MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE — Sabtu pagi itu, halaman Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi berubah wajah. Bukan lantunan doa atau azan yang lebih dulu terdengar, melainkan suara riuh sapu lidi, gemericik air, dan tawa sukarelawan. Puluhan orang—dari anak muda hingga para tokoh masyarakat—berkumpul membawa karung sampah, ember, hingga kain pel.
Mereka datang bukan untuk salat berjamaah semata, melainkan untuk sebuah gerakan global: World Cleanup Day (WCD) atau Hari Bersih-Bersih Se-Dunia. Di Padang, gerakan ini dipimpin langsung oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdaprov Sumatera Barat, H. Al-Amin, S.Sos, MM.
“Masjid bukan hanya pusat ibadah, tapi juga simbol peradaban. Membersihkannya berarti membersihkan hati kita sendiri,” ujar Al-Amin, seraya mengangkat karung plastik berisi dedaunan kering.
Dari Estonia ke Minangkabau
World Cleanup Day pertama kali lahir di Estonia tahun 2008. Kini, gerakan itu menjalar ke lebih dari 190 negara. Indonesia termasuk salah satu motor terbesarnya, dengan jutaan sukarelawan turun setiap tahun.
Di Sumatera Barat, aksi kali ini terasa istimewa. Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Alminangkabawi dipilih bukan sembarangan. Masjid megah itu menyimpan sejarah panjang ulama besar Minangkabau yang menjadi guru para pendiri organisasi Islam modern di Nusantara.
“Membersihkan masjid ini berarti merawat warisan intelektual dan spiritual kita,” kata salah seorang panitia, sembari menyiram lantai dengan sabun cair.
Relawan dengan Sapu dan Doa
Sinar matahari yang mulai meninggi tak menyurutkan semangat para peserta. Para pemuda Muhammadiyah, ibu-ibu majelis taklim, hingga anak-anak sekolah ikut ambil bagian. Ada yang menyapu halaman, mengecat pagar, hingga membersihkan tempat wudhu.
Beberapa remaja tampak berfoto dengan latar belakang masjid, mengunggahnya ke media sosial dengan tanda pagar #WorldCleanupDay dan #WCD2025. “Biar dunia tahu, Padang ikut ambil bagian,” kata Rani, siswi SMA yang membawa seember air sabun.
Tak hanya keringat yang tercurah, tetapi juga rasa kebersamaan. Selepas bekerja, para relawan duduk melingkar sambil menyeruput teh talua yang disiapkan panitia. Obrolan ngalor-ngidul, dari isu lingkungan sampai rencana kegiatan berikutnya.
Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Menurut Al-Amin, aksi ini bukanlah pekerjaan sehari jadi. Gerakan menjaga kebersihan rumah ibadah akan terus digelorakan, bukan hanya saat peringatan WCD.
“Lingkungan yang bersih adalah bagian dari iman. Kalau kita rajin menyapu masjid, insya Allah hati kita juga ikut bersih,” ujarnya dengan nada tegas namun hangat.
Masjid Raya hari itu memang terlihat lebih berkilau. Namun yang lebih penting, para peserta pulang dengan wajah berbinar. Ada rasa puas karena telah memberi kontribusi kecil, namun bermakna besar.
Jejak yang Akan Dikenang
Di jalanan kota Padang, sabtu sore, lalu lintas kembali normal. Namun di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib, ada jejak yang tertinggal: karpet lebih harum, halaman lebih rapi, dan hati jamaah yang datang sore itu terasa lebih lapang.
Seperti kata seorang relawan tua, sambil menepuk bahu cucunya, “Nak, membersihkan masjid bukan pekerjaan sekali. Ini harus jadi kebiasaan. Karena masjid itu rumah kita, rumah Allah.”
Dan mungkin, di situlah makna sejati World Cleanup Day—bahwa bersih-bersih bukan sekadar mengangkat sampah, melainkan menyapu nurani, agar cahaya bisa lebih terang bersinar.






