Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat
Di usia yang ke-113, Muhammadiyah tidak hanya sekadar merayakan usia, tetapi juga memikul satu harapan besar yang tertuang dalam tema Milad kali ini: “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Sebuah harapan yang, dalam pidato Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., bukanlah wacana kosong. Ia adalah amanah dari masyarakat, bangsa, dan negara untuk terus memperluas usahanya mewujudkan kesejahteraan yang utuh; sosial, ekonomi, dan rohaniah.
Tema ini bagai menyentuh jantung persoalan bangsa hari ini. Ia selaras sempurna dengan tujuan fundamental berdirinya negara Indonesia: memajukan kesejahhaten umum. Namun, di saat yang sama, realitas yang kita hadapi terasa getir.
Bayang-Bayang di Balik Pesta Ulang Tahun
Di luar gegap gempita perayaan, tantangan yang mengintip justru semakin nyata dan kompleks. Ekonomi masyarakat yang terpuruk, pengangguran yang memprihatinkan, dan gaya hidup materialis-sekular telah menggerus sendi-sendi kehidupan. Praktik korupsi yang masih menjadi “penyakit kronis” semakin memperparah kondisi. Nilai-nilai luhur agama, kemanusiaan, dan budaya seakan terpinggirkan dalam deru pragmatisme.
Dalam arus inilah, Muhammadiyah berdiri di persimpangan. Setidaknya, ada empat tantangan besar yang harus dijawab:
1. Pertarungan Ideologi di Dunia Maya. Maraknya paham radikal dan sekular di era digital adalah ancaman serius. Muhammadiyah dituntut untuk menjadi benteng dengan dakwah yang moderat dan inklusif.
2. Disrupsi yang Menggerus Identitas. Perubahan sosial yang cepat dan gempuran globalisasi membuat nilai-nilai lokal dan agama rentan tergerus. Konten dakwah pun harus dijaga agar tidak kehilangan khittahnya.
3. Lunturnya Wajah Budaya Kita. Gelombang budaya global yang homogen mengancam identitas keislaman dan kebangsaan yang telah lama kita jaga.
4. Regenerasi, Bukan Sekadar Penggantian. Menjadi pertanyaan besar, bagaimana melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tidak hanya cakap, tetapi juga memiliki komitmen kuat pada nilai-nilai Muhammadiyah.
Lalu, Apa yang Harus Diperbuat?
Harapan dan tantangan itu terlalu berat jika hanya jadi wacana. Muhammadiyah harus bergerak dengan strategi yang adaptif. Beberapa upaya konkret telah dan harus terus dilakukan:
· Dakwah Beralih ke Platform Digital. Media sosial seperti YouTube dan Instagram harus dimanfaatkan maksimal bukan hanya untuk menyebarkan pesan moderasi, tetapi juga menjadi corong inspirasi bagi kesejahteraan umat.
· Pendidikan yang Menjawab Zaman. Sekolah dan universitas Muhammadiyah harus menjadi pilot project pendidikan holistik, di mana nilai keislaman, kebangsaan, dan ilmu pengetahuan berpadu dalam kurikulum.
· Ekonomi yang Memandirikan. Program seperti “Muhammadiyah Berdaya” dengan fokus pada koperasi, UMKM, dan keuangan syariah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mengangkat harkat ekonomi masyarakat.
· Layanan Sosial yang Tak Tergantikan. Keberadaan ribuan rumah sakit, panti asuhan, dan respons cepat dalam penanganan bencana adalah bukti nyata yang tak terbantahkan dari komitmen sosial Muhammadiyah.
· Kolaborasi, Kunci Menuju Skala Nasional. Muhammadiyah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi strategis dengan pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil untuk program kesehatan, pendidikan, dan lingkungan (seperti Muhammadiyah Green) mutlak diperlukan untuk memperluas dampak.
Pada akhirnya, di usia yang ke-113 ini, Muhammadiyah diingatkan pada sebuah peta perjalanan panjang. Peta yang menuntunnya untuk tidak hanya sibuk dengan diri sendiri, tetapi terus menjadi mercusuar dan lokomotif bagi terwujudnya kesejahteraan yang merata dan berkeadilan bagi seluruh bangsa. Optimisme itu masih ada, asalkan kita semua, sebagai warga bangsa, mau bergandengan tangan mewujudkannya.





