tulisan dan gambar. Akan tetapi, seiring dengan ditemukannya teknologi surat kabar, majalah, komik, fotografi, radio, televisi, film (gambar bergerak), internet, CD, VCD dan DVD, maka bentuk pornografi pun mencakup produk dan berbagai media tersebut, Muatan dari materi pornografi pun berkembang.

Awalnya, ponografi “hanyalah’ cerita atau penggambaran 2 (dua) dimensi mengenai pelacur atau tubuh tanpa busana. Namun kemudian berkembang menjadi aktivitas seksual lainnya yang berupa gambar bergerak, eksploitatif (berlebihan). sadis, menjijikkan hingga merendahkan martabat manusia, khususnya perempuan.
Tampilannya yang parah antara lain berisi pelecehan seksual, aktivitas seksual secara menyimpang hingga kejahatan seksual seperti perkosaan
Oleh karena itu, dalam berbagai kamus yang ada pada saat ini umumnya pengertian pornografi disepakati sebagai materi yang disajikan di media tertentu yang dapat dan atau ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual.

Pornografi Berbahaya karena Menggunakan Media
Tidak bisa dipungkiri bahwa maraknya kehadiran media komunikasi serta perkembangan teknologi informasi yang kian pesat telah turut mempermudah penyebaran materi pornografi.
Keberadaan media massa serta teknologi komunikasi seperti internet dan handphone seolah menjadi ladang yang subur untuk persemaian materi vulgar. Apalagi di kalangan generasi muda teknologi internet, terutama handphone pasti sudah jadi teman akrab dalam keseharian. Bahkan anak anak muda zaman sekarang bisa dibilang nggak bisa hidup tanpa Hape. Iya, kan?
Nah untuk itu mari kita liat Bahaya karena menggunakan media
Pornografi jelas tidak bisa ditoleransi lagi.

Ada beberapa alasan mengapa materi berisi pornografi yang tersebar di media-media komunikasi tersebut berbahaya.
1. Media-media tersebut (koran, televisi, majalah, internet, komik dan lain sebagainya) saat ini sangat mudah diakses.
2. Media tersebut penyebarannya sangat massif. Sekali terbit, ribuan atau bahkan ratusan ribu eksemplar koran yang disebar ke berbagai wilayah. Saat dinyalakan, berapa puluh juta masyarakat yang menonton acara di saluran televisi. Begitu pula berapa ratus juta masyarakat dunia yang
3. Khalayak pengakses media tersebut bersifat heterogen.

Dampak Pornografi: Aspek Medis dan Sosial
Banyak orang mempermasalahkan pornografi hanya karena aspek moral, yaitu eksploitasi seks yang dijadikan komoditi dianggap HARAM oleh norma agama dan TABU oleh masyarakat. Padahal, pornografi bukan hanya soal aspek moral saja Iho. Banyak fakta yang memperlihatkan, bahwa masalah pornografi ternyata punya dampak negatif juga secara medis dan sosial Supaya lebih jelas, yuk kitu bahas dampak pornografi dari sudut pandang medis dan sosial.

Pengetahuan ini penting, agar kita dapat menjelaskan secara utuh tentang bahaya pornografi kepadi masyarakat dan kepada teman – teman kita.

Dampak medis
Dari sudut pandang medis, paling tidak, pornografi dapat menyebabkan empat hal, yaitu: Kerusakan otak, penyimpangan seksual penyebaran penyakit menular seksual, dan penyebaran HIV-AIDS.
Menurut pakar bedah syaraf. Dr. Donald Hilton, pornografi yang memuat gambaran tentang eksploitasi seks dapat membuat seseorang kecanduan.
Ia akan terdorong untuk mengonsumsi pornografi berulang-ulang setelah ia menyaksikannya untuk pertama kali. Kondisi ini, secara ilmu syaraf bila tidak segera diatasi akan merusak fungsi otak bagian depan, yaitu pre frontal cortex.
Upaya menyelamatkan pemuda dari pornografi
Dengan berbagai kerusakan yang ditimbulkannya, jelas para pemuda harus diselamatkan dari bahaya pornografi. Bagaimana mungkin pemuda bisa menjadi penerus bangsa yang berkualitas bila otaknya sudah rusak akibat pornografi. Bagaimana mungkin kemudian akan lahir kreativitas yang membangun bila intelegensia mereka menurun terus akibat kecanduan pornografi.

Lalu bagaimana pula pemuda bisa berbuat bagi bangsa dan negara ini bila mereka tak peduli pada lingkungan sekitar dan hanya peduli pada bagaimana mereka bisa mengakses materi pornografi dari hari ke hari.

Langkah-Langkah Pencegahan
Pada bahasan sebelumnya, kamu telah tahu bagaimana menyadarkan sesama generasi muda untuk tidak terjerumus pomeprali.
Nah pada bab ini, kita akan membahas beberapa tindakan konkrit lainnya untuk membekali kaum muda agar punya imunitas terhadap pornogrull: yaitu pengetahuan tentang melek media (media literasi), pastinya pengetahuan kesehatan reproduksi. pengertian spiritual, dan aktivitas sosial Media literasi.

Peran Teman Sebaya
Pengaruh teman itu memang sangat besar, apalagi di usia kamu sekarang ini. Bahkan boleh dibilang kamu bakal lebih mendengar apa yang teman kamu katakan daripada apa yang orangtua kamu katakan. Apa yang teman lakukan bisa jadi kamu anggup menarik dan kamu jadi ingin mengikutinya.
Rupanya dari celah inilah – alias mengikuti teman pornografi bisa memasuki kehidupan kamu dan teman-teman lainnya.

Peran Orangtua dan Pendidik
Apa yang harus dilakukan oleh orangtua?
Masalah peredaran materi pornografi merupakan salah satu problem sosial yang harus selalu menjadi perhatian segenap komponen masyarakat. Pada kenyataannya materi-materi pornografi tersebut sudah menjadi konsumsi khalayak remaja. Hal ini menjadi sangat riskan, mengingat mereka merupakan tunas-tunas muda harapan bangsa yang sangat dinanti kontribusinya dalam menciptakan bangsa yang berkualitas serta bermartabat. Lagi-lagi, peran orangtua adalah peran pertama dan utama dalam membentuk generasi muda yang berkualitas. Saat anak bertumbuh menjadi remaja, orangtua harus tetap selalu memantau dan menjadi mitra yang terbuka serta demokratis bagi anak.

Sebagai agen sosialisasi primer, keluarga harus menjadi significant others yang baik,
Dalam mendidik anak, idealnya orangtua menganut pola sosialisasi partisipatoris (participatory socialization), yakni pola di mana anak diberi imbalan ketika berperilaku baik. Sebaliknya, bila melakukan kesalahan atau keburukan, anak diberi hukuman yang sudah disepakati bersama. Hukuman dan imbalan ini bisa bersifat simbolik.

/* Penulis: Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau, Universitas Andalas

Related posts